Oct 23, 2026

Mengurai Karhutla: Kerusakan Gambut, Degradasi Ekosistem, dan Bahaya Laten bagi Ketahanan Pangan Nusantara



Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi bencana lingkungan tahunan yang melanda berbagai wilayah Indonesia dengan tingkat kerusakan yang kian mengkhawatirkan. Dalam sebuah diskusi mendalam yang menghadirkan narasumber utama dari Pantau Gambut serta jurnalis Kompas, terungkap berbagai fakta krusial mengenai keterkaitan erat antara kehancuran ekosistem gambut dan ancaman nyata terhadap keanekaragaman sumber pangan masyarakat lokal. 

Salah satu keputusan penting dari pertemuan tersebut adalah penegasan konsistensi penggunaan istilah kebakaran hutan dan lahan secara utuh. Mengabaikan atau menghilangkan kata "lahan" dianggap sangat menyesatkan pemahaman publik, sebab justru kondisi lahannya—yaitu ekosistem gambut yang telah rusak dan terdegradasi—yang menjadi akar serta sumber masalah utama dalam fenomena kebakaran yang terus berulang ini.

El Ninõ Bukan Penyebab Utama Karhutla


Selama ini, fenomena iklim global seperti El Niño sering kali ditunjuk sebagai faktor utama penyebab terjadinya bencana kebakaran hebat. Padahal, analisis data dan penelusuran fakta di lapangan menunjukkan bahwa El Niño bukanlah penyebab utama. El Niño pada hakikatnya hanyalah faktor pendukung atau pemantik yang memperparah kondisi lahan gambut yang sudah terlanjur mengering drastis akibat kanalisasi berlebihan. Pembangunan kanal buatan secara masif oleh kegiatan industri skala besar telah menyedot dan mengeringkan air dari kubah gambut alami.

Indonesia secara geografis merupakan rumah bagi salah satu ekosistem gambut tropis terbesar di dunia dengan total luas mencapai 24,2 juta hektar. Namun, angka yang memprihatinkan menunjukkan bahwa sebanyak 16,4 juta hektar dari total luas Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) tersebut kini berada dalam kategori kerentanan kebakaran tingkat tinggi hingga sedang. Keberadaan kanal-kanal buatan di atas lahan gambut Indonesia telah mencapai angka yang fantastis, yaitu sekitar 280.000 km. Luasan panjang jaringan kanal ini diperkirakan setara dengan perjalanan bolak-balik melintasi tol Trans Jawa sebanyak 120 kali. Pengeringan masif ini merusak fungsi alami gambut yang seharusnya bekerja ibarat spons raksasa dalam menyerap, menyimpan, dan mengatur tata air lingkungan.

Mekanisme kerusakan hidrologi gambut yang dipicu oleh kanalisasi ini berdampak secara sistemik dan destruktif. Ketika muka air tanah turun akibat kanalisasi, gambut menjadi kering kerontang dan kehilangan sifat spons alaminya. Dalam keadaan ini, gambut tidak lagi mampu menampung curah hujan tinggi, sehingga memicu bahaya bencana banjir yang parah pada musim hujan. Bahkan, sekitar 25% area Kesatuan Hidrologi Gambut di Indonesia saat ini tercatat sangat rentan mengalami banjir. Ketika musim kemarau tiba, gambut yang mengering tersebut berubah menjadi bahan bakar yang amat mudah terbakar. Karakteristik api pada lahan gambut sangat berbahaya karena merambat dan membara di bawah permukaan tanah. Hal inilah yang membuat upaya pemadaman udara (water bombing) hanya memberikan dampak teknis jangka pendek. Solusi jangka panjang yang paling efektif dan mutlak diperlukan adalah pemulihan tata air melalui pembasahan kembali (rewetting) secara alami.


