15 Agu 2018

Kelas Inspirasi Surabaya 2018 - Bagian 2



Kelas Inspirasi Surabaya 2018Pada rombel kami, ada tiga fotografer dan satu videografer. Tentunya, salah satu fotografer tersebut adalah saya sendiri. Kebetulan, SD Islam Al-Furqon memiliki gedung bertingkat dengan tiga lantai. Para fotografer dibagi menjadi tiga bagian. Saya pada tingkat pertama atau dasar, Aya di tingkat kedua, dan Mas Adi di tingkat teratas alias tingkat tiga.

                Sebelumnya, saya sudah menceritakan mengenai Kelas Inspirasi Surabaya di sini. Nah, sekarang merupakan bagian kedua, bagian paling menarik yang harus dibaca. Yah, karena bagian pertama lebih kebanyakan curhat daripada ceritanya, xoxo.

                Usai apel pagi, anak-anak dari kelas 1-6 tetap berada di lapangan, begitu pula kami serta para guru. Aziel salah satu relawan pengajar, menjadi pemimpin anak-anak. Mereka diajak bermain dengan tepuk tangan, membangun semangat di pagi hari, dan diakhiri dengan goyang bersama.


                Lucunya, ketika beberapa anak diminta maju ke depan untuk memperagakan goyangan, tidak ada yang mau, tetapi ketika Aziel berkata,”Yang berani maju dapat hadiah!” Sontak hampir semua anak kelas satu maju ke depan.

                Matahari sudah teramat terik, saya sampai kepanasan berada di lapangan. Keringat bercucuran tak henti, sekitar pukul tujuh lebih anak-anak diminta masuk ke dalam kelas masing-masing. Saya sibuk mengabadikan momen, namun ada saja anak-anak yang menyalami saya. Mau tak mau, saya menghentikan kegiatan memotret. Ya, lumayan.

                Akhirnya, saya masuk ke kelas di lantai satu, yang terdiri dari dua ruangan. Satu ruangan merupakan ruang guru dan satunya lagi merupakan kelas, yang bercampur dengan ruangan untuk menyimpan peralatan drumband. Jadi, satu ruang kelas ini diisi oleh dua kelas (eh, gimana?). Begini, kelas 1 dan 2 dijadikan satu dalam satu ruangan. Begitu.

                Karena dua kelas menjadi satu ruangan, maka hasilnya adalah sangat ramai. Apalagi ini kelas 1 dan 2, yang masih kecil-kecil sekali. Di dalam kelas, mereka membuat lingkaran duduknya. Pada kelas pertama ini Septi, menertibkan anak-anak, membagikan kertas untuk nametag. Saya tentunya, mengabadikan momen. Namun, karena Septi kewalahan, selain karena ini dua kelas dijadikan satu pun karena mereka masih terlalu kanak-kanak. Akhirnya, saya turun tangan membantu bersama Whinny, selaku fasilitor kami.

                Di kelas ini ada yang bernama Ubay, dia berkali-kali berkata kepada saya “Namaku Ubay, namaku Ubay.” Saya Cuma tersenyum dan mengangguk. Dan Ubaylah salah satu anak yang paling ramai, karena dia selalu berteriak keras. Dan anak-anak lain justru semakin menakut-nakutinya dengan perkataan “Nanti disuntik dokter.” Teriakkan Ubay pun semakin keras.

                Sungguh, kelas ini luar biasa. Ketika kelas berlangsung ada yang main pemukul drum, dll. Saya berkata kepada mereka.”Ayo, ditaruh, kasih contoh baik ke temannya.”Beberapa ada yang menurut ada yang tidak. Yang menurut pun, ditaruh sebentar kemudian diambil lagi.

                Saya yang membawa kamera pun tak luput dari perhatian mereka, beberapa kali mereka minta difoto dan ingin tahu hasilnya. Saya pun menuruti, dengan syarat usai saya tunjukan foto mereka, mereka mau duduk dan mendengarkan relawan pengajar yang mengajar.

                Paling sulit adalah ketika berfoto bersama, mereka sulit sekali diatur. Terutama untuk anak laki-laki. Mereka tidak mau berbaris dengan benar, akhirnya mereka berada di depan dan menutupi teman-temannya yang di belakang. Saya ikutan berteriak menenangkan, sampai suara saya tak terdengar dan berbaur dengan suara anak-anak.


                Sesi Kelas Inspirasi Surabaya dibagi menjadi tiga sesi. Saya, sesi pertama dan kedua berada di lantai satu. Ketika sesi terakhir, saya bertukar dengan Aya. Sehingga, saya berada di lantai dua. Ternyata, anak-anak di lantai dua dan tiga (saya berkeliling) lebih tenang dan menurut. Yah, karena memang mereka lebih dewasa sehingga lebih tenang.

                Pada sesi terakhir, anak-anak diminta menulis cita-cita mereka pada sebuah kertas berbentuk kartu pos. Dan sekitar jam 12 siang, anak-anak kembali berkumpul di lapangan untuk menunjukkan kartu pos mereka. Kami berfoto bersama dan yah, salaman satu per satu.

                Sebenarnya, usai Kelas Inspirasi ini ada acara refleksi di Gedung Siola, seperti ketika acara briefing sebelumnya. Sayangnya, karena tidak enak badan, saya memutuskan untuk tidak ikut. Padahal saya ingin sekali ikutan.

                Perasaan yang sebelumnya, enggan ikutan Kelas Inspirasi Surabaya, usai acara saya bersyukur tetap ikutan acara ini. Seru sekali berkumpul dengan anak-anak, berkenalan dengan orang-orang baru, sampai mengenal seseorang yang ternyata satu kabupaten. Yah, dunia selebar daun kelor.

                Yang jelas, saya berharap bisa ikut Kelas Inspirasi lagi. Tak hanya di Surabaya, saya berharap bisa berkesempatan di tempat lain. Aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^