Tips Memotret Makanan Kaki Lima ; Street Food Photography

by - 12.54


Tahun 2017 lalu, saya mencoba peruntungan di dunia fotografi, khususnya dalam bidang makanan. Pengalaman pertama saya sebagai freelance food photography pun pernah saya bagikan dalam blog ini. Dari hal coba-coba tersebut, saya diangkat sebagai pekerja tetap food photographer, kemudian saya...

resign.

Hehe.

Tak usah ditanyakan alasan saya berhenti menjadi pekerja tetap, kamu pasti tahu alasannya kenapa. Pekerja tetap artinya selama 24 jam 7 hari saya bekerja untuk orang lain – serius, setiap hari? Yah. Serius. 

Baik, lupakan rasa penasaran kalian mengenai hal ini, karena apa yang saya bagikan di sini bukan mengenai hal tersebut. Alhamdulillah, meskipun saya keluar dari pekerjaan keliling Surabaya untuk memotret itu, sampai sekarang saya masih bergelut di dunia yang sama. Tidak setiap hari seperti dulu, namun masih sering. 

Paling tidak, dua minggu sehari saya pergi kuliner bersama kawan jebolan perusahaan yang saya tinggalkan.

Sori, saya malas sebutin nama, nanti dia terkenal. Oh tidak!

Selama saya menjadi fotografer makanan, tentu saja saya lebih banyak berada di jalanan daripada di studio untuk memotret makanan, karena memang perusahaan yang saya tumpangi juga nggak punya studio foto, apalagi properti foto. Sehingga, saya dituntut kreatif dalam memotret hanya bermodalkan Etro – dan sedikit rasa tak tahu malu.

Serius lho, untuk menjadi food street photographer kamu harus membuang jauh-jauh rasa malumu. Apalagi, kamu berjalan sendirian hanya dengan tas punggung dan kamera saja. Kamu akan bertemu dengan banyak orang asing selama menjalani pekerjaan kamu dan yang jelas kamu akan tua di jalan ~ haha.

Baiklah, di bawah ini beberapa hal yang harus kamu perhatikan untuk memotret makanan kaki lima atau memotret untuk food street.


Tips Memotret Makanan Kaki Lima atau Food Street Photography

Sop Lodeh Bogowonto

Perlu diketahui, saya tidak mengurutkan aturan-aturan atau tips di bawah ini ya, jadi terapkan sesuai kebutuhan dan diingat-ingat saja harus melakukan hal apa terlebih dahulu. 

Tentukan Sudut Pandang yang Menggugah

Hal yang saya pelajari ketika masuk dalam perusahaan ini adalah bagaimana mengambil sudut pandang foto makanan agar menggugah yang melihatnya. Meskipun mereka tidak ikutan makan, buatlah mereka ingin memakannya hanya dengan melihat foto

Sulit?

Gampang-gampang sulit sih, hehe.

Jadi, ketika memotret lihat dulu mana bagian yang kira-kira bikin orang lain ngiler. Tempatkan dirimu sebagai penikmat foto, bukan sebagai fotografer. Dari makanan yang ada di depanmu, mana yang membuat kamu kelaparan walau sekadar melihatnya saja. Terutama, ketika kamu memotret nasi campur.

Pengalaman saya ketika memotret nasi cumi nasi hitam putih, saya harus menampilkan hal pertama yang orang lihat dari tampilan si nasi cumi. Maka, saya harus mengambil cumi pada bagian depan sehingga pertama kali orang yang lihat adalah si cumi. Tentu, antara nasi, tahu dan cumi-cumi pasti lebih menggugah selera si cumi, kan?

Nasi Cumi Pasar Atom Hitam Putih


Cari Lokasi yang Dihujani Cahaya

Pasta Kangen
Kamu tidak akan selalu menemukan tempat yang dipenuhi cahaya untuk bisa mendapatkan foto jernih, tidak blur, dan cerah. Untuk itu, kamu harus mencari tempat yang dihujani cahaya. Katakan kamu ke restoran yang lampunya remang-remang dan di dalam mal. Ditambah lagi, tidak ada jendela di restoran tersebut. 

Untuk itu, kamu bisa membawa makanan itu keluar restoran, cari cahaya putih. Kalau tidak menemukan tempat seperti itu dan terpaksa memotret di dalam restoran, maka carilah yang dekat lampu. 

Saya lemah ketika memotret dalam keadaan gelap, sungguh sampai sekarang belum bisa menemukan formula yang pas. Apalagi ketika malam hari, ruangan gelap cahaya remang-remang. Saya menyerah.
Kalau kamu terniat sekali, bawa lighting sendiri, hehe.

Selalu Kepo Akun-akun Kuliner, Terutama Akun Kuliner Food Street Photography

Ketika menjadi freelance food photographer saya disarankan Koko untuk kepo akun-akun kuliner, terutama yang street food seperti akun Kokobuncit, dll. Dengan sering kepo akun mereka, selain bisa mengetahui gaya memotret mereka- bagaimana membuat orang lain ngiler – pun saya akan tahu mana kuliner enak dan baru di Surabaya.

