Nov 21, 2017

Pengalaman Pertama Menjadi Freelance Food Photographer


Pengalaman Pertama Menjadi Freelance Food PhotographerMenjadi freelance photographer merupakan dunia baru bagi saya. Terutama untuk food photography. Ya, beberapa waktu lalu, selama dua minggu lamanya saya menjadi freelance photographer untuk sebuah situs direktori makanan hngrynow.com. Selama dua minggu itu pula, saya berkeliling Surabaya, dari satu vendor ke vendor yang lain untuk motret kemudian makan. Tak usah ditanya apakah berat badan saya bertambah, itu jelas. Bertanyalah bagaimana perkembangan skill fotografi saya atau bagaimana perasaan saya ketika menjalani dunia baru ini.

Melalui postingan ini, saya ingin berbagi pengalaman mengenai menjadi freelance photographer yang saya jalani selama dua minggu dengan dua puluh vendor.

Yeah, saya berhasil menyelesaikan semuanya.

Berawal dari seorang teman kumpul-kumpul di Mojokerto, saya mendapatkan informasi mengenai hngrynow.com yang membutuhkan freelance photographer untuk memenuhi foto-foto di situs mereka. Hngry! merupakan situs direktori makanan yang baru berjalan selama satu tahun ini, mereka butuh perkembangan cepat. Makanan-makanan yang ada di situs tersebut khusus untuk kota Surabaya dan Jakarta. Kawan saya meminta saya untuk mencoba melamar pekerjaan tersebut, meskipun sejak awal saya berkata, “Saya tidak yakin bisa. Saya orang awam. Belum jago motret.” Dengan berbagai alasan tersebut, saya ingin menolak sekaligus merasa tertantang. Begitulah saya, takut-takut tapi ingin mencoba.


Untungnya, kawan saya menyakinkan saya bahwa saya bisa. Foto saya lumayan bagus kok. Akhirnya dengan berbekal Google Map, saya pun berangkat ke kantor hngry! Yang berada di Margumulyo Surabaya dari Waru Sidoarjo. Hmmm, lumayan jauh juga perjalanan yang saya tempuh. Sampai-sampai saya nyasar ke jalan tol waktu itu – plis yang satu ini jangan dibahas, saya takut sekaligus malu. Xoxo.

Sekitar pukul sepuluh pagi, saya janji temu dengan Pak Steven yang merupakan pendiri dari Hngry!, waktu itu saya datang lebih awal daripada janji temu kami. Lumayan, saya butuh waktu dua jam untuk menemukan kantor Hngry! yang satu lokasi dengan Pt. Inkatama.

Singkat cerita, dari pembicaraan kami, saya harus datang ke satu vendor ke vendor yang lain untuk motret dan makan, dengan list vendor yang disediakan oleh mereka dan tentu dana makan pun dari Hngry!

Saya pikir, saya tidak jadi diterima untuk menjadi freelance photographer di Hngry! lantaran informasi kelanjutan kerja sama tersebut tak kunjung saya terima. Sampai akhirnya, Dwi kawan saya mengirim pesan lewat DM instagram bahwa sebentar lagi saya harus keliling-keliling motret makanan. Tepat banget, saat itu badan saya benar-benar lagi drop. Meskipun begitu, saya memaksakan diri untuk tetap menjalanankan pekerjaan tersebut.

Awal-awal ke salah satu vendor, memesan makanan tapi tidak langsung dimakan justru dipotret, saya canggung. Merasa banyak orang yang memerhatikan saya – padahal nggak. Makin ke sini, makin terbiasa meskipun terkadang masih merasakan perasaan serupa.

Banyak hal yang saya dapatkan dari pekerjaan ini, bukan hanya masalah bagaimana memotret makanan, tetapi juga sensasi ketika mencari vendor-vendor yang kebanyakan penjual kaki lima. Benar-benar seru. Terutama ketika saya ke warung Pak Ghofar yang fenomenal itu. Saya benar-benar tidak menyangka, warung emperan dengan naungan sederhana, pun dengan makanannya itu bisa mendatangkan banyak peminat. BUANYAK PEMINAT.

Ceritanya saya datang ke Warung Pak Ghofar hari Kamis. Dari berbagai sumber yang saya baca, datang ke warung ini harus pagi, bukanya sekitar jam delapan pagi, karena dua jam saja sudah langsung habis dan ludes. Terlebih lagi, belum antrenya yang panjang. Makanya, saya on the way dari indekos sekitar jam tujuh pagi. Sampai di lokasi pukul setengah sembilan.

Awalnya, saya kira warungnya sudah tutup karena sepi. Ternyata Pak Ghofar masih menata warung, padahal yang datang pagi itu bukan hanya saya. Masih banyak peminat yang lain datang.

“Ini belum buka, kan?”tanya saya pada Cece yang duduk di sebelah saya, yang menunggu warung Pak Ghofar juga.

