Apr 7, 2026

Kesalahan Pertama Saya Ketika Menjadi Seorang Ibu; Menyepelekan Soal Menyusui




Kesalahan Pertama Saya Ketika Menjadi Seorang Ibu; Menyepelekan Soal Menyusui - Setelah Arunika lahir, banyak yang gembira; tentu saja saya pun merasakan hal yang sama. Tidak hanya gembira, tetapi juga lega meskipun luka jahitan belum sembuh total. Begitu nyeri dan mengganggu. Tapi, itu sama sekali tidak masalah.

Namun, semua kegembiraan itu sirna ketika saya sudah di rumah; sudah pulang dari rumah sakit. Ketika saya mengetahui bahwa air susu tidak keluar. 

Di rumah sakit, Arunika minum susu formula lewat dot. Saya pun berusaha untuk menyusuinya langsung, tetapi kesulitan karena puting sebelah kiri tenggelam dan yang timbul hanya sebelah kanan. Namun, ketika saya mencoba menyusui Arunika dengan payudara sebelah kanan, saya kesulitan karena jarum infus saya yang ada di tangan kanan.

Waktu itu, saya pikir, yasudahlah ~

Di titik itu, saya menyepelekan mengenai menyusui, padahal jauh sebelum menikah saya sudah bertekad untuk mengasihi selama dua tahun, tetapi saya tidak belajar mengenai menyusui.

Air Susu Ibu Tidak Bisa Langsung Keluar


Sebenarnya, sebelum hari kelahiran tiba, saya melemparkan pertanyaan di akun Threads; Apa saja yang perlu saya persiapkan sebelum melahirkan, selain mengenai pakaian bayi?

Banyak yang berkata belajar pelekatan dan menyusui karena menyusui tidak semudah itu. Namun, saya mengabaikan hal ini. Mengingat, saya dan saudara-saudara saya semuanya full ASI. Ibu saya menyusui dengan mudah dan lancar. Ukuran payudara saya juga cukup besar. Saya pikir, menyusui akan mudah. Saya pikir, karena saya memiliki anak, maka air susu ibu akan mudah keluar.

Ternyata, pikiran saya salah.

Pantas saja banyak konselor laktasi yang membuka kelas menyusui, ternyata menyusui memang tidak mudah. 

Mengeluarkan ASI dengan Pompa ASI; Buat Saya, Ini Kesalahan Besar


Saya diberitahu kalau ingin ASI cepat keluar maka saya harus pakai pompa ASI. Maka, sebelum HPL, saya membeli pompa ASI. Namun, saya baru menggunakannya di rumah. Nyatanya, ASI saya tidak bisa keluar secepat itu. Bahkan, tanda-tanda saya memiliki ASI pun tidak ada.

Payudara saya terasa kosong. Letoy, tidak mengkal.

Ketika saya memompa ASI yang keluar hanya seperti rembesan sedikit sekali berwarna hitam/kotor. Saya memompa ASI setiap 2-3 jam sekali dan yang keluar hanya sedikit-sedikit. Warnanya pun tidak kuning pekat, tetapi kuning dan terlihat encer. Sampai satu minggu, ASI warna putih keluar. Akan tetapi, hanya dapat sekitar 30-60ml untuk dua payudara.

Tentunya, karena ASI-ku tidak banyak yang keluar, Arunika dibantu dengan minum susu formula. Namun, ternyata Arunika terkena penyakit kuning - mengenai ini, akan saya tulis di lain postingan.

Kini, saya baru mengetahui bahwa lebih baik anak DBF daripada melalui dot atau dipompa. Sebab, lidah bayi memiliki rangsangan untuk payudara dan sedotan bayi lebih kuat daripada pompa ASI. 

Prinsip ASI itu supply demand. Apabila ada kebutuhan, maka ASI akan keluar. Namun, mungkin sudah terlambat, sebab sejak usia 3 bulan saya sudah tidak memompa ASI. Arunika langsung minum ke saya, tetapi ASI tetap tidak keluar banyak.

Kini, saya sudah legowo bahwa saya tidak bisa memberikan Arunika full ASI dan harus dibantu susu formula sampai sekarang.

Apa yang Saya Lakukan Supaya ASI Keluar Banyak?


Saya diberikan saran oleh tante saya untuk membeli ASI Booster. Maka, saya pun menyuruh suami untuk membelinya di apotik. Ternyata, ASI yang keluar tidak banyak. Saya pun sudah makan sayuran cukup banyak, minum air putih, bahkan saya pun pijat laktasi. Nyatanya, tidak banyak yang keluar.

Memang, setelah pijat, ASI yang keluar cukup banyak yakni sekitar 100ml. Namun, itu tidak bertahan lama karena besoknya ASI seret lagi. Masa iya saya harus pijat setiap hari?

Bagaimana Rasanya Menjadi Ibu yang Tidak Bisa Full ASI?


Rasanya useless.

Pandangan orang lain sungguh berbeda. Mereka melihat saya seperti tidak mau memberikan ASI pada anak. Padahal, saya sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Arunika. Bahkan, saya menjadi bahan perbincangan keluarga hanya karena saya tidak bisa memberikan ASI pada Arunika. 

Hamil, melahirkan itu berat sekali. Hormon berubah, tubuh berubah, perasaan berubah; cemas, khawatir, takut, bingung berkumpul di kepala dan hati. Lalu, kamu dipandang berbeda karena tidak bisa memberi ASI kepada anak. Seakan-akan, kamu hanya kulit kacang yang tidak berguna.

Semua mata tertuju hanya pada anak, tanpa peduli ibunya yang masih kesakitan karena jahitan caesar masih basah. 

Di satu momen, ketika saya lelah mendengarkan komentar orang-orang. Malam-malam saya bangun, memompa ASI dan berkata pada suami, “Aku capek.” sambil menangis. Sungguh, setelah menjadi ibu, saya merasa dunia sangat jahat kepada saya.

Karena tidak bisa kasih Arunika full ASI, seakan-akan saya tidak menyayangi Arunika.

Astaga, menulis ini membuat saya kembali sedih.

Belum lagi, anak saya dikatain anak sapi.

Setiap bertemu orang selalu ditanya, “Minum ASI?” ketika saya jawab, tidak, mereka bertanya kenapa.

Saya lelah menjelaskan.

Saya sedih harus menjelaskan.

Saya benar-benar lelah dan ketakutan ketika orang lain bertanya susu di dalam dot itu ASI atau Sufor.

Hal itu membuat saya berpikir berulang kali akan memiliki anak lagi atau tidak. Banyak alasan mengenai memiliki anak lebih dari satu atau tidak. Sebab, rasanya saya tidak berharga ketika sudah menjadi ibu. Banyak pikiran juga yang membuat ASI seret. 

Bahkan, hal ini diperbincangkan dalam forum keluarga dan itu membuat saya malu.

Hmm. Sepertinya, cukup sampai di sini saya bercerita, sebab semakin lama semakin membuat saya mengingat masa itu. Semoga dengan membaca tulisan ini, kamu yang akan menjadi ibu bisa mengambil pelajaran dari cerita saya, ya.

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^