Kelas Pra-Nikah (5): Parenting

by - 14.38



Kelas Pra-Nikah di Masjid Al-Falah Surabaya, tak hanya membicarakan mengenai pernikahan saja, pun mengenai kehidupan setelah menikah, hubungan suami-istri dan tentu saja masalah mengenai pengasuhan anak alias parenting

Ilmu parenting luas sehingga, sebagai orang tua kita harus terus belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak, serta bagaimana mendidik anak sesuai agama Islam. 

Kali ini, kelas parenting dibawakan oleh Ustaz Miftahul Jinan, selama kurang lebih satu jam setengah. 

Anak adalah?



Kalau ditanya, anak adalah? Kamu akan menjawab apa? Beberapa teman kelas pra-nikah menjawab; anak adalah amanah dari Allah, generasi penerus agama Islam, dll. Kata Ustaz Miftahul Jinan, semua jawaban benar, menurut presepsi masing-masing.

Nah, buat kamu para orang tua, bagaimana presepsi kamu kepada anak-anak kalian? Termasuk, bagaimana cara mendidik anak-anak kalian itu. Apakah sudah benar sesuai karakter mereka atau justru benar sesuai pemahaman kalian saja?

Ustaz Miftahul Jinan, memberikan contoh sebuah kejadian antara kakak dan adik, berebutan remote tv. Hal tersebut selalu saja terjadi setiap hari, akhirnya kedua orang tuanya memberikan solusi dengan membelikan TV kepada kedua anaknya. Rumah pun tenang, keduanya tidak bertengkar lagi. 

Namun, apakah tindakan orang tua tersebut, benar? Tidak sepenuhnya benar, karena akhirnya kedua anaknya kehilangan momen bersama satu sama lain. 

Pertikaian anak-anak adakalanya sangat penting. Menjalin hubungan bersama. Diskusi. Bisa memahami satu sama lain. Bayangkan, apabila tidak ada hal yang mereka perebutkan, karena masing-masing sudah memiliki barang sendiri. Kapan mereka akan saling berkomunikasi? Kapan mereka akan saling tahu kesukaan saudaranya sendiri? Dan kapan mereka belajar untuk saling berbagi dan mengalah?

Anak Lebih Banyak Memberi


Sebagai orang tua, kita sering merasa orang yang paling benar karena kita merasa banyak memberi kepada anak. Sejak kecil, anak kita asuh, kita besarkan, sampai sekolah. Padahal, anak juga lebih banyak memberi. Memberi kebahagiaan dalam rumah tangga. 

Pada setahun pernikahan akan merasa bahagia dengan adanya pasangan, tahun kedua mulai merasa sepi dan bosan. Saat itulah, kehadiran anak perlu. Kehadiran anak memberikan kebahagiaan dan keistimewaan.

Anak Semakin Nakal atau Orang Tua Semakin Tidak Sabar?


Semakin besar, anak semakin nakal atau kita sebagai orang tua yang semakin tidak sabar? Harus dilihat dulu kondisinya ya, sehingga tidak melulu menyalahkan anak yang aktif. Bisa jadi, bukan anak yang semakin nakal, tetapi kitalah orang dewasa yang semakin tidak sabaran dalam menghadapi perilaku anak.


Jadilah Orang Tua yang Mempercayai Anak


Saya dididik dengan rasa kekhawatiran lebih dari orang tua. Tidak diberi kepercayaan dan apa-apa diurus oleh orang tua. Sampai akhirnya, saya hidup dengan rasa cemas, takut, tidak percaya diri dan minder. Apa pun yang saya lakukan sekarang, seakan tidak ada gunanya. Saya harus memerangi diri sendiri setiap melakukan sesuatu. Menyembuhkan rasa minder dan tidak percaya diri itu sulit. Bahkan, penolakan demi penolakan yang saya terima, membuat buruk keadaan. Namun, saya terus berusaha untuk bangkit.

Itu salah satu contoh pola asuh dari orang tua saya, yang kurang tepat. Apa saya menyalahkan orang tua saya? Awalnya iya, namun saya sadar orang tua saya tidak bersalah, karena memang seperti itulah ajaran yang mereka dapatkan. Dan sekarang, bukan waktunya menyalahkan orang tua, yang lebih tepat saya harus mengubah diri saya sendiri. 

Banyak anak pandai, tetapi orang tua terlalu dominan. Tidak bisa bebas mengekspresikan diri. Orang tua tidak percaya anak. Akan ada masanya, ketika anak-anak tersebut dewasa, akan muncul pertanyaan, kenapa saya tidak seperti orang lain yang berani mengungkapkan pendapat?

Orang tua yang baik harus memiliki ekspetasi tinggi terhadap anaknya. Harus memiliki keyakinan tinggi. Tidak meremehkan kemampuan anak, serta memberikan latihan-latihan untuk melatih tanggung jawab mereka. Setiap anak pasti punya potensi, jangan menyerah, gali terus.

Ustaz Miftahul Jinan, mencontohkan kisah penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison, yang dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh. Namun, ibunya tidak memberitahu hal tersebut, beliau mendidik anaknya sendiri dengan kepercayaan diri dan keyakinan penuh. 

Bagaimana cara berpikir orang dewasa saat ini, tergantung bagaimana orang tuanya mendidik dahulu. Sangat berpengaruh besar. Otak anak-anak itu terputus, sehingga orang tualah yang bertugas untuk menyambungkannya. 

Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi kita adalah manusia biasa, namun harus terus belajar. Belajar mendengar keluhan anak, meresponnya dengan baik. Supaya apa? Supaya anak lebih terbuka kepada kita, bukan orang lain. 

Menjaga keseimbangan dalam mendidik anak itu juga perlu. Tidak melulu menjelekkan anak dan tidak melulu memujinya. Keduanya, harus dalam porsi yang tepat. Rosulloh sendiri mendidik dengan ketegasan, bukan kekerasan.

Anak yang tak punya pilihan, dia mudah mendobrak prinsip.


You May Also Like

5 comment so far

  1. Menjadi orangtua yang percaya sama anaknya itu memang penting banget

    BalasHapus
  2. Hmm memang kalau sudah menikah itu akan ada banyak peristiwa yang akan dihadapi ya

    BalasHapus
  3. Hmm bener banget tuh, kita sebagai orangtua memang harus sabar ya dalam mengahadapi sikap anak

    BalasHapus
  4. Wah bener banget nih Mbak, terima kasih informasinya sangat membantu

    BalasHapus
  5. Dengan mempercayai anak, maka anak akan senang ya Bun

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^