Wulan Kenanga

Lifestyle Blogger, Penulis Melankolis,

19 Jan 2017

Jungkir Balik Dunia Freelance


Jungkir Balik Dunia Freelance - Pekerjaan menjadi seorang penulis merupakan impian saya sejak dulu. Lama sekali sebelum saya tahu kalau ngeblog bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Saya mengenal salah seorang penulis novel, pekerjaan utamanya adalah ya menulis novel. Kerjanya santai, nulis di kafe, jalan-jalan mencari inspirasi. Dan saya pun memutuskan untuk hidup seperti itu. Menjadi bebas, tanpa beban, tapi tetap menghasilkan income.
Saya selalu berdoa kepada Tuhan, agar saya mendapatkan pekerjaan impian saya, yaitu menjadi novelis dan hidup seperti penulis novel yang saya ceritakan di atas. Dan, impian saya terwujud. Saya menjadi penulis dan mendapatkan penghasilan dari menulis. Tetapi, bukan menulis novel melainkan menulis di blog.

Paling nggak, 80% sudah mencapai keinginan.
Saya pun menjadi freelancer mencari pekerjaan via online dan mengerjakannya di rumah. Tentu saja, setiap bulan saya mendapatkan income dari menulis blog, buzzer, dan desain blog. Alhamdulillah, saya benar-benar mensyukuri hal tersebut.
Teman-teman yang sering mampir ke blog saya ini, pastinya sudah sering melihat iklan terselubung dalam setiap artikel saya. Selengkapnya mengenai hal itu bisa membaca Disclaimer di atas.
Yang akan saya bahas di sini adalah mengenai cerita freelancer dari sudut pandang saya. Sebagai informasi, saya sudah melakukan pekerjaan lepas ini semenjak saya lulus kuliah dan baru berhasil (saya katakan berhasil karena income yang saya dapatkan cukup memuaskan) sekitar satu tahun belakangan. Sedangkan saya lulus sudah hampir tiga tahun. Kira-kira, bulan Maret besok sudah tiga tahun dari wisuda saya.
Saya nganggurnya lama sekali ya?
Its oke.
Awalnya, memang tidak mudah untuk bekerja di rumah, terlebih lagi saya tinggal di kampung dan saya menyandar gelar diploma. Tentunya, orang kampung beranggapan saya akan bekerja di tempat yang mapan dan mentereng, karena saya kuliah. Pun kedua orangtua saya.
Benar-benar tidak mudah waktu itu, terlebih lagi saat itu saya belum mendapatkan income yang pasti. Bahkan, saya pernah tidak bisa membeli pulsa internet padahal hidup saya harus terhubung ke internet. Minta orangtua pun gengsinya minta ampun.
Kamu ingin kerja di rumah, kemudian tak punya duit. Minta orangtua, sedangkan kamu sarjana.
HAHA.
Percayalah, saya sudah melamar kerja di sana sini, tapi tak ada yang mau mempekerjakan seorang introvert seperti saya.
Dan percayalah, menjadi sarjana itu tidak mudah.
Well, saya akan membahas atau curhat lebih jauh nanti mengenai hal tersebut. Sekarang, saya akan curhat versi lain yang tak jauh-jauh mengenai freelance.
Bulan depan dapat nggak, ya?
Ini beneran loh. Setiap akhir bulan, setelah pembukuan itung sana sini, yang ternyata sisa duit bulan ini tinggal sekian, sedangkan catatan sekian, dan beberapa belum masuk rekening. Saya akan memikirkan hal ini. Bulan depan dapat nggak, ya? Dapat berapa ya? Kalau nggak dapat bagaimana?
Pemikiran semacam itu terus menerus menghantui saya. Kemudian, saya akan terus menerus mengucapkan syukur. Berpikiran positif dan selalu percaya sama Allah. Rejeki sudah ada yang atur. Begitu terus. Tapi, akhir bulan depan saya akan berpikiran hal yang sama.
Ya begitulah, terus muter nggak berujung.
Rejeki sudah ada yang atur, kita yang menentukan
Rejeki memang sudah ada yang atur, tapi kalau kita tidak bertindak dan menentukan, mana bisa. Memang sih, beberapa akan datang sendiri, dengan kotak masuk meminta didesainkan blognya atau email masuk menawarkan sponsored post di blog saya. Tetapi, tidak selamanya akan seperti itu. Maka, yang saya lakukan adalah mencari informasi job di situs-situs freelancer atau informasi di grup-grup facebook.
Kenapa harus demikian? Karena kita pekerja lepas, dan pekerja lepas bukan hanya kita. Kalau ingin mendapatkan penghasilan, ya harus bergerak. Jangan mau menunggu. Kalau bisa jemput, ya jemput saja. Percayalah, di luar sana banyak pekerja lepas juga. Sama-sama cari penghasilan, pun banyak orang yang iri sana sini.
Hidup penuh sandiwara, Kawan. Bersiaplah!

