Nov 25, 2015

Selamat Hari Guru : Guru Favorit

Selamat Hari Guru- Mengulang kembali kenangan masa silam. Ketika kaki mungilku menginjakkan kaki kali pertama di bangku taman kanak-kanak. Ketika dengan sabar orangtua keduaku, memintaku untuk berbaris rapi di depan pintu kelas. Bernyanyi sembari menggerakkan tubuh dan tersenyum ceria. Mengingat kembali di mana guruku mengajariku untuk menggambar, mendengarkan cerita. Saat mengenang itu semua, saya merasa terenyuh.

Apa kabar wahai engkau guruku?

Ingatan saya kembali ketika hendak lulus dari sekolah dasar, ketika ujian praktik Bahasa Indonesia. Saya ditanya, apa jasa guru untuk saya? Saya ingat benar ketika itu saya terdiam. Berpikir keras, apa saja jasa guru bagi saya? Cukup lama bibir saya terkatup dengan mata menerawang tak berani menatap keempat mata guru saya di depan. Kemudian, salah satu guru saya berkata. “Kamu tidak tahu apa jasa guru untuk kamu? Lalu, bagaimana kamu bisa menulis? Membaca? Berhitung?”

Seringkali, kita terlalu jauh berpikir sehingga tak menyadari hal yang sesederhana itu. Terlalu jauh melihat sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami, padahal di depan kita terpampang dengan jelas. Siapa yang mengajariku menulis dan membaca kalau bukan guru?

Bagaimana mungkin hal sesederhana itu terlupakan? Membaca dan menulis telah mendarah daging di kehidupan kita semua. Lebih-lebih bagi blogger dan penulis. Siapa yang mengajari kita untuk mengeja, melafalkan kata, merangkai kalimat jika bukan seorang guru? Faktanya, memang bukan guru di sekolah saja yang berjasa akan hal itu. Tapi juga orangtua. Siapa pun itu, orang-orang yang telah membantu kita untuk menjadi lebih mengerti. Dari tidak tahu sama sekali, menjadi sangat paham, adalah seorang guru.

Apa jadinya saya saat ini, jika dahulu tak ada yang mengenalkan saya pada huruf dan suku kata. Mungkin, saya tidak akan pernah sampai pada titik ini. Mungkin, selamanya saya tidak akan pernah menjadi penulis. Selamanya, saya akan menjadi Wulan yang tidak tahu apa-apa. Saya mengerti sekarang, kenapa guru sangat berjasa bagi saya, bagi negeri ini.

Berbicara mengenai guru, saya masih ingat siapa-siapa saja guru favorit saya ketika itu. Ketika di bangku sekolah menengah pertama, saya mempunyai seorang guru Biologi, namanya Pak Ikhsan. Beliau orangnya tegas, tak punya ampun untuk siswa yang tak patuh. Tapi, di balik ketegasannya tersebut, Pak Ikhsan memiliki cara mengajar yang berbeda.

Saat mengajar, beliau jarang membawa buku wajib. Cara mengajarnya seperti bercerita. Ketika ujian pun berbeda. Kami hanya perlu selembar kertas, dan menulis jawabannya langsung di kertas tersebut ketika beliau memberi pertanyaan.

Begini, salah satu pertanyaan yang beliau utarakan yang masih saya ingat hingga saat ini. Pak Ikhsan meletakkan sebuah vas bunga di atas meja, kemudian berkata, “Benda ini diam atau bergerak?”ucapnya sembari menunjuk vas bunga tersebut.

Jawabannya adalah bergerak, karena bumi bergerak sesuai porosnya. Pergerakan bumi begitu cepat, sehingga kita tak terasa. Gempa bumi terjadi ketika bumi bergerak lamban.

Pak Ikhsan suka memelajari segala hal, termasuk mengenai agama. Beliau muslim yang taat, tapi juga mempelajari agama lain. Ingat ya, mempelajari agama lain, bukan meyakini atau menganutnya.

Dulu, kami dibentuk menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok menanam pohon di sekolah dan bertanggung jawab untuk merawatnya hingga kami lulus. You know, pohon itu tumbuh besar sekarang. Sekolah SMP saya dulu menjadi sangat rindang. Ada kebanggaan sendiri melihat pohon kami tumbuh besar.

Kami juga pernah diminta Pak Ikhsan untuk mengetes golongan darah kami sendiri. Masing-masing dari kami diberi jarum suntik untuk menusuk ujung jari kami untuk mengambil sampel darah. Setelah itu darah dicampur dengan cairan khusus di atas kaca pratikum, kami ditanya, apa golongan darah kami. Saat menjawab harus yakin. Jika yakin dan benar kami mendapat nilai 100, jika tidak mendapat nilai 0.

Kegiatan pratikum tersebut, selain memberi saya ilmu lebih, tapi juga memberi keberanian bagi kami. Bisa bayangkan bagaimana rasanya menusuk ujung jari dengan jarum suntik? Ada teman saya sampai pingsan karena hal itu. Tapi, demi pelajaran Biologi dia mengalahkan rasa takutnya.

Untuk Pak Ikhsan, beserta guru-guru yang pernah hadir dan membantu saya selama ini, dan untuk guru-guru di luar sana, selamat hari guru. Tanpa kalian, kami hanyalah sebuah kertas kosong.

Begitulah, kenangan saya mengenai sosok seorang guru. Tentu, teman-teman punya guru favorit masing-masing yang teman-teman kenang hingga saat ini. Jadi, siapa guru favoritmu?




4 Comments:

  1. Banyak kenangan bersama guru-guru kita ya..semoga amal mereka diterima sbg amal jariyah

    ReplyDelete
  2. guru favoritku guru matematika ... :)
    tpi beliau sdh sepuh sekrg ,,,

    ReplyDelete
  3. Gak punya guru favorit, bukan murid teladan sih. :( Malah sering diadikan bahan gunjingan guru. :(

    ReplyDelete
  4. guru smp saya adalah guru matematika yang ketika saya mengajar justru jadi rekan kerja

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^