Yah, menjadi food photographer yang mengejar konten adalah harus up to date dalam mencari konten dan kuliner baru. 

Ketika di lokasi pun, kamu bisa mencari referensi memotret mi, pempek, dll dengan melihat akun-akun kuliner di Instagram mau di internet. Intinya, kamu memotret sekaligus belajar bagaimana mengambil sudut pandang makanan yang menggugah selera.

Belajar Menata Makanan dan Asah “Kepekaan”

Pengalaman nih, foto di buku menu tak melulu sama dengan sajian yang datang. Jadi, selain kamu harus jago memainkan kamera, kamu harus sedikit banyak tahu platting makanan yang bagus seperti apa. 
Sticky Rice Thai Street

Saya pernah memesan ketan durian ala Thailand di salah satu restoran di Surabaya. Pada buku menu, duriannya ditaruh di wadah kecil. Kenyataannya, ketika terhidang di depan saya, duriannya disiram dengan santan bersamaan dengan ketannya. Jadinya, duriannya tertutup, hehe.

Ketika saya ke Kizuna Sushi, di sana saya kesulitan untuk memotret sushi yang berjajar lurus. Untungnya, ada beberapa fodies yang membantu saya. Mereka mengatur sushi tersebut, sehingga terlihat lebih menarik di frame kamera. 

Tidak semua platting dari restoran itu sesuai dengan frame kamera dan selera kita, sehingga kamu harus tahu bagaimana cara platting makanan, sehingga tidak kebingungan seperti saya. Haha.

Cari Background di Sekelilingmu

Untuk beberapa makanan, kamu memerlukan background yang tepat. Apalagi, kalau kamu memotret minuman dan itu HANYA SATU! Pasti akan sulit mendapatkan foto yang bagus dan cantik. 
KOI Ciputra World


Untuk foto makanan, kamu bisa menggunakan botol sambal, kecap, atau minuman untuk background-nya. Untuk hal ini, masih dibilang aman-aman saja. Tapi, kalau kamu membeli minuman seperti KOI, Chatime, dll carilah background di sekeliling kamu. 

Ketika antre membeli minuman KOI bertepatan dengan mendekati Hari Natal, saya menjadikan pohon natal di mal untuk background. Kamu juga bisa mencari background putih atau tembok. Saya pernah menggunakan tembok untuk background churos dan hasilnya lumayan cakep.

Kamu pernah menemui piring makanan yang begitu lebar? Nah, kamu bisa nih mensiasatinya dengan mencari background tekel yang lucu dan di foto dari atas. Untuk ini, kamu membutuhkan bantuan untuk memegang piring tersebut.
Tekwan Pempek Farina

Minta Bantuan Orang di Sekitarmu, Paling Aman sama Kang-Kang Jualan

Adakalanya kamu memerlukan orang lain ketika memotret makanan, seperti yang saya katakan untuk memegang makanan dan kamu memotretnya. Atau ketika orang tersebut menyiapkan makanan yang kamu pesan dan gerakannya terlalu cepat, kamu bisa meminta dia untuk berhenti, sehingga terlihat dia sedang bekerja dan fotomu tidak ngeblur.
Hulala Marvel

Hand in frame juga menarik sekali untuk diabadikan, untuk itu kamu perlu bantuan orang lain. 

Selalu Bawa Tisu!

Sangat disarankan untuk membawa tisu, bagi kamu food street photographer karena banyak hal yang terjadi ketika kamu memotret. Terkadang ada hal kecil yang luput dari perhatian, seperti sambal yang tercecer di tepi piring, meja basah, tangan kotor, dll. Memang sih, terkadang kamu mendapatkan tisu dari restoran, tetapi kalau sedang beli cilok pinggir jalan, bagaimana?

Hal kotor atau tidak tertata apik pada foto makanan kamu, sungguh bisa membuat kamu gondok berhari-hari lho. Maka, kamu harus lebih peka mengenai estetika foto makanan ini ya, jangan sampai ada lalat yang hinggap dan kefoto. 

Fiuh.

Editing; kurangi warm

Salah satu hal yang sering diprotes sama Koko (atasan) adalah mengenai tone foto makanan. Menurutnya foto makanan kuning nggak menggugah selera sama sekali. Sedangkan tidak semua tempat memiliki lampu putih, justru beberapa resto pakai lampu kekuningan biar lebih nyaman dan adem. Untuk itu, perlu dilakukan editing.

Menurut rekan kerja saya, editing untuk foto kuning adalah mengurangi “warm” dari foto tersebut. Kamu juga harus belajar beberapa skill editing foto untuk foto makanan kamu.

Fotografi itu mengenai rasa dan selera, sehingga pendapat setiap orang berbeda-beda. Jadi, inilah tips memotret makanan kaki lima, dari apa yang saya pelajari selama ini.