“Belum.”

“Baru pertama kali datang ke sini?”tanya Pak Ghofar.

“Iya, Pak.”

Waktu pun berjalan maju, tetapi warung belum buka-buka juga. Meja di depan saya masih kosong, hanya berisi kerupuk dan kolak saja. Peminat warung ini pun berdatangan, memenuhi lokasi. Tetapi, warung belum buka juga. Dan, ternyata warung baru benar-benar buka pukul sebelas siang!

HAHAHA.



Rencana awal kita datang pagi untuk sarapan, malah jadi makan siang.

Tak usah membayangkan berapa fee yang saya terima untuk pekerjaan ini, karena tidak sebanyak yang teman-teman pikirkan. Saya masih baru dalam dunia fotografi dan saya menerima pekerjaan ini murni karena ingin belajar dan mendalami fotografi. Sayang banget kan, Etro kalau dianggurin dan tak menghasilkan apa-apa. Apa pun yang membuat saya tertarik, akan saya gali terus sampai saya puas dan menambah kemampuan saya.

Kalau dipikir capeknya karena kehidupan saya jadi lebih banyak di jalan raya, iya. Tapi, saya mengerjakannya dengan “bahagia” sehingga segala rasa lelah dan rasa “sesuai nggak sih?” terbayar lunas.

Melalui pekerjaan ini, saya belajar bagaimana mengambil sudut pandang untuk memotret makanan. Bagaimana saya mengedit foto hingga tampak menarik dan tentunya networking yang saya jalin pun bertambah.

Dan kawan, memotret makanan sangat jauh lebih sulit daripada yang saya bayangkan. Ketika mengabadikan makanan, bukan mengenai sudut pengambilan agar terlihat bagus saja yang harus diperhatikan, tetapi ada tanggung jawab besar di baliknya. Yaitu, foto kita harus bisa membuat orang lain kepengen alias menelan ludah. Selain itu, kita harus memperhatikan kebersihan dari foto atau makanan tersebut, jangan sampai membuat orang lain eneg atau jijik ketika melihatnya.

Tak hanya ketika mengabadikan makanan saja yang membuat saya kesusahan, tetapi mengedit juga. Apabila biasanya saya mengedit foto flatlay saya asal cerah, untuk foto makanan beda lagi. Tone foto tak boleh kuning dan harus minim bayangan. Intinya, saya belum tahu bagaimana mengedit foto makanan baik.

Sungguh, pekerjaan memotret makanan ini lebih banyak tantangannya daripada tidaknya. Jangan dikira, karena saya sudah menjadi food photographer, maka saya jago dalam memotret. Salah besar! Saya belum jago dan ketika pengambilan foto pun tak sepenuhnya benar. Ada beberapa foto yang terkena omelan atasan atau kritikan. Bahkan, ada beberapa foto yang saya ambil tak terpakai. Sedih ya :’)

Hal yang harus diperhatikan lagi, pekerjaan saya ini pekerjaan lapangan. Sudah dipastikan kegiatan saya di luar ruangan, naik motor sendirian, panas kepanasan, hujan kehujanan, kalau sakit nggak ada yang meluk #eh.

Ada beberapa hal juga yang menjadi kendala, yaitu ketika saya harus memotret malam hari. Selain saya sudah kehilangan cahaya matahari pun karena kalau malam bawaannya malas melulu. Maklum, wanita. Inginnya dipeluk dan disayang – kalau malam bahaya cin.

Sekarang, sudah terhitung bulan ketiga saya bekerja freelance sebagai fotografer makanan. Banyak suka dukanya, seperti pekerjaan kalian juga kok. Saya bakalan mulai memotret list ketiga bulan ini dan yang membuat saya khawatir, musim hujan mulai datang. Sudah dipastikan langit jauh dari kata cerah dan jelas, saya akan kehilangan cahaya matahari huhu.

Saya hanya berharap selalu dilindungi oleh Allah dari bahaya apa pun – termasuk bahaya lelaki tukang pemberi harapan palsu – dan selalu diberi kesehatan serta rejeki melimpah berupa suami soleh dan ganteng :’) Amiin.


27 Comments:

  1. Seru pengalaman MB wulan jd foodfotographer ya, paling suka yang bikin penonton meneken ludah, emang bener uey.. sempet galfok sm laki pemberi harapan palsu😂 smg dijauhkan ya mbak..

    ReplyDelete
  2. Yup, perasaan diperhatikan banyak irang pas kita motret, harus dibuang jauh-jauh ya ternyata. Karena belum tentu mereka bener-bener merhatiin kita.

    ReplyDelete
  3. Wul,dengarkan nasehat Om Inijie!
    Motret makanan tuh 'haram' hukumnya bila dilakukan malam hari. Malam itu waktunya sayang-sayangan, bukan cuek-cuekan.

