Jun 2, 2016

Sertifikasi Tukang, untuk Kinerja yang Lebih Baik


Sertifikasi Tukang, untuk Kinerja yang Lebih Baik- Saya mempunyai seorang teman perempuan, yang terjerumus dalam jurusan Teknik Sipil. Jadi, dia asal saja memilih opsi kedua jurusan yang ia pilih dengan memilih Teknik Sipil. Dalam keseharian perkuliahannya, kawan saya tersebut akrab dengan beton, bata, semen, dan alat pertukangan. Bukan hanya itu saja, tapi dia juga dituntut untuk teliti dalam menghitung jarak ini itu, bahkan dalam menggambar sekalipun. Mungkin, kedepannya kawan saya tersebut akan menjadi arsitek atau kontraktor, atau apalah yang berhubungan dengan perkuliahannya tersebut.

Setiap kali saya melihat kawan saya tersebut, saya teringat dengan tukang-tukang bangunan yang sering dipanggil ibu untuk membuat kandang bebek, membetulkan tembok di sisi pintu, atau tukang bangunan yang sering saya jumpai di rumah-rumah orang yang baru dibangun.

Saya mengenal sebagian tukang bangunan yang sering dipanggil oleh ibu. Mereka adalah tetangga saya sendiri dan sesuai dengan pengetahuan saya, mereka tak pernah sekolah di perguruan tinggi seperti kawan saya yang perempuan itu. Bahkan, sebagian dari mereka tak lulus SD. Lalu, keterampilan dalam pertukangan, mereka dapatkan dari mana?


Kita tahu sendiri, jaman sekarang orang-orang lebih percaya sesuatu di atas kertas. Stempel dari perguruan tinggi yang menjamin setiap mantan mahasiswa tersebut pernah bersekolah di perguruan tinggi. Lalu, bagaimana nasib para tukang bangunan – tetangga saya- yang tak pernah mengecap bangku perguruan tinggi? Tentunya, mereka tak memiliki sebuah jaminan yang mendasari bahwa mereka memang bisa. Mumpuni dalam pekerjaan bangunan.

Ah, toh sekadar mengaduk semen, kenapa ribet sekali?

Bukan begitu. Ada hal-hal yang memang harus diberikan standar khusus bagi mereka yang mau berkembang dan mereka yang ingin kinerjanya dihargai. Tentunya, bila pekerja bangunan atau tukang bangunan diberikan sebuah pegangan berupa skill dan bukti berupa sertifikat, orang lain tidak akan memandang rendah. Sama seperti halnya orang-orang yang lulusan dari perguruan tinggi.

Karena dasar itulah, Semen Gresik menunjukkan kepeduliannya terhadap tukang bangunan yang ada di Indonesia. Sebagai perusahaan BUMN dan satu-satunya semen yang dimiliki oleh Indonesia, Semen Gresik merasa memiliki kewajiban sosial bagi tukang bangunan di Indonesia. Untuk itu, Semen Gresik mengadakan Pembekalan Dan Fasilitas Uji Kompetensi, Tukang Bangunan Umum Menggunakan Mobile Training Unit (MTU) di Mojokerto. Acara tersebut akan dilaksanakan selama tiga hari (1-3 Juni) di Hotel Slamet, Mojokerto dan pada hari Rabu, 1 Juni 2016, merupakan pembukaan yang menghadirkan Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Propinsi Jawa Timur, Bapak Gentur Prihantoro.
Bapak Danu

Acara pelatihan tersebut disebut Edutrain, yang merupakan gagasan dari Semen Gresik dari tahun 2007- hingga sekarang dan bekerjasama dengan badan pemerintahan selama dua tahun belakangan. Selama sepuluh tahun melakukan pelatihan pertukangan yang dilaksanakan setiap tahun di berbagai daerah, Semen Gresik mendata sebanyak 11.500 tukang yang tersebar di seluruh Indonesia, yang sebanyak 5000 tukang sudah tersertifikasi.

Setiap tahunnya, Semen Gresik akan melakukan pelatihan pertukangan sebanyak empat kali. Sebelum pelatihan di Mojokerto, Semen Gresik sudah melakukan pelatihan di Pacitan dan nantinya juga akan melaksanakan di Tuban dan Sumbawa.

Nantinya, tukang yang sudah terdaftar dalam komunitas tukang Semen Gresik ini akan mendapatkan sertifikasi secara gratis dan keuntungan-keuntungan lainnya. Seperti mendapatkan nomor gratis yang nantinya bisa saling berhubungan antar komunitas tukang di Indonesia. Semen Gresik menyediakan call center untuk para tukang yang ingin belajar terus mengenai pertukangan, sehingga tidak hanya mengacu pada kelas singkat yang diadakan oleh Semen Gresik.

