Oct 21, 2017

Kenapa Harus Freelancer?


Kenapa Harus Freelancer?Satu tahun yang lalu, saya mulai kembali membuat resume untuk melamar kerja. Mencoba mencari jalan rejeki lain, selain dari ngeblog dan desain. Jauh sebelum lebaran tiba, saya dikontak teman saya Mbak Tikha, kalau ada lowongan kerja di salah satu yayasan di Surabaya. Oke, saya melamar pada yayasan tersebut.

Usai lebaran, tepatnya bulan lalu, saya dipanggil untuk interview dan psikotest. Dalam interview yang saya jalani, beliu bertanya, “Kenapa kamu memutuskan untuk kerja kantoran? Kan, selama ini sudah freelance, kerja bebas.”

Saya lupa menjawab apa atau memang saya ingin melupakannya. Yang jelas, saya lupa memberitahu bahwa saya menjadi freelance bukanlah keputusan saya pribadi; adalah keadaan sekitar yang mengharuskan saya terjun ke dunia freelance.

“Ibu, yang perlu ibu ketahui adalah saya menjadi freelance karena orang-orang seperti ibu, tidak menerima orang-orang seperti saya bekerja di kantor.”


Ada di mana satu titik saya menyerah. Saya menyerah menghabiskan waktu mengirim resume melalui pos, surat elektronik maupun secara langsung. Saya menyerah menghabiskan waktu untuk mencari info lowongan pekerjaan. Sampai-sampai, saya menjadi eneg ketika melihat tulisan LOWONGAN PEKERJAAN. Beruntunglah kalian yang sudah tidak lagi dalam status job seeker tetapi galau mau resign atau tidak.

Salah satu hal yang mendasari saya untuk berhenti “mencari” adalah karakter Laura di novel Winna Efendi. Tepatnya, novel yang bertajuk “Melbourne”. Seperti saya, Laura pun ke sana kemari melamar pekerjaan, namun tak ada hasil. Akhirnya, dia memilih bekerja secara lepas. Menjadi penyiar radio, penerjemah, penulis dan pekerjaan freelance lainnya yang bergaji sedikit. Dari situ, saya memutuskan untuk mengembangkan, mensyukuri apa yang saya miliki. Toh, memang selama ini pekerjaan ini yang saya inginkan.

Saya selalu minta sama Tuhan, saya ingin pekerjaan yang sesuai dengan passion saya. Pekerjaan yang mampu membuat saya berkembang dan pekerjaan yang saya cintai. Dengan freelance, saya mampu mewujudkan impian saya tersebut. Tuhan mengabulkannya. Tetapi, ada hal-hal yang memang tidak bisa kita raih semua. Salah satunya adalah kebanggan orang tua mengenai pekerjaan ini.

Apa yang bisa dibanggakan dengan pekerjaan tidak jelas seperti yang saya lakukan ini? Income yang tak menentu setiap bulan, terkadang hanya di dalam rumah seharian, kelihatannya santai nggak kerja. Dan yang jelas, tidak ada kenaikan pangkat. Orang melihat pastinya, masa depan saya suram.

Apa benar begitu?

Saya tidak tahu, saya bukan Tuhan, apalagi kalian.

Selain waktu yang tak terbatas – sebut saja demikian – saya bisa mengatur waktu itu sendiri. Bahkan, saya bisa bekerja 24 jam kalau saya mau – dan tidak mengantuk. Saya bisa mengerjakan pekerjaan lain, kalau memang pekerjaan urgent sudah selesai. Seperti sekarang, saya mengerjakan pekerjaan memotret, karena bulan lalu saya melamar pekerjaan sebagai food photographer lepas. Tentunya, ada ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan.

Sampai saat ini, tujuan utama saya bekerja adalah untuk mengembangkan potensi diri alih-alih untuk menggendutkan tabungan. Memang, saya pun tertarik dengan duit, sama seperti kalian. Tapi, prioritas utama saya masih “bekerja untuk mengembangkan diri”. Berapapun hasil yang saya capai sampai saat ini, saya mensyukurinya. Jika Tuhan mengijinkan saya bekerja di kantor – dan berharap masih dalam ruang lingkup industri kreatif – tentu, saya akan menjalaninya.

Siapa sih yang tak mau dengan pekerjaan tetap?


Saya mau, kok, asal.... 

5 Comments:

  1. Mwahaha, aku juga sempet galau mau kerja atau teteup ngeblog aja biar santai. Tapi kalau aku emang galau sama anak, dan kurang siap mental kayaknya kalau harus bekerja dengan rutinitas yg sama setiap hari, karena aku suka kerja bebas aka freelance, dan mungkin harusnya aku ini wirausaha aja biar pnya tantangan baru.

    ReplyDelete
  2. Awalnya jadi freelance sambil nyari kerja dan susahnya minta ampun cari kerjaan tetap. Pas dapat kerjaan tetap beberapa bulan lalu, saya pun bersyukur. Tapi tetap saja, kalau ada job freelance dan bisa saya kerjakan, saya ambil juga. Habis kalau ngandalin gaji tetap nggak cukup. Apalagi harus bantu ngurangin beban kedua orang tua buat biayai adik yang masih kuliah.

    Jadi kalau menurut hemat saya, mau freelance atau kerja tetap, yang penting nggak nyusahin orang lain. Iya nggak?

    ReplyDelete
  3. Apapun jalannya semoga yang terbaik ya, Mbak :)

    ReplyDelete
  4. Aku sekarang kerja diyayasan
    gajinya mungkin sangat tidak seberapa, dibawah UMR.
    Tapi niat kita sama, aku kerja karna ingin mengembangkan diri.
    dan jangan lupa buat meniatkan segalanya untuk ibadah, semoga bernilai pahala :)

    ReplyDelete
  5. Freelance tidak seindah yang diharapkan ya hehe

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^