    #apasih

    ReplyDelete
  4. Saya malah senang lihat cewek mandiri kayak dirimu, Wul.
    Skill foto juga makin kesini makin ciamik.
    Ah, saya masih nabung untuk kamera karena si Canon lagi sakit.
    Sukses terus ya, Wul.

    ReplyDelete
  5. Wahhh kerennn, yg mahal memang pengalamannya. Syrmangat.

    ReplyDelete
  6. Aku juga lagi nyoba food photography Mbak 😍

    Tricky sih kalo buatku. Soalnya kita sering ketemu makanan yang penampilannya biasa, tapi rasanya NAK BANGEDH. Nha, transfer tampilan biasa yang nak bangedh lewat foto itu yang buatku masih susah2 gampang. Tapi tep harus banyak belajar dan semangat makaaaan. Eh, fotooooo.



    xoxo,
    honeyvha.com

    ReplyDelete
  7. wah pengalaman yang asyik juga ya, semua pasti ada suka dan dukanya ya

    ReplyDelete
  8. Wah seru banget pengalamannya, mbak. Dibalik "wah enak ya, kerjaannya makan2 n dibayarin" ternyata ada tanggung jawab yang jauh lebih besar.

    Sukses terus buat kedepannya, Mb Wulan 😀

    ReplyDelete
  9. Mumpung masih mudaa.... Peluang di depan mata jangan dianggurin. Keren deh mba Wulan.

    ReplyDelete
  10. pengalaman adalah guru yang terbaik ya mbak

    ReplyDelete
  11. Welcome to the club mbak, susah ya motret makanan? Makanya kalau ada foto yang sampai dicuri, bikin kezeel pake banget.
    Akupun pantang motret malam, flat hasil foto makanannya.
    Semangat, semoga suksees kerjaab barunya

    ReplyDelete
  12. Woww.... keren mba.
    Semoga sukses terus ya Mba. aku ada kamera nganggur belum bisa dimanfaatkan maksimal, padahal pengin juga belajar moto makanan yang bagus. Sayang saat ini waktu tak memungkinkan.

    ReplyDelete
  13. Peluang mba. Semoga dimudahkan ya pekerjaan barunya, eh sudah bulan ketiga memotret makanan. Semangat mba.

    ReplyDelete
  14. Inspiring single! Saya jadi tau juga ttg tone yg nggak boleh kuning dan minim bayangan. Minim bayangan ini yg agak sulit buat saya. Sinar matahari tentunya juga untuk belakangan ini yg mendung terus. Makasih untuk sharing yg teramat lengkap ini, Mba. Suka dan sulitnya pun saya jadi tau. Moga rezekinya menular, walau sekarang ini masih ta'arufan dulu dg kameranya, haha...

    ReplyDelete
  15. Ih serunya... Aku juga pengen belajar gitu, tapi apalah aku ini cuma lap lensa doank (sambil ngelap air mata). Sukses selalu ya mba... Dan jangan lupa bagi bagi ilmune heheh

    ReplyDelete
  16. Ihh serunya... Saya juga pengen belajar gitu. Tapi apalah aku ini cuma lap lensa doank (sambil ngelap air mata)
    Salam kenal ya... Sukses selalu. Dan janagn lupa bagi bagi ilmune hehe...

    ReplyDelete
  17. Iyah klo nggak ada matahari, daku panik juga mba :D
    Berkah selalu ya mba^^
    Aku penasaran warung ituuuu, tapi jauh hihiii.. kapan2 moga bisa ke Kota mu mbaaa

    ReplyDelete
  18. Aish....kamu keren Wul...junjunganku...

    ReplyDelete
  19. Semangat mba, semoga lancar ya kerjaannya :)

    ReplyDelete
  20. Semoga di postingan selanjutnya ada tips & trick foto makanan saat Malam/ hujan. Penasaran euy.

    ReplyDelete
  21. Seru banget mba, aku juga kepingin belajar jadinya. Selama ini penasaran sama foodstagram yang fotonya bagus-bagus itu apakah dari kameranya aja, taunya ndak ya, harus tetep tau teknik-tekniknya biar makanannya bikin ngiler. Sukses mbak buat profesi barunya :D

    ReplyDelete
  22. Seru banget pengalaman barunya,aku gk jago moto makanan,jagonya ngabisin..hhi
    Tp memang benar semuanya btuh proses y kak,hrus terus belajar. Sukses terus.

    ReplyDelete
  23. Mantep ya Mba', punya ilmu dan pengalaman baru. Semangat terus Mba' 😊😊

    ReplyDelete
  24. Semoga cuaca mendukung, keep safe ya.. foto2ne makin ciamik rek..keren

    ReplyDelete
  25. Keren bgt fotonya, moga next bisa jadi fotografer profesional ya mbak

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^