1 Agu 2018

Rokok Harus Mahal, Agar Anak Indonesia Terhindar dari Stunting



Rokok Harus Mahal, Agar Anak Indonesia Terhindar dari StuntingBanyak sekali beredar mengenai perbandingan rokok dengan membuat rumah. Hal ini mengusik saya, untuk ikut-ikutan menghitung apakah benar, dengan berhenti merokok dan mengalihkan uang rokok, bisa dijadikan rumah? Kebetulan, saya orang dusun yang di dusunnya penghasilan utama warga adalah dengan membuat batu bata dan genteng. Dan kebetulan (lagi) pembuat genteng tersebut, salah satunya adalah om saya. Ketika saya bertanya kepada om, berapa sih harga satu biji batu bata? Dia bilang, sekitar 500 rupiah. Yah, harga satu batu bata 500 rupiah saja.

Sekarang kita beralih ke harga rokok, sebelum itu, kita melihat kebiasaan perokok. Mereka sehari butuh berapa batang rokok? Satu? Dua? Ah, salah. Ternyata, setiap perokok paling tidak sehari bisa menghabiskan satu bungkus rokok yang berisi 12 batang. Lalu, berapa harga rokok setiap batangnya?


Setelah saya riset mengenai harga rokok, rata-rata 17-20ribu setiap bungkusnya. Dua puluh ribu rupiah dibagi menjadi 12, kira-kira akan mendapatkan 1.666 rupiah. Kita bulatkan saja menjadi 1700 rupiah setiap batang rokok, dan para perokok membakar uang seharga 1700 di setiap batangnya.

Jadi, ya, harga sebatang rokok dua sampai tiga kali lipat lebih mahal dari sebuah batu bata.

Saya tidak akan membicarakan, berapa tahun kita harus menabung untuk bisa membeli batu bata untuk menjadi sebuah rumah, karena saya tidak meriset sampai sejauh itu. Intinya, apabila uang 20ribu itu kita tabung, akan lebih bermanfaat daripada membakarnya, yang justru memberikan kerugian bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Itu baru dari sisi ekonomi, yang saya bicarakan, masih ada aspek lain yang harus diperhatikan mengenai dampak buruk dari rokok ini. Rokok bukanlah sebuah kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk sehari-hari. Jadi, sangat salah apabila mengutamakan membeli rokok, ketimbang membeli nasi untuk makan.

Okelah, kalau diantara teman-teman yang merokok, sudah memiliki rumah, mobil, dan uang berlebih. Pasti masalah ekonomi mengenai rokok, bukanlah hal yang harus dirisaukan. Jadi, hal yang harus diperhatikan adalah mengenai kesehatan.

Rokok Menyumbang Penyebab Stunting


Ada masa tumbuh kembang di awal kehidupan yang penting, biasa disebut dengan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), yang termasuk di dalamnya adalah 9 bulan dalam kandungan dan dua tahun setelah itu. Pada masa ini, perkembangan otak dan pertumbuhan anak teramat pesat. Buat teman-teman yang sudah memiliki anak, pasti merasakan hal ini. Tak hanya pertumbuhan fisik, pun perkembangan dan kecerdasan otak pada masa ini. Tiba-tiba saja, baju anak sudah tak muat lagi dan dia semakin tinggi, dll.

Kurangnya gizi dan nutrisi pada masa ini, bisa menghambat tumbuh kembang anak dan dampaknya adalah menjadi stunting. Lalu, apa hubungannya dengan rokok?

Kemarin, pada tanggal 25 Juli 2018, saya mendengarkan siaran program radio Ruang Publik KBR mengenai “Harga rokok murah sumbang penyebab stunting” bersama Dr. Bernie Endyarni Medise, SpAK MPH – Ketua Satuan Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Teguh Dartanto, PhD – Ketua Departemen Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Jadi, pembicaraan rokok ini, mengangkat masalah dari sudut pandang ekonomi dan kesehatan.

Melalui riset, mereka memperhatikan keluarga yang salah satu anggota keluarganya perokok dan tidak. Hasilnya, mereka yang tak memiliki keluarga perokok, memiliki anak dengan tumbuh kembang lebih baik, seperti tinggi badan lebih tinggi, berat badan lebih bagus dan kecerdasan lebih juga. Karena memiliki keluarga  perokok, mereka akan mengutamakan untuk membeli rokok ketimbang memenuhi gizi anaknya.

Lebih memprihatikan lagi, ketika keluarga tersebut memiliki ekonomi lebih rendah, dan perokok. Bisa dibayangkan, bagaimana memenuhi gizi dan nutrisi untuk anaknya? Padahal, untuk anak tidak boleh coba-coba, karena mereka merupakan penerus bangsa.

Memang yang merokok bukanlah sang ibu, melainkan sang ayah sebagai firsthand smoker, tetapi sang ayah mengeluarkan asap rokok yang bisa bertahan di udara selama 3-4 jam dalam ruangan dan bisa menempel pada dinding dan perabotan rumah tangga. Mau tidak mau, kita akan menghisap udara tersebut dan menjadi secondhand smoker.

Hal ini pun berkaitan dengan kelangsungan negeri ini, kita akan kehilangan generasi yang cerdas apabila masih banyak warganya yang tak sadar bahaya rokok. Kecerdasan anak akan lebih rendah daripada anak yang tidak menjadi secondhand smoker. Padahal, masa depan negeri ini tergantung dari penerus-penerus bangsa alias anak-anak yang sehat dan cerdas secara fisik maupun otak.

Beberapa bahaya stunting

1 | Menghambat pertumbuhan; badan lebih pendek. Padahal anak bisa lebih tinggi daripada orangtuanya.

2 | Berat badan kurang, cenderung kekurangan nutrisi.

3 | Kecerdasan otak berkurang.

4 | Rentan terkena penyakit.

Kenapa banyak orang yang dengan mudah merokok, terlebih lagi banyak anak-anak dan remaja yang melakukannya. Tak hanya secara diam-diam, pun secara terang-terangan? Karena harga rokok murah. Harga rokok masih terjangkau oleh anak-anak dan remaja.

Mari kita mendukung rokok harus mahal, agar anak-anak, remaja maupun orang dewasa tidak bisa menjangkau benda ini. Memang hal ini tidak bisa memberantas semua perokok aktif, tetapi paling tidak ini akan membantu mengurangi angka kemiskinan dan perokok aktif, terutama untuk anak-anak dan remaja.

Jadi, setuju kalau #RokokHarusMahal?

#rokok50ribu

5 komentar:

  1. Setuju tuh, biar mengurangi pemakaian rokok harga rokok memang harus di naikkan.

    BalasHapus
  2. Rokok memang bahaya banget bagi kesehatan tubuh. Mungkin tidak dalam jangka pendek tapi jangka panjangnya yang harus difikirkan ...

    BalasHapus
  3. Zaman sekarang saja anak-anak dibawah umur sudah bisa mengonsumsi rokok ...

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^