Mar 25, 2015

#RabuMenulis : Perjalanan Takdir


Berbagai kejadian yang tengah terjadi belakangan ini, membuatku berpikir ulang. Seandainya saja, dahulu, kami tidak pernah saling mengenal, mungkin kami akan hidup dalam dunia masing-masing tanpa ada caci maki.

             Tepat pada 25 Maret lima tahun yang lalu, kami bertemu dalam sebuah toko buku. Reg membawa tas selempang dengan rambut basah terkena hujan, dan aku mendekap kedua tanganku menahan dingin. Saat itu, aku tengah mengambil sebuah buku dan Reg melakukan hal yang sama. Setelah itu, kami berkenalan.

             Dengan bantuan kompas, aku kembali ke masa lima tahun lalu. Ini, adalah satu-satunya cara agar kami tak saling mengenal satu sama lain. Maka kuputuskan untuk pergi ke masa di mana aku masa belia itu.
       
            Awalnya, mataku berkunang-kunang, kepalaku terasa berat, dan tubuhku seakan terdorong untuk terus masuk pada lubang kompas yang kupegang. Aku tengah menjalani waktu layaknya dalam film Doraemon yang masuk ke dalam laci meja milik Nobita. Setelah kesadaranku pulih, akhirnya aku mengenali tempat di mana aku berada.

                 Di depan pintu toko buku pada 25 Maret 2010.

            Tak lama kemudian, diriku yang lebih muda lima tahun, tengah berjalan tergesa di bawah rintikan hujan. Mendekap jaket berwarna hijau tua. Segera aku bersembunyi, memalingkan wajah, agar diriku yang lebih muda tak mengenaliku.

            Setelah aku- Welan muda- tengah berjalan cepat memasuki toko buku, segera aku mengikutinya dari belakang. Mencari cara agar ia tak bertemu dengan Reg dan mencegah mereka saling mengenal.
            Selama membututi Welan muda, aku berpikir keras bagaimana caranya agar ia tak pergi ke rak fiksi dan akhirnya, berdebat dengan Reg kemudian mereka berkenalan, berteman, dan menikah.

            Namun, belum sempat aku mempunyai ide untuk itu, aku sudah melihat Reg masuk ke dalam toko buku yang sama dengan rambut basah. Persis seperti yang kuingat dahulu kala.

           Aku mulai panik, waktuku tak banyak. Sebentar lagi mereka akan bertemu. Lalu, bagaimana caraku mencegahnya? Lalu, mataku melihat seseorang sedang menyulutkan api pada batang nikotin miliknya. Segera kuhampiri laki-laki itu dan meminjam korek api miliknya.

            Setelah mendapatkan korek api dari laki-laki itu, aku segera bersembunyi di balik rak tempat Welan muda berdiri. Kunyalakan korek api yang kupegang dan segera kubakar lembaran-lembaran kertas dalam rak tersebut. Dengan cepat api menyambar dan aku segera keluar dari toko buku beserta pengunjung lainnya.

            Kemudian, ketika kakiku menginjak ubin di luar toko buku, aku tertegun. Bagaimana jika Welan muda tak selamat dari kobaran api di dalam? Jika begitu, itu artinya aku akan lenyap pula.

            Aku hendak kembali ke dalam toko buku tersebut, namun kobaran api begitu hebatnya. Asap yang keluar begitu pekat hingga membuatku terbatuk tak keruan. Kemudian kepalaku terasa berat dan semuanya menjadi gelap.

            Mungkin, memang Welan muda tak bisa selamat di dalam sana. Betapa bodohnya aku?

***
Mataku sulit sekali untuk dibuka, namun aku merasakan seseorang menggengam tanganku dengan hangat.

            “Reg?”tanyaku parau. “Bagaimana kau bisa di sini?”

            “Tenanglah. Kau terlalu banyak minum.”

            “Bagaimana bisa kita bertemu? Lima tahun lalu, kebakaran itu. Bukankah, aku tak selamat?” 

            Reg tersenyum. “Aku menyelamatkanmu.”

            Aku mendesah. Bagaimanapun aku berusaha agar kami tak bertemu, takdir selalu punya cara lain untuk menyatukan kami.




#RabuMenulis


 photo Ullan2.png

1 Comments:

  1. Hehehe mesin waktu Doeraemon nih :D Tapi tetep aja yach secanggih - canggihnya alat gak bisa ngubah takdir :)
    Jangan lupa mampir blog baruku yach : www.cerpen-case.blogspot.com makasih :)

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^