Feb 3, 2017

Pandangan Orangtua Mengenai Pekerja Lepas


Pandangan Orangtua Mengenai Pekerja Lepas - Ceritanya postingan ini menjawab salah satu pembaca mengenai pandangan orangtua saya, ketika saya memutuskan untuk kerja lepas. Kemudian, saya ajak sekalian Mbak Tikha, untuk menulis tema serupa yang kami posting di waktu yang bersamaan.

***

Mahasiswa, mendengar kata tersebut membuat saya berbangga diri waktu itu. Seakan masa depan cerah membentang di depan mata. Seakan ketika saya menyandang gelar A.Md di belakang nama saya, saya akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Dengan sendirinya, pekerjaan akan menghampiri saya dan saya pun tak perlu susah-susah mencarinya.

Seperti halnya dengan saya, kedua orangtua saya pun memiliki harapan besar mengenai kuliah saya ini. D3 Manajemen Informatika, memberikan harapan besar mengenai masa depan yang besar pula. Menjunjung tinggi pendidikan. Jelas, pendidikan tinggi akan memberikan derajat tinggi pula.

“Kamu sekolah. Kamu pintar. Banyak jalan yang akan menerimamu.”

Begitulah dulu saya membanggakan pendidikan saya.

Dulu, sebelum saya tahu apa sebenarnya kehidupan.

Dulu, sebelum dunia menolak saya.

Pendidikan tinggi bukanlah apa-apa tanpa skill dan pengalaman

Ini benar-benar saya alami. Ketika itu, saya sudah selesai sidang Tugas Akhir (TA), yang itu berarti saya sudah lulus. Tinggal revisi laporan saja. Nah, saya diajak teman satu kos saya yang notabene pendidikannya di bawah saya, yaitu D1. Tetapi, soal pengalaman pekerjaan dia sudah terjun terlebih dahulu. Sudah dua tahun dia bekerja sembari kuliah. Dia baru saja keluar dari pekerjaan lamanya karena gaji yang diterimanya sebesar Rp 1200.000,- setiap bulannya dirasa kurang. Dia ingin mendapatkan gaji lebih. Maka dari itu, dia mencari pekerjaan lain.

Kami melamar di sebuah toko komputer di Surabaya, kemudian kami melakukan tes interview besok Seninnya. Itu adalah kali pertama saya melakukan tes interview untuk kerja. Dari latar belakang pendidikan saya, tentunya saya lebih unggul dong, kuliahnya di bidang komputer cari kerja yang tidak jauh-jauh dari komputer. Tapi, teman saya tersebut yang diterima kawan-kawan. Apalagi alasannya kalau bukan karena dia lebih cakap dan mengenal dunia kerja.

Dari situlah, drama mencari pekerjaan tak kunjung membuahkan hasil.

Dalam blog ini sudah sering saya tuliskan pengalaman mencari pekerjaan yang pernah saya lakukan. Sampai-sampai, saya pernah kena tipu. Ehm, sudah sarjana kok masih bodoh, sih?

baca juga Jungkir Balik Dunia Freelance

Ego Sarjana yang Tinggi

Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa kata Mahasiswa benar-benar enak didengar. Membuat orang lain yang tidak bisa mencicipi bangku kuliah tergila-gila dan merasa iri. Kami – saya – yang berkuliah dan berhasil mendapatkan gelar di belakang nama saya, menjadi pongah. Terutama karena saya belum tahu, dunia kerja itu seperti apa.

Ceritanya, setelah saya melamar di toko komputer itu, saya melamar kerja lagi. Kali ini saya sudah lulus, sudah mengenakan topi toga. Saya melamar pada perusahaan yang menyediakan virtual office di daerah Wonokromo, Surabaya. Di sana, saya ditawari gaji Rp 1.500.000,- setiap bulannya. Kalian tahu, apa yang saya pikirkan saat itu?

“Kok sedikit? Saya kan sarjana D3.”

Begitulah yang terbersit dalam otak saya. Saya ingat teman saya yang D1 saja bisa dapat Rp 1.200.000,- setiap bulan. Kok, saya mendapatkan penghasilan hanya berbeda tiga ratus ribu saja?

Ego saya sangat tinggi waktu itu. Sampai akhirnya, ego saya benar-benar menurun, ketika melamar ke sana kemari, tetapi tidak ada yang menerima saya. Di situlah, kepercayaan diri saya menurun drastis. Gelar yang saya bangga-banggakan dulu sudah tak ada artinya lagi.

Di situ, saya mulai menyadari bahwa memiliki pendidikan tinggi, tidak menjamin apa pun.

baca juga Jungkir Balik Dunia Freelance

Pandangan Orangtua mengenai Freelance

Sebelum ini, saya menulis mengenai Jungkir Balik Dunia Freelance dan saya mendapatkan sebuah komentar, bagaimana pandangan orangtua ketika saya memutuskan untuk bekerja serabutan atau menjadi pekerja lepas.

