“A parent’s worry never ends ….,
…. but our children must grow up and learn to live their own lives.”
Menyaksikan seorang manusia tumbuh, membuat saya menyadari sesuatu; saya sedang mempersiapkan Arunika tumbuh besar dan mandiri. Hidup dengan kemauan, keinginan, dan kedua kakinya sendiri. Dari rahim, seorang anak manusia tumbuh. Ternyata, perkembangan demi perkembangan itu mempersiapkan satu hal; dia, tubuhnya, otaknya siap menghadapi dunia luar.
Sebelum menjadi ibu, saya melihat perkembangan seorang anak sebagai hal yang biasa saja. Mereka belajar tengkurap, lalu duduk, merangkak, merambat dan berjalan. Garis besarnya, mereka bertumbuh. Namun, setelah menjadi seorang ibu, semua itu terasa berbeda. Tak hanya anak yang sedang belajar, pun seorang ibu. Ketika membersamai anak bertumbuh, seorang ibu dilanda kecemasan tak berujung. Mereka akan mencari informasi mengenai perkembangan anak, kemudian merasa cemas ketika sang anak belum bisa melakukan sesuatu di usia mereka; terutama ketika melihat anak seusia anak mereka sudah bisa melakukannya.
Kecemasan terhadap anak tidak pernah berakhir. Saya menyadari hal ini ketika menonton drama Korea Resident Playbook. Ketika seorang ibu pasien bertanya, “Kapan kecemasan sebagai ibu berakhir?”, dokter menjawab, “Sayangnya, setelah menjadi ibu, kecemasan itu tidak akan berakhir.”
Meski Anak Sudah Dewasa, Orang Tua Tetap Mengkhawatirkannya
Meskipun anak sudah dewasa, orang tua tetap mengkhawatirkannya, mencemaskannya. Makanya, banyak yang berkata, “Setua apa pun seorang anak, dia tetap anak kecil di mata orang tuanya.”
Kalimat itu ada benarnya.
Hal ini saya lihat dari orang tua saya sendiri. Saya melahirkan dengan cara dioperasi, setelah operasi belum genap satu minggu, perban terlihat ada dua titik darah. Saya sedikit khawatir mengenai hal itu, sedangkan jadwal kontrol masih empat hari lagi. Namun, ada yang lebih cemas daripada saya, yakni ibu. Ibu segera meminta saya dan suami ke rumah sakit, untuk mengecek kondisi. Maka dari itu, kami pun ke IGD di rumah sakit tempat saya dirawat. Setelah diperiksa, ternyata jahitan saya baik-baik saja. Titik merah yang ada di perban hanya rembes saja.
Sesampainya di rumah, ibu cerita tidak jadi masak. Padahal hari itu ibu mertua datang ke rumah dan ibu berencana masak. Namun, karena cemas, ibu tidak memiliki tenaga untuk memasak.
Sebagai Orang Tua, Kita Belajar Melepaskan
Awalnya, seorang anak berada di rahim selama sembilan bulan, lalu seorang ibu melahirkannya. Lalu, kita menggendongnya dan mengajarinya banyak hal. Kita menggendong, kemudian mengajarinya berjalan. Kita menyusuinya, kemudian kita menyapih. Kita menyuapinya, lalu kita mengajarinya makan sendiri.
Tanpa sadar, orang tua sedang belajar melepaskan. Membiarkan anak-anak tumbuh dan memiliki jalanya sendiri. Ketika masih kecil, mereka diarahkan. Setelah dewasa, mereka memiliki pilihannya sendiri.
Nyatanya, menjadi orang tua bukan sekadar memberi mereka makan sampai dewasa. Pun mengajari mereka untuk bisa hidup mandiri dan lepas dari kita.
Dan orang tua pun ikut belajar melepaskan. Berat tapi harus.



0 Comments:
Post a Comment
Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)
Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^