baca juga Situs - Situs Marketplace Untuk Freelance
Freelancer tanpa nabung, bagai pacaran tanpa nikah
Sebenarnya, tak hanya menjadi freelancer saja untuk masalah nabung. Tapi, pekerjaan apa pun harus rajin menabung. Sisihkan uang 20% dari tabungan atau berapapun itu. Sangat perlu. Biar kita tahu, kalau kita ini bekerja. Terutama menjadi freelancer ya. Kerjanya nggak kelihatan, tapi hasilnya harus kelihatan dong. Caranya ya, dengan menabung. Sejak menjadi freelancer saya jadi rajin menabung. Menabung bagi saya wajib hukumnya. Berapapun. Jangan sampai ya, akhir bulan hanya ada catatan-catatan tak bertuan. Horor, kan?
Dengan menabung pun menjadi semacam reward bagi diri sendiri. Jadi ketika melihat buku tabungan, saya akan semakin semangat untuk mengumpulkan pundi-pundi emas. Membuat saya semakin menghargai pekerjaan juga.
Kehidupan ini tak pasti, tapi hidup freelancer lebih tak pasti lagi.
Belajar menahan diri, boros haram hukumnya
Ini judulnya ngibul sekali ya. Padahal saya salah satu freelancer boros. Astaga, saya susah sekali menahan diri untuk tidak beli-beli. Padahal, saya hanya membiayai kehidupan saya sendiri. Tinggal dan makan pun sama orangtua. Seharusnya, saya bisa menabung lebih. Tapi, susah sekali. Itu Alhamdulillah sekali saya bisa menabung setiap bulannya.
Dan inilah alasan kenapa saya jarang sekali nongki-nongki cantik di kafe, karena itu merupakan salah satu hal yang membuat kita boros. Ternyata ya, meskipun ada penghasilan, ke mana dan nongkrong di mana pun perlu mikir dua kali. Takut menjadi boros dan tidak bisa menabung.
Sebenarnya, belanja juga merupakan salah satu cara membahagiakan diri sendiri. Menjadi reward  untuk diri sendiri. Belanja boleh saja sih, tapi harus menahan diri biar nggak boros. Begitu, ya. 
Jangan coba-coba hutang, itu neraka!
Seperti yang kita ketahui, income freelancer itu tidak menentu. Terkadang bulan ini kaya raya, mungkin bulan depan biasa saja. Terkadang kerjaan banyak, pemasukkan dikit. Kadang pekerjaan dikit, pemasukkan banyak. Begitulah. Nano-nano. Makanya, karena itu benar-benar usahakan jangan hutang. Alhamdulillah, sampai saat ini saya belum pernah menghutang. Takut sendiri. Apalagi mencicil. Duh, lebih menakutkan lagi.
Kalau ingin membeli sesuatu ya, menabung dulu saja. Biarpun sedikit lama, tapi paling tidak kita tak perlu menghutang. Kalau ingin membeli tas kipling di Mapemall ya langsung beli cash. Nggak perlu menghutang, tinggal merelakan tabungan saja. hihi
Pertanyaan horor dunia freelance, kamu kerja di mana?
Sudah saya bilang, menjadi sarjana itu tidak mudah. Saat kamu kelihatan menganggur di rumah – padahal menulis sampai mata merah, punggung sakit, dan melawan kantuk – kamu akan ditanya kerja di mana? Nah, ketika saya ditanyai demikian saya akan menjawab jujur. “Di rumah,”kemudian hening. Mereka akan berpikir, oh, pengangguran atau oh apa. Itu kalau mereka berhenti bertanya. Kalau lanjut, mereka akan bertanya “Kerja apa?”, kamu jawab,”Ngeblog.” Kemudian, kerutan di dahi mereka semakin kentara. Mereka tidak tahu apa itu blogger, ngeblog, freelancer, sosial media dan apalah. Tugas kamu adalah menjelaskan semua itu, meskipun ending-nya mereka tetap tidak mengerti.
Apa pun keputusan kalian, kamu, saya, mereka, dan kita itu semua hak masing-masing. Ingin keluar dari kantor dan memutuskan untuk menjadi fulltime blogger ya, monggo. Ingin tetap bekerja di kantor tapi juga ngeblog, silakan. Yang tidak boleh itu menyamaratakan kehidupan oranglain dengan kita. Bisa jadi, saya memang cocok bekerja di rumah, menjadi penulis, blogger. Tapi, belum tentu orang lain cocok. Bisa jadi, memang bukan di sini dunia mereka.
Well, apa pun itu, tetap semangat menjalani hidup. Percaya Allah menyediakan segalanya untuk kita. Kita yang harus menjemputnya.