Perlu diketahui, orangtua saya merupakan salah satu orangtua yang ingin anaknya memiliki jabatan. Mempunyai kedudukan, kekuasaan, dan menjadi orang terpandang. Mungkin, orangtua kalian juga demikian, dan kalian mewujudkan impian mereka.

Bisa dibilang, saya anak durhaka dan tak berguna yang sampai saat ini, saya belum bisa mewujudkan impian kedua orangtua saya. Mungkin, kalian akan berpikir, saya egois dan memikirkan diri sendiri. Itu memang benar. Saya egois, karena saya ingin bahagia.

Saat itu, satu-satunya jalan adalah memanfaatkan keahlian saya, yaitu menulis dan mendesain blog. Bukanlah pilihan bijak, jika saya terus menerus meratapi nasib karena penolakan. Bila saya tidak memanfaatkan keahlian saya, maka selamanya saya tidak akan mendapatkan penghasilan. Maka, dukungan dari teman-teman sayalah yang mampu mendorong saya untuk menghasilkan uang dari keahlian saya.

Bagaimana dengan orangtua?

Sama seperti saya, kedua orangtua saya juga berpikiran hal yang sama. Namanya sarjana itu bekerja di kantor, memiliki penghasilan tetap setiap bulannya. Bekerja di tempat yang layak, yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Saat itu, benar-benar menjadi titik balik kehidupan saya. Selama 18th saya sekolah (saya hitung dari TK), baru kali ini saya benar-benar mengecap kehidupan. Percayalah, ketika kamu lulus sekolah atau kuliah, kamu di masyarakat bukanlah siapa-siapa. Karena kamu terjun di dunia yang lebih luas.

Mungkin, ketika kuliah atau sekolah, kamu adalah mahasiswa /murid pintar, populer, prestasi segunung. Mungkin, keberadaanmu ketika di sekolah banyak yang menantikan dan tahu. Tapi, ketika melepas embel-embel mahasiswa maupun murid, maka kamu bukan siapa-siapa. Kamu tidak memiliki identitas apa pun.

Kecuali, Wulan pengangguran.

Ada kejadian di mana saya dipaksa untuk masuk menjadi pegawai negeri. Tentu saja, lewat jalur belakang. Hal tersebut bertentangan dengan hati nurani saya, terlebih lagi ketika saya sudah memutuskan untuk bekerja di rumah. Kalaupun saya bekerja di kantor, paling hanya satu sampai dua tahun saja. Kemudian, saya kembali bekerja di rumah. Nah, kalau saya diminta untuk menjadi pegawai negeri, pakai sogokan lagi. Tentu saja, hal tersebut bertolak belakang.

Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Karena paksaan tersebut, akhirnya saya menyetujuinya dengan sangat berat hati. SANGAT.

Selama berbulan-bulan saya tidak mengungkit-ungkit lagi mengenai pegawai negeri atau apa pun itu. Saya hanya berfokus pada blog, meningkatkan kualitas blog dan mengasah kemampuan mendesain saya. Sampai akhirnya, saya tidak mendapat pembahasan sama sekali mengenai pegawai negeri dan tetek bengeknya.

Saya terus mendalami dunia blogging dan mendesain blog, sampai akhirnya saya mendapatkan penghasilan dan mencatatnya. Sampai akhirnya, catatan penghasilan saya pada bulan tersebut mencapai angka 3jt. Saat itulah, saya bercerita kepada orangtua saya, mengenai jumlah penghasilan bulan tersebut. Mereka terkejut dan tidak mempercainya.

Sejak saat itu, sedikit demi sedikit orangtua mulai mendukung kegiatan saya. Saya pun, semakin sering bercerita mengenai penghasilan saya dan kegiatan saya. Komunikasi mulai lancar. Meskipun begitu, tidak jarang orangtua mengungkapkan keinginan mereka. Seperti ketika ada pencalonan sekretaris desa, orangtua kembali mencecar saya untuk menjadi sekretaris desa.

Begitulah.

Kedua orangtua saya masih mempunyai harapan anaknya menjadi orang terpandang, lagi-lagi mereka goyah. Lagi-lagi, pemaksaan digencarkan. Mereka selalu bilang, terserah saya. Tetapi, ketika saya menolak masih saja menawarkan.

Sampai sekarang, saya konsisten untuk menjadi freelancer, tidak mudah memang. Banyak perbincangan yang saya dengar, bahkan mungkin lebih banyak dari yang saya dengar. Gunjingan tetangga mengenai pendidikan saya dan lebih memilih di rumah. Mereka tak pernah tahu apa pekerjaan saya, jenis pekerjaan yang saya lakukan dan berapa penghasilan saya perbulannya.

