Aug 27, 2016

End Your Comfort Zone



Life begins at the end of your comfort zone
- anonymous

Entah siapa yang menulis quote di atas. Saya menemukan quote tersebut di Pinterest, ketika memang berniat mencari quote-quote bagus untuk properti foto. Ya, baru-baru ini saya membeli alas foto dan bunga-bunga untuk properti, lalu saya gabungkan dengan quote-quote yang saya cari di internet.
Maklum, saya nggak jago lettering maupun membuat quote bagus – terlebih lagi dalam bahasa Inggris.

Back to topic.


Intinya, quote tersebut menyentil saya keras-keras. Bahkan, hati saya berusaha menolak keras-keras quote tersebut. Kenapa? Karena quote itu benar. Sangat benar malahan.

Kemudian saya berpikir, apakah setiap orang yang membaca quote di atas juga merasakan hal yang sama? Seringkali, comfort zone ditujukan pada orang-orang pekerja kantoran. Eh, nggak pengen resign? Terus buka usaha gitu? Nggak bosen jadi bawahan terus? Sekali-kali dobrak zona nyaman.
Nah lalu, untuk pekerja freelance  seperti saya, yang dikatakan tidak menjadi bawahan pun tidak menjadi atasan, apakah juga harus keluar dari zona nyaman?

Ehm, berarti zona nyaman setiap orang itu berbeda-beda. Atau justru, sebenarnya zona nyaman yang selama ini kita kira demikian, sebenarnya bukan zona nyaman sama sekali? Buktinya,kita bosan dan ingin ada perubahan.

*ribet*

Actually, kehidupan itu harus ada perubahan. Zona nyaman bukanlah hal yang harus dihindari karena semacam setan yang harus dibunuh, tetapi lebih pada perubahan. Bosan juga hidup yang tak ada perubahan sama sekali. Setiap hari lihat tembok melulu.

Sama seperti kehidupan saya. Setiap hari saya bangun tidur, melamun, cek hp (padahal nyawa belum lengkap, sempet-sempetnya cek hp), melakukan beberapa hal, bikin kopi, nyalahin laptop, cek email, negosiasi dengan klien, desain blog (kalau ada), menulis artikel (kalau ada), buka facebook, nonton drama, baca buku, belajar motret. Kemudian, semua kegiatan itu diulang-ulang setiap hari.

Semua kegiatan itu pun tak setiap hari saya kerjakan. Kalau ada job ya dikerjakan, kalau tidak ada ya melamun atau nonton drakor  atau juga motret-motret bikin flat lay agar instagram keisi. Bisa dibilang, kehidupan saya lebih banyak nganggurnya. Mau ngemol juga molnya jauh (dan baru dibangun), hangout sama temen juga di sini nggak punya temen.

Bisa merasakan bagaimana bosannya hidup saya?

Itulah alasan kenapa saya ingin keluar dari zona nyaman. Saya terlalu muda dan terlalu tak punya pekerjaan bila waktu saya, saya habiskan di rumah saja.
Rasanya saya kayak nggak hidup.

Sebenarnya sih, ada rencana membuat sebuah media online yang membahas mengenai perempuan, sudah beli domain juga. Tapi, belum saya isi. Saya masih ragu-ragu mengenai kehidupan. Halah.

Kalau boleh jujur, saya ingin tinggal di Jogja. Di sana banyak orang-orang kreatif dan saya yakin akan mampu membangkitkan semangat saya yang luntur. Tapi, ada pikiran-pikiran yang di mana saya harus siap menghadapi orang (saya perlu belajar itu). Pikiran itu benar-benar menakutkan, tahu sendiri saya introvert


Jadi, siap keluar dari zona nyaman?

2 Comments:

  1. Merantau aja, mba. Nanti juga nemu ritme kerja yang baru dan pertemanan baru. Nggak ada salahnya kenal dengan orang lain :)

    ReplyDelete
  2. Mbak Wulan introvert? :). Coba ikut-ikut kegiatan kemasyarakatan Mbak, biar sedikit berwarna. Daaaan bener kata Mbak Ila, coba merantau. :). Saya juga sering ngerasa comfort zone, banget, nget. Apalagi saya pekerja kantoran yang jadwalnya gitu2 aja dari senin-jumat. Hidup terlalu comfort itu emang bikin kita terbuai dan nyaman ya, sampe lupa buat ngambil tantangan yang lebih besar. Nah, saya juga sedang proses pengen keluar dari zona itu, dengan berkarya Dan berusaha berbagi banyak dgn yang lain. #lah malah curhat :D

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^