You May Also Like

27 comment so far

  1. Bawa tissue. Note.
    Hand in frame ini seolah gampang ya. Aku pernah coba, pakai tangan suami sendiri. Tapi dasar akunya kurang skill di food photography, jadinya hasilnya menurutku biasa banget. Haha

    BalasHapus
  2. Kece mba tipsnya jd lebih semangat nh belajar fotonya 😊

    BalasHapus
  3. Wow, aku bacanya sambil bayangkn makanan trus ngangguk2 👍😍 Sip aku mau coba praktekkan ah. Sama, ga bisa juga foto makanan dlm keadaan gelap dan remang2 hahhaah salam kenal ya mbak Wulan cantik 😘

    BalasHapus
  4. Wah, aku bacanya sambil ngebayangin makanan dan ngangguk2 oooh begitu hahaha. Aku ga bisa juga fotoin makanan dalam gelap dan remang2. Sip tq tipsnya. Salam kenal ya, mb Wulan cantik 😍

    BalasHapus
  5. Ah, kebetulan sekali lagi hunting info ini. Thanks, Kak!
    Sangat bermanfaat!

    BalasHapus
  6. Boleh jg nih tipsnya. Biasanya klo makan di foodcourt cahayanya udh bgs jd gak bingung, yg ribet emang klo di pinggir jalan ya kdg gk ada meja jg

    BalasHapus
  7. Selalu salut sama mereka yg bisa motret makanan jadi demikian apik hingga kita pengin memakannya karena mengundang selera.

    BalasHapus
  8. Aku juga sering foto foto makanan mbak. Karena duka melihat makanan apalagi kalau penyajiannnya syantik, langsung deh dijepret. Hehhehe. Makasih tipsnya.

    BalasHapus
  9. Boleh juga tipsnya mbak, bisa sambil dipraktekkan ya biar bisa motret makanan bagus. Thanks mbak 😉

    BalasHapus
  10. Wow, baru tahu ternyata editing buat foto kuning itu dgn cara kurangi warmnya yah! Siap dipraktikin nih. Saya selama ini belajar motret jg otodidak. Tengkyu Mbak Wulan sarannya! Satu hal lgi, ehehe, soal "fotografi itu mengenai rasa dan selera"---mentor street food photography yg kujumpai tahun lalu jg pernah bilang kayak gini. Emang kudu banyakin jam terbangnya yah biar terasah "rasa" dan "seleranya" ��

    BalasHapus
  11. kusuka minuman background pohon natal itu, so kawaii *_*

    BalasHapus
  12. Tekwen Pempek pengen banget hasyemm 😎

    BalasHapus
  13. Saya sering bermasalah dengan background dan cahaya. Caranya mem-blurkan background gimana ya,Mbak?

    BalasHapus
  14. Saya terkadang kesulitan untuk mengambil sudut foto yang menarik, butuh beberapa kali jepretan dan itupun kalau moment gak hilang, biasanya saya gerak cepet untuk foto biar moment gak ketinggalan..

    BalasHapus
  15. Ilmunya mantap neh.... Pantesan hasil foto saya gak pernah bagus karena emang ada banyak kesalahan fatal saat memotret

    BalasHapus
  16. Pengen banget belajar food photography

    BalasHapus
  17. Mantap, foto-fotonya bagus..
    Ternyata ada juga ya trik khusus untuk memotret makanan kaki lima ya..

    BalasHapus
  18. Malam-malam baca ginian bahaya nih, lapeeer jadinya. Coba kucari area yang dihujani kasih sayang, bisa ga Lan? Kupraktekin ah..moga-moga berhasil.

    BalasHapus
  19. Dicatett tipsnya.. hehe aku suka nih street food photography karena makanannya menggoda banget.. bukan cuma buat difoto tapi juga dimakan

    BalasHapus
  20. Wah..makasih tips2nya...dulu pernah ikut semacam worshop food fotografi, yang saya ingat cuma foto makanan yang bagus tu yang membangkitkan selera orang yang melihatnya...😀

    BalasHapus
  21. buat aku motret makanan itu susah, karena harus menampilkan feel dan rasa pada makanan. emang kudu banyak latihan ya

    BalasHapus
  22. Pernah beli kue cubit di area kampus dan aku coba-coba foto ala foto foodstreet gitu tapi belum tau skillnya jadi asal-asalan deh dan ga gitu menarik, udah baca ini langsung mau terapinya ah

    BalasHapus
  23. terima kasih telah berbagi tips memotretnya ya

    BalasHapus
  24. jadi inget pas mbak curhat ini di toiletnya delta aku hehehehe. poto2 nya mbak bagus bagusss lanjutkaaaan. tengkiuu ya selalu mau kasi masukan aku yang baru belajar poto

    BalasHapus
  25. Waaa... Keren! Lihat sop lodeh bogowonto aku jadi penasaran

    BalasHapus
  26. Wah keren. Tulisannya edukatif banget mbak. Saya juga suka motret makanan, hanya saja angelnya masih sesuai selera sendiri. Thank mbak infonya, ini mau tak pelajari ah 😍

    BalasHapus
  27. Tipsnya berguna banget nih buat aku yang mengklaim sebagai food blogger ini. Biar dapet foto yang kece..

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^