Nov 26, 2015

Sekelumit Cerita dari Job Seeker

Saya sekedar ingin berbagi pengalaman saja sih, mengenai pengalaman saya sewaktu melamar kerja sana sini. Sebelumnya, saya sudah pernah membahasnya. Dan, salah seorang teman blogger berkata kalau kita harus berani dan pintar dalam "menjual diri". Yah, saya sadari kalau hal itulah yang membuat saya atau teman-teman sulit menarik perhatian pewawancara dan sulit mendapatkan pekerjaan.

Paling tidak, kita tahu. Kita sulit mendapatkan pekerjaan bukan karena kita bodoh. 

Hanya kurang pintar dalam menjual diri.



Kata yang saya pakai kok terkesan gimana  gitu, ya. Menjual diri. Kesannya semacam konotasi negatif yang sering kita dengarkan untuk perempuan-perempuan yang itu tuh. *haha*


Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengikuti acara talkshow di Malang. Saat itu pembicaranya adalah Mbak Windi. Mbak Windi berkata, ia sedang menjual diri. Berdiri di depan kami, berbicara, merupakan bentuk "menjual diri" yang ia lakukan. Semakin ke sini, ternyata kata "menjual diri" tak melulu berkonotasi negatif. Kalau dipikir-pikir, memang iya sih. Kita pergi wawancara kerja, menunjukkan potensi yang kita miliki, merupakan salah satu bentuk dari menjual diri.

Dan, di situlah kelemahan saya.

Sekitar bulan Agustus lalu, saya mengikuti wawancara kerja di Klinik yang baru saja berdiri dekat rumah. Klinik tersebut berdiri tepat di sebelah rumah Pak Lek Ali, di depan rumah Pak Lek Kan dan Pak Lek Har. Bisa dikatakan, klinik tersebut dikelilingi rumah-rumah sanak saudara. 

Sebelum saya pergi wawancara, Pak Lek Ali sudah menitipkan saya pada pemilik, kalau saya juga melamar kerja di situ. Tapi, setelah wawancara ternyata saya tetap tidak diterima. Kecewa dong saya. Bahkan, saya sudah lewat jalur "keluarga" pun tidak diterima. Segitu parahkah saya tidak bisa menjual diri? Tapi, kemudian saya berpikir, oh mungkin Bu Dokternya tidak suka jalur semacam itu. Beliau ingin menerima seseorang yang benar-benar bagus dibidangnya.

Oke, saya terima. 

Tapi, kemarin saya mendengar cerita. Bulek Wiwik, istri Paklek Ali bertanya sama Bu Dokter. "Bu, keponakan saya kok nggak dipanggil kerja?"Bu Dokter kaget. "Lho, sudah begitu, Bu."

Telisik punya telisik, ternyata ada orang lain yang mengaku-aku sebagai keponakan dari sanak famili saya tersebut. Dengar dari cerita Bulek Sob - istri Paklek Har -, anak tersebut dari tetangga sebelah, dan mengaku sebagai keponakan dari Paklek dan Bulek saya. Dan, Bu Dokter pun akhirnya merasa tidak enak sama keluarga saya dan menyesal karena sudah dibohongi.

Saya merasa lucu dan kesal saja sih, sama perempuan itu. Bisa-bisanya mengaku sebagai keponakan dari Paklek dan Bulek saya. Orang saya yang keponakannya tidak berani mengaku-aku lantaran benar-benar ingin jujur dan murni masuk sesuai kemampuan saya. 

Lalu, cerita bergulir ketika Bulek Sob datang ke Klinik. Seorang pegawai bertanya, "Ibu yang rumahnya di depan, ya?"Bulek Sob mengangguk. "Oh, Buleknya Si Perempuan, ya?"Bulek saya bingung, "Si Perempuan siapa?"tanya Bulek. "Itu loh Bu, yang lagi sholat."pegawai tersebut menunjuk seorang perempuan yang lagi sholat dekat situ. Bulek saya pun mengangguk karena kasihan sama si perempuan. Takut kalau dia nantinya malu kalau Bulek Sob berkata tidak.

Ah, terkadang hidup selucu ini ya. Ada orang-orang yang melakukan sesuatu demi mendapatkan keinginannya. Tidak peduli ada orang yang seharusnya berhak akhirnya harus mengalah. 

Dari pengalaman saya ini, tidak semua orang suka dengan orang yang jujur. Hidup jujur pun terkadang tak enak.

Sekedar berbagi saja sih. 

Ah, memang belum rejeki saya.






9 Comments:

  1. Hiks, sedih pastinya. Mak jleb gitu -,-

    ReplyDelete
  2. Belum rejekinya mba :)
    semoga diganti yg lbh baik

    ReplyDelete
  3. Sebuah kejujuran itu mahal harganya. Meski kadang apa yang kita rasakan pahit, ya kita harus jujur #keepspirit salam kenal ya dariku @kakdidik13 Bojonegoro :D

    ReplyDelete
  4. heheheh berusaha "jujur" dalam prakteknya balasannya kebanyakan pahit sih, tapi insya'allah nantinya berkah dan kita akan menerima hasil yang jauh lebih baik :)

    ReplyDelete
  5. Ishhhh... nggak tahu malu banget ya perempuan itu. Ikut kesal aku.
    Sudah. Semoga nanti kebenaran akan terungkap. Dan semoga dirimj dapat ganti yg lebih baik. Aamiin

    ReplyDelete
  6. Perempuan itu telah menjual martabatnya untuk mendapatkan martabak. Padahal lebih baik menjual martabak untuk mendapatkan martabat ya Nduk
    Jujur adalah segala-galanya
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
  7. aku jd gemes mbk, koq gk takut ketahuan gtvya, udh boong kayak gt..
    semangat mbk wulan, Pasti ada yg lebih baik lagi,amin

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^