Jul 20, 2016

Cara Mengatur Keuangan Freelance, ala Wulan Kenanga

taken from pexels.com


Cara Mengatur Keuangan Freelance, ala Wulan KenangaMemilih bekerja freelance bukan berarti, kamu tidak bisa mengatur keuanganmu loh. Justru karena keuangan setiap bulannya tak tidak stabil – kadang kaya raya, kadang miskin sengsara -, kita kudu jago dalam mengurus keuangan. Bukan berarti karena keadaan keuangan kita tak stabil, kita bisa melepaskan keinginan untuk menabung demi masa depan.

Sedikit cerita, ketika saya kuliah, saya mempunyai seorang kenalan. Dia bekerja di sebuah toko dengan gaji Rp. 700.000 perbulan. Dia mengeluh, bahwa gaji segitu tak cukup untuk ditabung. Kala itu, saya bertanya, “Masa, nggak bisa sih, Mas?” Ya, saya heran, karena bagi saya uang 700rb itu banyak, terlebih lagi bagi mahasiswa yang setiap Minggunya mendapat jatah 100rb ini.

Masa sekarang, ketika saya memiliki uang lebih setiap bulannya, saya baru mengerti bahwa uang 700rb itu sedikit. Tak bisa ditabung. Uang pulsa, uang internet, jajan, buku, makeup dan keperluan wanita lainnya. Padahal, saya masih numpang di rumah orangtua. Makan tidur ya orangtua yang menanggung. Saya berpikir, sebenarnya uang 700rb itu sedikit karena memang sedikit, atau saya yang boros?


Di sisi lain, ketika saya melakukan interview, saya berbincang dengan salah satu kandidat. Dia bekerja sebagai admin di sebuah toko di Mojokerto. Jam kerjanya, gila. Dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Lalu, saya bertanya berapakah yang ia dapat. Ia berkata, satu juta duaratus. What?

Bukannya apa-apa, dengan jam kerja semacam itu mendapatkan penghasilan setiap bulan tidak sampai dua juta bahkan tidak sampai satu setengah juta, membuat saya berpikir. Apakah pantas? Dan, tentunya dengan pengahsilan demikian, teman baru saya itu hanya menghabiskan penghasilannya sebesar 400rb. Keren, kan?

Dari cerita-cerita tersebutlah, saya memikirkan bagaimana cara saya mengatur keuangan saya sendiri. Berapapun penghasilan yang saya dapatkan setiap bulannya, tidaklah penting. Yang terpenting adalah, setiap bulan saya bisa menyisahkan uang untuk ditabung. Yes?

Jadi, begini saya mengatur keuangan saya.

Membuat Dua Buku Tabungan atau Dua Rekening


Hal ini saya lakukan secara tidak sengaja. Awalnya, saya memiliki tabungan Bank BNI, kemudian dengan suatu alasan saya memiliki tabungan BCA. Sebelumnya, saya pernah mendengar sebuah acara mengenai keuangan untuk keluarga. Di dalam keluarga, sebaiknya suami dan istri memiliki buku tabungan masing-masing,  dan satu buku tabungan untuk bersama. Buku tabungan bersama itu, dibuat untuk keperluan bersama atau bila memiliki bisnis bersama. Dari situlah saya berpikiran untuk membagi keuangan saya. Yaitu, satu menjadi buku tabungan – dalam artian saya hanya boleh mengisinya, tanpa melakukan penarikan – kedua saya memakainya untuk transaksi.

Buku tabungan yang saya jadikan tabungan adalah di buku tabungan Bank BNI karena rekening Bank BNI saya hanya bisa diakses dengan kartu ATM dan dengan mendatangi langsung ke bank bersangkutan. Sehingga, jika dijadikan sebagai rekening transaksi, akan menyulitkan bagi saya. Untuk itu, rekening Bank BCA lah yang saya jadikan rekening transaksi, karena saya bisa mengaksesnya melalui internet untuk melakukan transaksi. Alasan lainnya adalah kebanyakan klien memakai Bank BCA untuk bertransaksi, sehingga pas sekali.

Sudah selama tiga bulan terakhir, setiap akhir bulan saya menarik uang dari rekening BCA kemudian saya pergi ke Bank BNI. Kenapa? Tentunya, saya mau menabung dong. Kan bisa transfer langsung dari BCA, kan. Takut kena potongan? Bukan. Alasan utama kenapa saya melakukan hal tersebut adalah untuk menghargai diri saya sendiri. Biar saya berasa kerja di luar rumah, mendapatkan gaji cash dan saya tabung. Haha.