 xoxo,
Wulan K.

38 komentar:

  1. Semangat.

    Jawabnya kerja di rumah tapi dapat duit.

    BalasHapus
  2. ngena banget sama diri sendiri mbak, ditanya teman kerja dimana? . kalau dijawab blogger, mereka nanya di perusahaan apa tu?. ya solusinya diem aja n mengalihkan pembicaraan mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diam saja ya. Kalau dijelasin juga nggak bakalan ngerti.

      Hapus
    2. ya mbak, dijelasin juga mereka cuma berpikir kita hanya main main, kecuali kita bawaan mereka buku tabungan telah terisi tanpa mereka tahu darimana uang nya datang heheh

      Hapus
  3. Wkwwkk... sama mbak, beberapa bulan kemarin pas freelance, ortu juga berpikir kerja di mana? Padahal di dean laptop. Sambil freelance sekrang juga lagi belajar jualan di toko online. Soalnya freelance gak tetap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga pengen jualan. Tapi, jualan apa?

      Hapus
  4. Kerjane ora ketok hehehe, rezeki sudah ada yang ngatur ya mba, yang penting sebagai mansuia kita ikhtiar.
    Semangat

    BalasHapus
  5. Saya memulai freelance ini bahkan dari kondisi minus alias berhutang. Benar emang jungkir baliknya sengeri halilintar di dufan. Tapi kalo bisa melewati fase jungkir balik ini, insya Allah ujungnya manis.

    Semangat! :-D

    BalasHapus
  6. Dunia freelance memang unik sih
    Bonusnya bisa ngatur waktu sendiri

    BalasHapus
  7. Yang penting menghasilkan uang *eh

    BalasHapus
  8. Bener banget freelance itu deg2an mulu hehehe, mesti pinter2 mengatur pendapatan. Selalu berdoa kenceng semoga ada rejeki halal di bulan2 berikut nya

    BalasHapus
  9. Tulisan bagus, mbak. Aku juga lagi belajar belajar nih bisa ngehasilin duit dari nulis nulis hehe, walaupun belum seberapa.

    BalasHapus
  10. Mbak, bisa cerita sedikit gimana tanggapan orangtua pas tau mbak pengen terjun sebagai freelancer? Apakah mendukung atau bagaimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti, Insya Allah saya posting di blog ya :)

      Hapus
  11. Pekerjaan sebagai blogger sekarang sudah mulai menjanjikan ya mbak :)

    BalasHapus
  12. tetap optimis. karena di dunia luar sana, sudah mulai ngeh kekuatan jagad peronlinenan untuk cari duit. entah jadi freelancer atau jualan online.

    BalasHapus
  13. Di rumah dapat uang itu bikin bingung orang awam, mba.
    Semoga rejekinya lancar mba.

