Saya menerapkan tidak akan mudah mencium dan menyentuh bayi. Ternyata, saya melakukan itu ke semua bayi dan anak, termasuk bayi saya sendiri.
Satu minggu setelah Arunika lahir, ketika ada jadwal kontrol, dia harus disinar dan menginap di rumah sakit. Dokter bilang, dia terkena penyakit kuning atau dalam bahasa medis disebut dengan Neonatal jaundice. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan yang paling umum adalah karena kekurangan ASI/Susu. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan ASI saya yang seret. Saya tidak bertanya lebih lanjut kepada dokter, sebab saat itu saya sudah kebingungan dengan informasi bahwa anak saya yang baru lahir harus disinar.
Waspada Apabila Newborn Terlalu Lama Tidur Atau Sulit Dibangunkan
Arunika sangat jarang bikin saya begadang. Dia bangun sebentar, minta minum, kemudian tidur lagi. Terkadang, saya harus membangunkan dia untuk minum susu. Seringkali, dia minum sambil mata merem. Siang hari pun, jam melek dia jarang sekali. Intinya, dia benar-benar lebih banyak tidur daripada melek. Bahkan, ketika utinya datang dan membangunkan dia, dia tetap tidur.
Kami kira, Arunika anak baik yang tidak suka merepotkan orang lain. Ternyata, itu ciri-ciri dari penyakit kuning.
Sejak Lahir Sudah Kuning
Pada kunjungan pertama dokter umum, dia memeriksa Arunika. Dia berkata badan Arunika sedikit kuning. Kami diminta untuk sering menjemurnya di bawah sinar matahari pagi hari. Begitu pulang, kami sudah menjemurnya di bawah matahari pagi. Namun, ketika saudara datang, dia berkata Arunika kuning. Maka, dia bilang lebih baik Arunika dikasih lampu supaya tidak sampai opname.
Saya benar-benar kepikiran. Tidak bisa tidur. Dengan perut nyeri karena SC, saya menonton video-video ciri-ciri penyakit kuning pada bayi. Waktu itu, saya tahu Arunika kuning dari ciri-ciri yang saya cocokan di internet. Namun, saya masih denial mengenai hal itu.
Sampai akhirnya, pada hari ketujuh, kami datang untuk kontrol.
Saya tanya pada dokter yang menangani Arunika waktu itu, “Dok, katanya sebelum pulang waktu itu, anak saya kuning. Sekarang bagaimana?”
“Semakin kuning,” jawab dokter itu. Tentu, sebagai ibu saya mencelus. Bingung. Lalu, dokter menjelaskan panjang lebar mengenai keadaan Arunika dan diputuskan dia harus disinar dua malam tiga hari. Keluar ruangan, saya menahan air mata untuk turun. Namun, saya bersyukur Arunika dirawat oleh orang yang lebih profesional.
Hari itu juga, Arunika dibawah ke sebuah ruangan tempat dia dirawat. Ternyata, di sana tidak hanya anak saya saja yang harus disinar. Masih ada 2-4 bayi. Kami boleh menjenguk Arunika setiap hari, sekaligus mengantarkan ASI dan mengganti air panas. Kebetulan, ASI saya keluar hanya sedikit, sehingga dibantu pakai susu formula.
Setelah tiga hari berlalu, Arunika bisa dibawa pulang. Kuningnya sudah berkurang banyak dan matanya pun sudah bersih. Setelah keluar dari rumah sakit, saya baru mencium Arunika. Bayangkan, seorang ibu yang baru mencium anaknya sendiri setelah tujuh hari.
Nyatanya, menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Arunika itu hebat karena mau dirawat dan dijaga oleh orang yang tidak profesional seperti saya.
Tentu, hal ini terjadi karena saya tidak belajar lebih jauh bagaimana menjadi seorang ibu.




0 Comments:
Post a Comment
Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)
Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^