“Sebanyak 24% kontribusi diberikan oleh daerah Mojokerto, Gresik, dan Surabaya. Itulah, kenapa kami memilih Mojokerto,”tutur Bapak Danu selaku Kasi Komunikasi Pemasaran Semen Gresik.
Kami juga bertanya, apa kendala yang dialami oleh Semen Gresik dalam acara pembekalan tukang bangunan ini. Bapak Danu menjelaskan, kendalanya adalah ketika melakukan perekrutan anggota, karena mereka sulit dalam menyampaikan informasi langsung kepada masyarakat. Dalam perekrutan pihak Semen Gresik dibantu oleh BPMD (Badan Pemasyarakatan Daerah) guna mengumpulkan data tukang bangunan di daerah masing-masing.

Dalam perekrutan pun, Bapak Danu tidak asal merekrut orang. Para tukang yang mendaftar pun, harus melakukan interview. Yang unik adalah, mereka harus berjabat tangan agar pihak Semen Gresik tahu kalau mereka benar-benar tukang bangunan. Sehingga, mereka tak serta merta langsung lulus karena harus melakukan serangkaian uji kompetensi dan ujian lainnya.

Para Tukang Bangunan saat pelatihan di Hotel Slamet

“Di negara Malaysia, tukang pun harus bersertifikasi. Jika, mereka tahu kalau tukang tersebut tidak bersertifikasi, maka ditolak,”kira-kira begitu kata Bapak Bapak Gentur Prihantoro, selaku Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Propinsi Jawa Timur.

Bapak Gentur Prihantoro

Pelatihan Edutrain merupakan pelatihan untuk sertifikasi, yang nantinya para tukang tersebut mempelajari cara pemasangan bata, pemasangan kusen, pembuatan kolom-kolom beton (bekisting).

Dengan adanya pelatihan tukang dan tukang bersertifikasi ini, mereka akan bisa bersaing dengan negara-negara ASEAN yang belakangan kita sudah dihadapkan dengan MEA. Selain itu, diharapkan dengan adanya tukang bersertifikasi kinerja tukang semakin memadai dan bertanggung jawab dengan apa yang mereka kerjakan.

“Orang yang bersertifikat adalah orang yang kerjanya baik,”ujar Bapak Gentur Prihantoro.


18 Comments:

  1. tukang bangunan masa kini kudu cerdas dan cekatan ya.... kereeennnn

    ReplyDelete
  2. Semen Gresik luar biasa nih kepedulian pada peningkatan mutu SDM Indonesia. top deh.

    ReplyDelete
  3. Keren nih Semen Gresik! Jadi mereka gak sekadar jual produk ya.. tapi sekalian ngasih pelatihan untuk mereka yang pastinya akan banyak berinteraksi langsung dengan produknya.

    ReplyDelete
  4. Wow tukang bangunan juga sekarang persaingannya ketat ya

    ReplyDelete
  5. Semen Gresik, keren.

    Memperhatikan sekali... dan sertifikasi tukang juga berguna untuk menghadapi MEA...

    ReplyDelete
  6. wah mantap dah lama" para tukang ini bakal terferivikasi....

    ReplyDelete
  7. Keren y semua profesi sekarang dituntut sertifikasi. Nice info mba nambah pengetahuan lg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak, saya juga baru tahu dari acara tersebut.

      Delete
  8. Kadang tukang bangunan yang kerja di perumahan-perumahan itu suka asal, rumah masih baru sudah mulai retak-retak temboknya. Kayaknya memang perlu deh, tukang bangunan harus punya sertifikasi

    ReplyDelete
  9. Tukang - tukang hebat harapan bangsa Indonesia :)

    ReplyDelete
  10. Aku tuh selalu takjub dgn hasil kinerja tukang2, bisa menyulap suatu bangunan menjadi luar biyasak. Padahal mereka nggak pernah mengikuti pelatihan, pun memiliki sertifikasi.

    Gak kebayang gimana kerennya Indonesia kalo mereka nanti sudah dibekali pelatihan plus sertifikasi. Dan dengar2 negara tetangga ini pun mengakui, kalau mereka nggak akan semaju sekarang, tanpa jasa para TKI dari Indonesia (ya tukang-tukang keren itu lah).

    Tfs 'Lan, salut dengan komitmen Semen Gresik untuk Indonesia.

    ReplyDelete
  11. Tukang sekarang pendapatanya tidak se imbang dengan biaya hidup...kalau di bandingkan demgan jaman sebelum krismon..thn 1996 upah tukang sehari di belikan beras dapat 23 kg.. ( 15000 : harga beras 650 rupiah perkilo...

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^