Bagi saya, yang terpenting kita bisa menjalani hidup ini dengan bahagia, maka di manapun kita bekerja asal bahagia, kenapa nggak?

baca postingan partner saya  Apa kata ortu tentang Freelance

23 comments:

  1. Setuju, Mbak. Di tempatku banyak lulusan SMP yang sukses dengan berdagang dan berwirausaha. Memang perjalanannya panjang, tapi itu cukup membuktikan kalau gelar tidak berpengaruh dengan datangnya rezeki.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah berbagi mbak wulan..
    Ella Jogja

    ReplyDelete
  3. Aku tahu yang kamu rasakan Mbak. Aku pengen jadi full time blogger biar bisa ngurus anak tapi orangtuaku pengen aku tetap ngajar dengan gaji yang di bawah standar karena masih honorer. Pas aku ceritain soal bayaran ngeblogku apa kata mereka? Ya tetep ngajar sambil ngeblog. Yo wis. Hahahaha

    ReplyDelete
  4. Setuju sama mba Wulan. Dimana-mana pasti aku selalu mendengar bahwa yang di cari di dalam pekerjaan itu adalah skill dan kemampuan berkomunikasi, bukan hanya nilai IPK yang tinggi saja. Walaupun tidak menutup kemungkinan juga kalau hal itu j adalah salah satu syarat. Tapi bukanlah syarat yg utama. Untuk itu, sekarang aku lebih fokus mencari skill dan passion aku dimana hehe.. Semangat mba Wulan jangan dengarkan orang lain ngomong apa di belakang toh mereka mungkin sebenarnya hanya iri terhadap apa yang kita lakuin :D

    ReplyDelete
  5. mungkin kamu nulis ini sambil dengerin lagunya Iwan Fals yang judulnya Sarjana Muda 😂😂

    emang betul, gelar belum tentu berbanding lurus dengan pekerjaannya yang didapat nanti, kecuali kalau sudah punya pengalaman sebelumnya. Jaman sekarang pengalaman yang dibutuhkan, baru skill. Gelar mah ntar aja. kecuali kalo kamu mau masuk jadi PNS..hehehe

    ReplyDelete
  6. Semangat Ka Wulan :) Kalau memang sudah rezekinya, pasti ga akan kemana.

    Aku aja baru semester satu kuliah, orang tua berharapnya udah banyak banget. Apalagi ibuku yang kurang setuju dengan jurusan yang aku pelajari. Tapi terus - terusan, aku bilang kalo aku seneng disana. Gitu. Ya semoga yang terbaik aja kedepannya ya :D

    ReplyDelete
  7. Bener bnget mbak. Embel2 kek "Mahasiswa" sempat bikin aku ngiri. GLEK!!!
    Tapi sjauh ini. Aku alhamdulillahh bersyukur Tuhan kasi jalan ke aku spt ini. Walo ga bisa ngerasaiin punya embel2 Mahasiswa. Tapi aku coba mlakukannyaa dg bahagia. Meski awalnya dipaksakan juga. Namun, lambat laun saya pun merasakan kebahagian itu.

    ReplyDelete
  8. Aku mau curcol juga boleh ya...

    Rencana 1 tahun lagi kan aku juga lulus smk nih mbak.. nah mau nerusin untuk ke manajemen informasi, selain itu juga sekalian mau merantau ke tanah Jawa.. kira kira peluang lulusan menejemen itu bagaimana mbak? Apakah memang sesuah itu? Atau memang mbak Wulan sudah benar benar yakin untuk jadi freelancer saja?

    ReplyDelete
  9. Keren banget Ceritanya Mbak.. Mencerahkan saya yg masih kuliah.. Luar Biasa.. Salam kenal Mbak Wulan.

    ReplyDelete
  10. Freelancer itu dalam pandangan saya seperti udara. Gak terlihat tapi dibutuhkan banyak orang. Tidak menampakkan diri tapi dia memiliki banyak potensi.
    Tetap semangat mbk Wulan :)

    ReplyDelete
  11. Mba Wulan, aku pernah juga menjadi freelance. Tapi untunglah keluargaku tak pernah bertanya-tanya. Semoga pilihan ini terbaik ya :)

    ReplyDelete
  12. Sebenarnya yang diinginkan orang tua itu baik, tapi apa daya, terkadang anak diberi keahlian yang berbeda, bukan dijadikan orang yang bisa dipimpin, namun malah menjadi orang yang bisa memimpin

    ReplyDelete
  13. ya gimana gimana yg namanya orang tua pasti pengen punya anak yg kerjanya tetap dan bisa dibilang "lebih" dari orang tuanya, apalagi kalo sudah sarjana pengennya ya kantoran biar tidak mubazir ngunu mbak hahaha D3 kampus negeri di sby mbak?