    BalasHapus
  14. Mba wulan kok mirip banget sama aku.. 😐 cuma sekarang aku ga freelancer karena ga tahan klo ditanya "kerja dimana?". Setelah 8bulan "nganggur" akhirnya aku putuskan utk mengajar sambil ngeblog juga,, income blog belum seberapa tapi aku suka blogging. Dan ketika ada sponsor yg datang, itu something banget 😊

    BalasHapus
  15. Bener mba, Pengalamanku pas lepas dari sekolah (belum dapet kerja waktu itu), ditanya temen-temen "kerja dimana sekarang?" "Saya Freelancer." lalu mereka terbahak-bahak.

    Yah, mau ngotot juga gimana, kadang mereka ngasih job juga. Sukaduka freelancer emang gitu, kl project lgi kosong yaa pusing. Sekarang udah kerja malah kangen freelance lagi. :D

    BalasHapus
  16. I feel you, Wulan hahaha. Terutama soal ngatur duit. Suka sebel kalau ada yang bilang lah gimana entar aja. Meski ada aja rejeki yang masuk, pas beneran bokek dan harus nunggu waktu cair itu kayak kebelet pipis di angkot dan susah nyari toilet umum yang paling deket (analogi absurd emang hahaha). Ya kali punya suami bisa minta, kalau masih single minta siapa coba?

    BalasHapus
  17. Toss wulan, aku juga merasakan beratnya cari kerja hingga akhirnya mengukuhkan diri jadi penulis buku dan blogger yang kerja di rumah, tiap bulan deg2an emang haha

    BalasHapus
  18. Hebat lo yang bisa kerja di rumah yang bisa fokus, disiplin, kejar target. Karena di rumah justru banyak tatangan dan godaannya 😂😂

    BalasHapus
  19. yang penting dapet uang dan berkarya kan?

    BalasHapus
  20. Betul wul...nabung itu perlu. Nabung itu wajib... uang yg aku dapatkan dari kerjaan beginian emang sengaja nggak aku utak atik. Alhamdulillah sudah cukup buat travelling ala ala, tp aku mau nabung terus buat dana simpanan/cadangan. Saling mendoakan wul...semoga halal dan berkah...amiiin

    BalasHapus
  21. Sip mbak, semoga sukses aku juga batu memulai hehe dari dulu kok memulai ya hehe

    BalasHapus
  22. Malahan ada yg bilang cari duitnya ngepet karena ga pernah keluar rmh -_-

    BalasHapus
  23. yang penting tetap berkarya terus dan bonus akan mengikuti kok

    BalasHapus
  24. Di desa pekerjaan freelance penulis dan ngeblog itu sangat tidak populer bahkan tidak ada yang tahu. Jika ada yang bertanya ke saya mengenai kerjakan saya, sekarang ini saya gak perlu menerangkan sampai berbuih cukup menyuruh mereka baca postingan saya di blog yang membahas hal tersebut, mengerti atau tidak urusan mereka sendiri yang penting sudah usaha

    BalasHapus
  25. kalo ditanya bilang aja jualan di internet mbak, hehe jual jasa desain blog, jasa promosi (via review), dll termasuk jualan kan, daripada ntar yg tanya pada pusing denger istilah blogger dll :D

    aku juga ngerasain itu, akhir taun kmrn jd sarjana, pada ditanyain semacam sudah kerja blm, kerja dmn, aku jawab aja jualan di internet, hehe

    BalasHapus
  26. bener mbak munasyaroh di desa malah kalau cuma kerja ngeblog and dapat jog .. eh malah disangka melihara tuyul ... ngeblog bagi saya hanya untuk menuntaskan rasa dahaga saya dalam berkarya

    BalasHapus
  27. hai Wulan, beruntung banget ya bisa bekerja sesuai cita-cita. semoga pendapatan sebagai freelancer semakin meningkat, amin ^^

    BalasHapus
  28. Kisahnya keren banget Mbak.. Hanya akan ditekuni oleh orang-orang yang berani! sugooi!

    BalasHapus
  29. Kalo aku ditnaya pekerjaan, sekarang bisa jawab santai, "Sistem remote Mbak/Mas, bisa dikerjakan dari rumah." :D

    Aku pun termasuk freelancer yang boros, gampang banget tergoda promo. XD

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^