Berbelanja Dengan Kartu ATM/Debit


Percaya atau tidak, seringkali di dompet saya hanya ada uang 50rb saja. Sukur-sukur ada 100rb. Kalau ada sampai 200rb itu, sudah wah sekali. Memangnya saya nggak punya duit? Punya. Tapi duitnya di ATM. Saya lebih suka mengambil uang ketika saya butuh, daripada uang banyak di dalam dompet padahal saya lagi tidak butuh. Kenapa begitu? Karena saya ini tidak tegaan. Kalau ada uang di dompet, ada saja hasrat ingin membeli sesuatu. Xoxo. Jadi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya melakukan cara tersebut.

Selain cara di atas, saya juga lebih sering membeli sesuatu dengan kartu ATM dengan catatan saya berbelanja di swalayan yang menyediakan pembayaran dengan ATM. Saya melakukan hal ini, karena saldo yang akan terpotong atau uang yang akan terpotong nantinya akan sesuai dengan jumlah yang saya butuhkan. Misalnya, total pembelanjaan saya 38rb, sehingga itulah yang harus saya bayar. Sedangkan, kalau saya melakukan penarikan tunai, minimal saya harus mengambil 50rb. Nah, nanti 12rb-nya mubazir dong. Dan, pastinya akan hangus karena membeli sesuatu yang tak saya inginkan.


Catat Kebutuhan (Bukan Keinginan) Selama Satu Bulan Kedepan


Sejujurnya, saya jarang melakukan hal ini. Karena kebutuhan saya selama satu bulan tidak banyak. Palingan makeup atau perintilan perempuan lainnya. Kalau masalah baju, buku, dan jajanan luar merupakan hal yang masuk dalam daftar keinginan. Sebenarnya, buku ingin saya masukkan ke dalam daftar kebutuhan, tapi terkadang saya masih memiliki buku yang belum saya baca. Sehingga, daftar kebutuhan saya paling ya pulsa internet.

Cara ini terbilang efektif lantaran kita tahu, apa yang akan kita beli dan berapa uang yang harus kita keluarkan untuk kebutuhan tersebut. Dengan begitu, sisanya bisa kita masukkan ke rekening tabungan.

Buang Kartu Kredit


Huaaa, kalau ini mah bukan saya banget. Saya memasukkan ke dalam artikel ini, saya tujukan untuk teman-teman yang memiliki kartu kredit. Kalau benar-benar ingin berhemat, mending tidak pakai kartu kredit. Alasannya jelas, teman-teman pengguna kartu kredit lebih paham. Kita sebagai manusia cenderung memiliki pemikiran, dipikir nanti, deh. Nah, yang memiliki pemikiran semacam itu, mending tidak usah pakai kartu kredit. Ya, tentunya kalau memang benar-benar butuh ya, monggo.

Butuh Liburan? Cari gratisan!


Kelihatan tidak tahu malu? Jangan salah dulu. Mencari liburan gratisan bukan berarti kita maksa pemilik tempat liburan untuk memberikan tiket masuk gratis. Bukan. Tapi, kita mencari tempat-tempat wisata yang bisa kita nikmati secara gratis atau hanya dengan membayar uang masuk yang murah. Sehingga, dengan begitu kita bisa berhemat sekaligus bisa liburan.

Beberapa tip di atas kebanyakan sudah saya praktikan, kecuali mengenai kartu kredit. Ya, karena saya belum mempunyainya dan tidak berencana untuk punya. Saya takut kebablasan. Orang punya ATM saja saya takut bolak balik tarik tunai, apalagi kalau punya kartu kredit yang tinggal gesek, dipikir nanti? Errr.

Mari menerapkan hidup hemat, meskipun pendapatkan kita tidak besar. Saya percaya, berapapun pendapatan kita, kita pasti bisa menyisihkan sedikit penghasilan untuk ditabung. Okelah, kalau tidak untuk masa depan, depannya lagi. Paling tidak, kita punya uang cadangan atau uang lebih untuk membeli sesuatu nantinya.

Misalnya, membeli laptop agar tidak meminjam laptop adik terus? *ngaca

xoxo,
Wulan K.


3 Comments:

  1. Semenjak gak bekerja kantoran penghasilanku tiap bulan sbg freelance ga tetap dan blm sebesar mba wulan, malah kadang ga ada cuma adanya kiriman dr suami XD... Maka kl dapet transferan aq habiskan semuanya hahaha... Buat tambah2 beli vitamin dan susu hamil...

    Nantilah, kl penghasilannya sebesar pas bekerja dl baru deh ditabungin hihi...

    ReplyDelete
  2. ga nyimpen uang didompet efektif banget mbak:-)

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^