Oct 18, 2016

Mendulang Rezeki, Minggu Pagi, di Tugu Pahlawan Surabaya



Mendulang Rezeki, Minggu Pagi, di Tugu Pahlawan Surabaya Saya hampir lupa, saya mempunyai pengalaman berjualan di pasar Minggu pagi di Tugu Pahlawan, Surabaya. Pengalaman tersebut saya alami ketika masa kuliah, ketika masih dalam masa-masa bahagia bersama kawan-kawan saya.

Saat itu, saya dan beberapa teman sekelas membuat rumah produksi kreasi kain flanel. Kami menjualnya via online (saat itu, online shop belum menjamur seperti sekarang ini) dan via offline. Kami menamai toko online kami D’BfrendShop. Ketahuan masih jaman alay banget ya?





D’BrfendShop beranggotakan sembilan orang, meskipun pada akhirnya gugur satu persatu sampai akhirnya tinggal beberapa orang saja. Kami selalu berkumpul setiap hari Kamis, usai mata kuliah yang hari itu hanya ada satu mata kuliah. Terkadang kami berkumpul ketika hari sedang tidak ada kuliah. Kami berkumpul di indekos saya.

Kreasi kain flanel, kami memproduksinya sendiri. Membuat pola, menggunting, menjahit, dan semuanya sendiri. Kami pun tak butuh kursus untuk membuat produk tersebut. Kami belajar otodidak, meskipun hasilnya tidak selalu memuaskan.

Setelah bekerja cukup lama, beberapa pesanan datang. Entah dari dunia maya maupun dunia nyata. Tidak banyak. Hanya satu dua biji. Kami pun bahagia. Hari demi hari, produk kami semakin banyak. Kami pun memikirkan cara lain untuk berjualan.

Sampai akhirnya, kami membuat rencana untuk menggelar lapak di TP pagi. Pikir kami, ah pasti akan banyak pembeli nantinya. Wajar saja kami berpikir demikian, karena kami melihat pengunjung TP pagi atau Tugu Pahlawan ketika Minggu pagi sangat-sangat ramai. Di sana pun banyak penjual yang menggelar jualannya di sepanjang jalan Tugu Pahlawan. Mulai dari barang bekas, barang baru, nasi pecel, apa pun ada. Tumpah ruah. Makanya, kami berencana ke sana Minggu pagi.

Terkadang Ekspetasi Jauh dari Kenyataan




Kami mendapat informasi dari salah satu teman, kalau mau jualan di TP pagi itu harus datang pagi-pagi. Lebih pagi dari pembeli yang akan datang, tentu saja. Makanya, saat itu kami berangkat pagi sekali. Membawa selembar karpet merah yang biasanya kami buat setrika, barang dagangan yang sudah dikemas plastik, dan selebaran.

Sampai di sana, kami berjalan berkeliling. Menempati lahan kosong di jalan trotoar. Kemudian menunggu. Sebenarnya, apa yang sedang kami lakukan? Kami menunggu diusir!

Jadi begini, di sepanjang jalan trotoar yang mengelilingi Tugu Pahlawan itu, sudah banyak orang yang memiliki tempat masing-masing. Sehingga, kami tak bisa serta merta menempati lapak orang lain dan kemudian akhirnya bertengkar. Tidak. Kami tidak siap. Maka, kami melakukan hal ini: ada lapak kosong, tempati, menunggu, kemudian diusir. Jalan lagi, ketemu lahan kosong, menunggu, kemudian diusir. Begitu terus. Sampai akhirnya, kami menemukan tempat. Bukan lahan kosong sebenarnya, tapi kebetulan yang biasa dagang di situ sedang libur. Salah seorang penjual mainan di sebelah kami yang memberitahu.

Fiuh.

Kami pun mempersiapkan barang dagangan kami. Menata barang-barang di atas karpet merah yang biasa kami buat setrika di kos – kalau tidak salah ini punya Ella. Setelah selesai menata, di saat itu pula pengunjung Tugu Pahlawan mulai ramai.




Ada beberapa teman saya, Retno, Yuli, Ella, dan Watis menunggui tempat jualan. Sedangkan saya dan Dina bertugas berkeliling Tugu Pahlawan sembari membawa selebaran yang berisi foto produk kami dan nomor telepon. Sebagai informasi, selebaran tersebut kami buat dari kertas folio yang diprint biasa. Ngeprint kertas pun di rumah Dina secara gratis.

Meskipun pagi, Tugu Pahlawan panas. Terlebih lagi banyak pengunjung berdesakan. Saya dan Dina berkeliling, menyetop orang dan memberinya selebaran. Usai selebaran kami habis, kami kembali ke tempat dagangan.

“Sudah ada yang laku?”tanyaku. Mereka menggeleng. Lucu saja sih, kami berjualan dengan satu lapak dan penjualnya banyak. Xoxo. Akhirnya, saya membuat tulisan harga dagangan kami dan meletakkan di tepi dagangan. Taktik agar orang lain mau mampir sekadar bertanya dan akhirnya membeli.

Beberapa saat kemudian, Della salah satu anggota D’BfrendShop pun datang bersama pacarnya. Pacar si Della bilang kagum dengan kami karena bisa mendapatkan tempat jualan di Tugu Pahlawan. Dari dia kami tahu, bahwa mencari tempat jualan di sini penuh perjuangan. Dari pengalaman ini pun saya tahu, penjual di Tugu Pahlawan harus setor pajak juga.

Akhirnya, ada juga yang membeli dagangan kami. Saya lupa berapa, tapi tidak hanya satu buah. Yang lucu adalah kami tidak mempunyai tas kresek untuk pembeli yang membeli lebih dari satu. Kami sama sekali tidak memikirkan hal itu. Xoxo.

Mau bagaimana lagi, kami hanya berpikir satu orang akan membeli satu buah. Paling-paling gantungan kunci. Nyatanya, tidak.

Kami pun menggulung lapak sebelum waktu pasar Tugu Pahlawan bubar, agar kami bisa berjalan-jalan. Ya, meskipun saat itu dagangan kami tidak laku banyak, paling tidak kami punya kenangan bersama dan yang terpenting, saya memiliki cerita menyenangkan yang bisa dibagi dengan kalian.

Love you, Guys. Miss you all.


3 Comments:

  1. jadi mengingatkan masa-masa kuliah dan masa-masa sahabatan Mbak. :)

    ReplyDelete
  2. pengalamannya itu yang mahal ya :)
    sampai sekarng apa masih kontak dengan teman teman?

    ReplyDelete
  3. halo kak gimana ya caranya jualan di tugu pahlawan

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^