5 Mar 2017

Saat Sesuatu yang Kamu Cintai, Mulai Membuatmu Jenuh



Saat Sesuatu yang Kamu Cintai, Mulai Membuatmu Jenuh Bagi saya, menulis merupakan bagian dalam hidup. Sejak mengenal dunia literasi, saya terus menerus menekuninya. Belajar lagi dan lagi. Awal mula, saya menulis fiksi: puisi, cerita pendek, kemudian novel. Setelah mengenal dunia blogger, saya mulai belajar menulis non-fiksi. Dari menulis pula, saya mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup setelah ditolak perusahaan sana sini.

Beberapa bulan yang lalu, saya masih memiliki motivasi tinggi serta kepercayaan diri dengan pekerjaan saya ini. Saya sangat menikmatinya dan mencintai pekerjaan ini. Sayangnya, sejak awal tahun ini, saya merasa tersesat. Seakan-akan, cinta saya terhadap dunia kepenulisan tak pernah ada.

Entah apa yang terjadi dengan saya. Sebelumnya, saya tak pernah seperti ini. Bahkan, keinginan untuk membaca pun luntur. Novel-novel dari penulis kecintaan pun tak mampu membangkitkan gairah saya. Fiksi maupun non-fiksi, tak bisa membuat saya kembali bersemangat.


Tak ada yang salah dengan pekerjaan sekaligus hobi saya ini. Sama sekali tidak ada. Saya pun percaya, saya masih mencintainya. Masih ingin terus bergelut dengan dunia ini. Karena, saya merasa memang di sinilah saya harusnya berada. Tapi, ada sesuatu yang membuat saya mulai meragu. Sesuatu mengenai kepantasan dan masa depan. Benar-benar memuakkan.

Mau tak mau, saya mulai memikirkan pandangan orang lain mengenai profesi yang saya geluti, terutama di mata lelaki. Yah, saya mulai meragu akan ada seseorang yang mencintai saya dengan segala hal yang saya miliki, salah satunya menjadi seorang freelance. Terlebih lagi, usia mulai menginjak menuju angka 30. It’s scary me.

Saya yakin, tak hanya saya yang pernah merasakan hal ini. Di luar sana banyak sekali wanita yang merasakan hal serupa. Akan tetapi, sebenarnya jalan ini sudah saya pilih. Seharusnya, saya harus bangga dengan pilihan saya tersebut, bukan malah menjadi minder dengan pilihan hidup saya sendiri.
Jadi, apa yang sebenarnya yang saya inginkan dalam hidup?

Stigma sosial yang terjadi di Indonesia, benar-benar mempersulit kami – para perempuan. Seakan-akan menjadi perempuan lajang sampai usia 30 adalah perbuatan tercela dan harus dikucilkan. Pun dengan pekerja lepas, bekerja di bidang kreatif yang dipandang sebelah dan tak mampu menghidupi. Padahal, sebenarnya berapapun penghasilan bulanan kita, akan terus merasa kurang apabila keinginan kita terus menerus tumbuh.

Tak memiliki masa depan yang cerah, begitulah kata orang. Tapi, memang siapa sih yang bisa menjamin masa depan? Negara? Orangtua? Atau justru dukun? Tak ada. Tak ada yang bisa menjamin masa depan, kecuali Tuhan.

Salah saya: saya hidup dalam “kata orang” yang perlahan membuat saya terbunuh.

“Listen to me,”kata Mbak Tikha.”Jangan terlalu memikirkan omongan orang. Or it will kill you.”

Bodohnya saya, saya masih peduli apa kata orang dan membuat saya down apabila pendapat mereka berseberangan jalan atau justru mereka memang benar-benar menghina keadaan saya.

Untuk saat ini, saya masih berada di titik terendah (lagi) dan saya akan mencoba bangkit kembali. Untungnya, untuk menuliskan curhatan di blog ini, saya masih memiliki tenaga yang tersisa. Saya bersyukur. Itu artinya, kecintaan saya akan pilihan saya masih ada. Hanya saja, mulai sekarang saya akan mencoba berjalan perlahan sampai akhirnya saya akan memiliki semangat kembali.


Doakan saya.