Kebakaran Hutan dan Lahan, Mengancam Keanekaragaman Hayati dan Biota Alam


Dampak dari kerusakan hidrologi tanah gambut ini meluas jauh melampaui masalah asap dan hawa panas. Pengeringan lahan gambut memicu reaksi kimia berbahaya di mana senyawa mineral pirit (FeS2) yang berada di bawah lapisan gambut terekspos langsung oleh udara dan oksigen. Oksidasi pirit ini menghasilkan tingkat keasaman yang sangat tinggi dalam bentuk asam sulfat, yang menjatuhkan tingkat pH tanah secara drastis hingga mencapai angka ekstrem 2–3 (dibandingkan pH normal tanah antara 5–7). Air asam dan beracun ini kemudian mengalir dan terbilas ke sungai-sungai sekitar saat hujan atau melalui saluran kanal. Limpasan air asam tersebut merusak kualitas ekosistem perairan, mencemari sungai, dan membunuh populasi ikan sungai secara massal. Di Kalimantan, fenomena keracunan air asam ini telah mengakibatkan penurunan stok ikan sungai secara drastis, yang pada akhirnya memukul sumber pangan utama serta pilar ekonomi masyarakat lokal yang bergantung pada sektor perairan.

Memasuki periode Januari hingga Agustus 2026, catatan kondisi karhutla di tanah air menunjukkan eskalasi yang memprihatinkan. Sebanyak 41 kabupaten/kota di berbagai wilayah Indonesia telah menetapkan status siaga maupun tanggap darurat karhutla. Kebakaran lahan yang luas dilaporkan terjadi di berbagai area konsesi, mencakup sekitar 50.000 hektar yang terbakar di kawasan perkebunan berizin Hak Guna Usaha (HGU) serta 12.000 hektar di area konsesi kehutanan. Di wilayah Kalimantan, angka luas lahan terbakar mencatatkan rekor yang cukup tinggi, di mana Kalimantan Barat mencatat 67.300 ha, Kalimantan Tengah sebesar 61.000 ha, dan Kalimantan Selatan seluas 10.000 ha terbakar.

Hal yang tak kalah meresahkan adalah munculnya episentrum baru karhutla di kawasan timur Indonesia, yakni Papua Selatan. Kemunculan titik api dan kebakaran masif di Papua Selatan ini dipicu oleh aktivitas pembersihan dan pembukaan lahan skala besar seiring masuknya sekitar 2.000 unit alat berat ekskavator melalui Merauke. Sementara itu, terkait konfirmasi data kebakaran untuk periode Agustus hingga September 2026, tim peneliti dari Pantau Gambut mengonfirmasi bahwa data tersebut masih berada dalam tahap verifikasi serta pengolahan intensif di lapangan.

Secara keseluruhan, kehancuran lahan gambut mengancam keanekaragaman hayati dan biota alami yang selama ini menjadi basis ketahanan serta kedaulatan pangan lokal. Meskipun strategi pembasahan dan restorasi gambut jangka panjang masih membutuhkan forum serta kaji ulang yang lebih mendalam, langkah awal yang konkret harus segera diambil. Seluruh elemen masyarakat, peserta diskusi, hingga para blogger dan pembuat konten diimbau untuk turut aktif menyebarkan edukasi publik dengan mengedepankan frasa lengkap "kebakaran hutan dan lahan" guna meluruskan persepsi masyarakat. 

Mengembalikan Diversifikasi Pangan

Sebagai negara tropis yang memiliki keanekaragaman pangan, kita terlalu tergantung dengan beras atau nasi.  Padahal, kita memiliki berbagai macam sumber karbohidrat. Kabar baiknya lagi, sumber karbohidrat itu bisa kita dapatkan dengan mudah, bahkan mungkin tumbuh di pekarangan rumah kita.\



Salah satu contohnya adalah singkong, ubi ungu, ubi cilembu, dan lainnya. Bahkan, ada karbohidrat yang bisa kita beli di pasar dengan mudah.

Sekarang pun banyak yang menggunakan alternatif dari karbohidrat untuk makanan sehari-hari. Tidak hanya sagu, tapi juga kimpul bisa digunakan untuk bahan dasar makanan berat.

Nah, kalau di rumah kamu, apa makanan yang bisa kamu pakai untuk pengganti sumber karbohidrat?


0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^