    ReplyDelete
  14. Ortuku juga gitu, lan. Sekarang tapi udah enakan karena ngerti gimana cara kerjanya. Jadi tiap bikin postingan aku cerita gimana nulisnya, dapet ide dari mana. Malah ibu yang bilang mending banyakin jalan2 biar dapet bahan tulisan. Jadi ya, balik lagi ke gimana kita ngeyel untuk buktiin kalau freelancer nggak seremeh apa kata orang. Kejar aja terus sampai bisa beli sesuatu yang wah. Biasanya bakal diem deh.

    ReplyDelete
  15. semangat selalu ya sayangku, suatu saat orangtuamu pasti mengerti.

    ReplyDelete
  16. Mbak wulan, aku baru baca blog kamu. Kamu memang keren, memang orang - orang mindsetnya masih belum terbuka akan freelancer, padahal kalau kita liat peluang freelance dengan baik, bisa - bisa hasilnya lebih dari cukup. Semangat freelance ya mbakkk

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete
  17. Terima kasih mbak Wulan sudah memenuhi request saya :D
    Orangtua saja kurang lebih sama seperti mbak, ingin anaknya kerja di perusahaan besar selepas jadi sarjana. Kebanyakan orangtua menganggap bekerja di perusahaan itu penghasilannya pasti dan makmur. Tapi satu hal yang luput, orangtua seperti lupa kalau dunia kerja juga berkembang. Mungkin dulu lulusan SMA sudah dapat kerja yang enak, tapi sekarang S1 saja cari kerja pusing.

    Dulu kerja di perusahaan terlihat wah, kalau sekarang tidak selalu demikian. Jadi seorang freelancer maupun wirausahawan, why not? Kerja itu nikmat kalau sesuai passion dan hasilnya manis sekali kalau kita usaha dari nol.

    ReplyDelete
  18. Dulu pas belum jadi sarjana, aku malah bekerja. Setelah jdi sarjana malah kerja di rumah, hasilnya lebih besar daripada waktu kerja di kantor dan ngajar. Bisa sambil jalan-jalan lagi. Pokoke bagiku sih, tetep enak kerja di rumah..haha

    ReplyDelete
  19. Orang tua memang rata2 berpikiran seperti itu ya mbak wulan. Orang tua saya pun demikian. Hehehe. Meski saya berprofesi sebagai dokter dan saat ini bekerja sebagai pegawai BUMN, tapi rasanya kok menjadi blogger lebih menyenangkan ya, Wulan. Penghasilan dari ngeblog memang engga seberapa dibanding dengan pekerjaan profesi saya. Tapi itu tadi, bahagianya dapat. Tapi terkadang memang tidak semuanya bisa berjalan seperti yang kita inginkan. Yang penting adalah kita menikmati apa yang kita jalani saat ini. sukses terus ya wulan :)

    ReplyDelete
  20. Waah, sebelas dua belas sama cerita saya juga nih. Bener, sih memang ga ada jaminan gelar yang tinggi itu bakalan sebanding sama gaji. Tapi menurut saya, pendidikan itu penting, kalau jalan hidup ya kita sendiri yang menentukan. Kalo kata dosenku dulu, pekerjaan yg paling menyenangkan adalah hobby yang dibayar :)
    Tetap semangat Mba :D

    ReplyDelete
  21. Untungnya saat ini pandangan org ttg freelancer udah mulai membaik ya mbak, j aku optimis kemungkinan sepertinya juga akan makin baik lg saat kita yg jd generasi tuanya hehe

    ReplyDelete
  22. Bagaimana dengan saya, Wul?
    S-2 tetapi ibu rumah tangga disambi freelance.
    Bayangkan saja bagaimana ibuku kalo menelpon selalu tanya kenapa tidak mendaftar jadi PNS, hehe...
    Banyak kok pengusaha yang sukses namun strata pendidikan mereka ga tinggi-tinggi amat.
    Kalau hanya sekadar gengsi, ah saya sudah menjauh dari situ.

    Toh, dunia sementara dan terus berputar. Saya hanya selalu berpikir, semua yang dikejar di dunia dan sifatnya duniawi tidak bakalan juga dibawa mati justru bisa jadi beban ketika kelak malaikat menanyai...

    Duh, Wul... aku kayak mamah dedeh nih... *tumben komen panjang

    ReplyDelete
  23. Hhh memang ya lapangan kerja konvensional saat ini sempit sekali. Maka dari itu kita yang harus pinter-pinter liat peluang dan berusaha sendiri. Sama Mbak, aku juga merasa useless abis lulus kok keliatan nganggur di rumah. Beruntung emang mau nikah jadi bisa dijadikan alesyan wkwk

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^