Sep 15, 2017

Buku Fisik atau Buku Digital? #TimBukuFisik


Buku Fisik atau Buku Digital? #TimBukuFisik- Bagi saya, polemik mengenai buku fisik atau buku digital sangat krusial, setara dengan masalah ibu-ibu mengenai ASI atau susu sapi, ibu pekerja atau ibu rumah tangga, makan beng-beng dingin atau langsung dan semacam makan bubur ayam diaduk atau nggak diaduk. Segenting itu. Oke, saya berlebihan. Tapi, memang seperti itulah saya.

Semakin majunya tekhnologi, bentuk buku pun tak hanya berupa buku fisik tapi juga ada buku digital atau biasa disebut ebook. Memang, ebook lebih efesien, mudah dibawa, tidak memakan tempat banyak dan kita bisa membaca banyak buku. Akan tetapi, meskipun ada ebook tak sertamerta orang-orang berbondong-bondong mengganti buku fisik dengan ebook, contohnya seperti saya. Saya tetap setia membeli buku fisik. Apa saya pernah membaca ebook? Pernah. Apa saya pernah membeli ebook? Sama sekali nggak, kecuali itu ebook gratisan – xoxo.


Tentunya, ada alasan-alasan rasional berbalut melankolis yang mendasari kenapa saya lebih menyukai buku fisik ketimbang ebook, meskipun banyak sekali kelebihan-kelebihan ebook yang tidak dimiliki buku fisik. Terlebih lagi, alasan mendasar saya tetap bertahan pada buku fisik dapat dikatakan alasan mengada-ada, sepele dan tidak masuk akal. Tapi, kalau sudah cinta, mau bilang apa?

Bisa dikatakan, saya ini pecandu internet, gadget dan semua hal yang dikaitkan dengan kehidupan milenials. Tapi, dalam beberapa kasus, saya tetap menyukai hal-hal kuno. Namun, bagi saya membaca buku fisik bukanlah hal kuno, tapi saya lebih suka menyebutnya dengan klasik.

Berbanding terbalik dengan PIC aka partner in crime saya, Mbak Tikha yang lebih menyukai ebook ketimbang buku fisik. Ya, meskipun dia tetap suka membeli buku fisik dan membacanya, tapi Mbak Tikha nggak segan-segan untuk membeli ebook dengan jumlah cukup banyak. Dia mengatakan, jika dia membaca ebook, dia bisa menghabiskan banyak bacaan ketimbang ketika membaca buku fisik. Disamping itu, harga ebook terbilang lebih murah – jauh lebih murah- ketimbang buku fisik. Tetapi, bagi saya ebook semacam harapan semu yang diberikan cowok-cowok tukang PHP pada kekasihnya.

Kenapa saya menyebut ebook semacam harapan semu? Karena kita nggak bisa memiliki ebook sepenuhnya, guys. Ada batas-batas waktu akses yang diberikan atau kita tak bisa benar-benar menyentuh buku tersebut. Iyalah, yang kita rasakan hanyalah datarnya layar smartphone atau iPhone.

Terlebih lagi, kita nggak bisa membagi bacaan dengan kawan kita atau menaruhnya dalam rak-rak buku di dinding. Apalagi soal melankolis dan menyenangkannya, ketika kita mencium aroma buku. Beh, nggak ada duanya!

Alasan lain kenapa saya kurang menyukai ebook karena saya kesulitan menemukan halaman terakhir yang saya baca, meskipun katanya sudah ada cara khusus untuk menangani hal tersebut. Tapi, tetap saja rasanya berbeda ketika saya membaca buku fisik.

Kenapa sih, harus buku fisik? Bukannya buku fisik sekarang amat mahal, apalagi kalau yang nulis itu penulis terkenal semacam Dee Lestari, Ika Natassa dan Tere Liye? Seperti yang kita ketahui bersama, semakin terkenal nama penulis, semakin mahal pula harga bukunya, meskipun ketebalan tidak mencapai satu centimeter.

Selain alasan melankolis suka buku fisik karena aroma buku pun saya menyukai buku fisik lantaran memang sudah terbiasa membaca buku fisik sejak kecil. Mulai dari buku komik, pelajaran, novel dan lain-lain. Entah kenapa, saya benar-benar menyukai buku fisik, sejak dulu. Sejak saya sebelum mengenal novel. Saya pun suka mengoleksi buku, menata rapi di rak-rak, membongkar, menata lagi, mencium aromanya. Begitu terus berulang-ulang. Dan yang paling penting adalah saya bisa memotret kalau itu buku fisik. Ebook? Sama saja saya motret smartphone atau tablet, iya kan? Belum lagi, buku fisik memiliki sampul yang cantik atau minimalis yang dapat saya sentuh dengan jari-jari dan merasakan tonjolan-tonjolan di atasnya.

Dengan buku fisik, kita bisa selfi, sedangkan ebook tidak. Rasanya aneh saja, sih. Memotret iPhone atau smartphone buat selfi.

Sebenarnya kita bisa kok, memiliki buku fisik tanpa harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Tentu saja, bukan dengan membeli buku bajakan loh. Pintar-pintarnya kita saja, membeli buku di mana. Saya lebih sering membeli buku via online karena pasti harganya sudah diskon. Lalu ongkos kirimnya bagaimana? Ya, belinya jangan hanya satu, siasati dua buku atau maksimal empat buku. Kalau hanya ingin dua buku bagaimana? Ajak teman, kali saja mereka juga ingin membeli buku.

Saya kemarin membeli buku Fiersa Besari, yang sedang naik daun itu. Harganya lumayan mahal, tapi dengan saya membeli via online dan patungan bersama teman, saya bisa berhemat Rp. 30.000,- dari harga asli. Itu sudah termasuk ongkir juga.

Dulu, saya pun sering ke toko buku offline tapi bukan Gramedia, karena di Gramedia harganya pasti memang segitu dan nggak ada diskon sama sekali. Di Surabaya ada toko buku Rumah Buku dan Uranus, keduanya berdekatan dan diskon 20%-25%. Sayangnya, Rumah Buku sekarang sudah nggak ada lagi, sehingga tinggal Uranus.

Memang, selera setiap individu berbeda dan mereka pasti punya alasan masing-masing, kenapa lebih menyukai ebook ataupun buku fisik. Bukan berarti, saya harus memaksa kalian untuk tetap menyukai buku fisik daripada ebook dan bukan berarti saya membenci ebook,loh. Sebenarnya, dengan adanya buku digital kita sudah mengurangi penggunaan kertas dan membuktikan cinta bumi dan seisinya. Bisa menjadikan salah satu gerakan bumi sehat.

Jadi, saya #TimBukuFisik. Kalau kalian bagaimana?

baca postingan Mbak Tikha juga ya Ebook atau buku fisik



1 comment:

  1. Aku tim buku digital. Tapi kalo bukunya suka banget aku bakal beli buku fisiknya juga. Jadi ebook ini semacam tester apakah aku bakalan tertarik atau nggak dengan isi bukunya. Klo ga suka bisa hapus unduhannya lalu pindah bacaan lain. Selain itu hemat space. Di rumah rak buku udah penuh semua, jadi pilihannya ada dua, ngurangi buku agar bisa nambah buku fisik, atau beli ebook biar tetep bisa update bacaan baru, ya gitu deh. Masing2 orang punya alasan kenapa lebih suka buku fisik atau digital, lan. Balik lagi ke orangnya. :D

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^