1 Feb 2018

Pilih Penulis atau Fotografer?


Kalau ditanya, “Lebih suka menjadi penulis atau fotografer?”

Saya akan menjawab, “Penulis.”

Profesi seorang fotografer dengan ke mana-mana menenteng kamera, mengangkat mirrorless tinggi-tinggi menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Meskipun, kita tak pernah tahu itu mirrorless hanya sekadar pajangan atau memang benar-benar terpakai. Saya, yang mempunyai Etro hampir dua tahun bahkan belum tahu dengan benar Etro seperti apa, saya adalah photographer auto yang selalu memakai mode auto dalam setiap jepretannya. So what?

Jika sebelumnya saya bercerita akhirnya saya tidak freelance lagi, sekarang saya mau katakan per tanggal 20 Januari lalu, saya resmi resign dari salah satu situs direktori makanan di Surabaya. Saya bekerja secara freelance selama tiga bulan dan tetap selama satu bulan. Bisa dibilang, saya menjadi food photoghraper selama 4 bulan. Dan, saya berharap selama itu sudah lebih dari cukup untuk menambah skill memotret saya. Sayangnya, sampai saat ini saya belum menemukan feel memotret  dalam kuliner.


Saya tidak tahu mengapa.

Apakah saya berhenti memotret? Tentu tidak. Selama saya masih punya kamera, selama saya masih mempunyai Etro, saya akan terus memotret. Ada tidaknya feel di dalamnya, saya akan terus mengasah apa yang memang sudah saya pilih. Tentu saja, yang paling utama adalah dalam dunia tulis menulis, terutama dunia fiksi.

Saya berangkat dari menulis fiksi, menulis puisi, cerpen, flash fiction, dan novel. Wulan Kenanga, lebih ingin dikenal sebagai penulis fiksi, bukan fotografer maupun blogger. Semua hal yang saya lakukan saat ini, menulis artikel, belajar memotret tak lebih adalah jalan yang saya tempuh untuk mencapai apa yang saya inginkan, yaitu menjadi novelis.

Ada beberapa naskah saya yang terbengkalai di dalam hardisk komputer jinjing yang saya miliki. Beberapa sudah pernah ditolak penerbit, beberapa sudah saya masukkan di Wattpad dan beberapa masih dalam angan-angan. Bahkan, dua tahun lalu salah satu editor penerbit ternama menghubungi saya bahwa saya ditantang untuk mengembangkan salah satu cerita pendek di blog, untuk dijadikan novel. Sampai saat ini, naskah tersebut hanya berupa Prolog. Kenapa begitu? Kebetulan cerita pendek yang saya tulis tersebut dari kisah nyata dan saya kesusahan memilah mana kisah yang pantas saya tulis dan mana tidak.

Saya kesulitan membedakan mana kenyataan dan mana fiksi.

Menulis dan memotret merupakan dua hal yang berbeda, namun dalam tujuan yang sama; mengabadikan. Keduanya saling berhubungan satu sama lain dan masing-masing bisa berdiri sendiri. Sebuah foto pun bisa bercerita sendiri begitu pula dengan sebuah tuisan. Dua hal yang sulit dipisahkan, namun keduanya bisa terpisah.

Ketika ngeblog pun, sebuah artikel tanpa foto akan terasa kurang pas. Namun, bukan berarti artikel tersebut tidak bisa bercerita tanpa adanya foto. Itulah sebabnya, saya belajar memotret meskipun waktu itu hanya bermodalkan kamera Blackberry, kemudian beralih ke kamera saku sampai akhirnya saya memiliki Etro. Kehadiran Etro inilah yang menjadi pemicu utama, kenapa saya harus belajar memotret. Toh, memang saya mengadopsi Etro karena memang ingin foto-foto di blog saya kece dan menggemaskan.

Jadi, penulis atau fotografer? Saya tetap menjawab penulis, biar Abang saja yang jadi fotografer, Adek. 


4 komentar:

  1. coba penulis dan fotografer diasah dan di gabungkan, pasti menarik mbak

    BalasHapus
  2. Sama-sama mengabadikan juga sama-sama memberikan informasi :D

    BalasHapus
  3. Apalgi kalau bisa melakukan keduanya, menulis juga memotret :D Pasti lebih enak. Hehe.

    BalasHapus
  4. Saya juga suka menulis, tapi pengen pula jadi fotografer. Kalau du bidang kepenulisan sudah banyak karya yg dibuat, di bidang fotografer belum ada sama sekali

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^