Nov 7, 2019

Pentingnya Sex Education




Kurang lebih delapan belas tahun lalu, saya mendapatkan menstruasi pertama. Pada pakaian dalam saya terdapat bercak merah cenderung cokelat, yang sangat sedikit. Saya diam. Menolak kenyataan kemungkinan itu darah haid. Sampai-sampai, saya tidak minum seharian, pun ketika ditawari ibu es degan. Dengan pikiran, ketika saya tidak minum darah haid akan terhenti, hehe.

Pada akhirnya, saya menyerah dan bercerita kepada ibuk. Ibuk dengan sigap membantu saya mengenai hal-hal yang harus saya lakukan. Saya bilang ke ibuk, jangan cerita ke bapak. Tapi, namanya juga ibuk, kalau tidak cerita ke belahan jiwanya kurang afdol, yekan ~

Malam itu, tak ada bintang-bintang di langit,  bulan pun enggan menampakkan diri. Meskipun begitu, saya dan bapak tetap tiduran di ruangan terbuka di belakang rumah. Bapak pun membahas mengenai anak perempuannya yang mulai haid.

Jangan dibayangkan bapak seperti ayah yang tegas dan lugas dalam menyampaikan hal ini. Bahasa bapak teramat kaku, antara tabu dan beliau harus menjalankan tugas seorang ayah.


“Wulan, perempuan kalau disentuh itunya bakalan lemas,”ucap beliau. Saya bengong. Senyum-senyum. “Wulan sekarang sudah dewasa,”tambahnya lagi. Saya tahu, kalau perempuan yang sudah haid dan kalau tidak haid berarti dia hamil. Begitu pengetahuan saya waktu itu. 

“Jadi, Wulan harus hati-hati dengan laki-laki.”

Hati-hati dengan laki-laki, saya menangkapnya waktu itu berarti menjaga jarak, tidak boleh sering-sering berinteraksi. Bapak terus memberikan nasihat mengenai hal tersebut terus menerus, saya hanya senyum-senyum dengan pikiran, “Masa saya bakalan hamil di luar nikah, sih?”Apalagi, waktu itu sedang santer mengenai sinetronnya Agnes Monica. 

Dari nasihat bapak tersebut, saya menjadi lebih berhati-hati bermain dengan anak laki-laki, padahal biasanya ikut main layangan, main kelereng, atau main jentik’an. Selang satu bulan, saya tidak haid selama satu bulan penuh. 

Tebak apa yang saya lakukan mengetahui hal ini? Saya masuk kamar, bersembunyi di belakang pintu kamar, jongkok dan menangis. Saya mengingat-ingat di sekolah saya dekat-dekat dengan teman lelaki siapa? Saya tidak datang bulan, apa saya hamil? Haha. Padahal yah, waktu itu saya masih kelas 5 SD, belum mendapatkan pelajaran mengenai reproduksi. Soal hubungan intim perempuan dan laki-laki saja informasi yang saya ketahui masih rancu, hehe. 

Dewasa ini, saya baru menyadari bahwa ketika itu saya ikut kegiatan gerak jalan, hampir setiap hari latihan sepulang sekolah. Saya kelelahan dan mengakibatkan saya tidak datang bulan. Ternyata ya, itu berpengaruh terhadap siklus datang bulan saya. Bahkan sampai dewasa masih sering saya alami. 

Setelah mendapatkan nasihat dari bapak, saya pun berpikiran untuk ikut beladiri ketika SMP dan itu saya lakukan. Buat apa? Untuk melindungi diri dari laki-lakilah. Buat apalagi? Saya ikut beladiri sampai mendapatkan sabuk kuning. Bahkan, waktu itu saya memotong rambut saya teramat pendek menyerupai laki-laki. 

Semakin ke sini, saya menyadari bahwa nasihat bapak itu kurang lengkap dan setengah-setengah. Maklum saja, sex education untuk anak-anak masih dianggap tabu, aneh, dan jangan sampai anak tahu. Sayangnya, itu keliru. Akhirnya, bapak menyampaikan sesuatu hal setengah-setengah, mengakibatkan anak perempuannya ini menempuh jalan yang ambigu.

Di lain hal, nasihat bapak masih kurang lengkap atau bapak tidak cukup pengetahuan untuk melindungi dan menjaga putri kesayangannya. Bahwa ada hal yang juga sangat penting untuk dijaga ketika anak perempuannya yang telah dewasa. 

Bukan sekadar keperawanan pun....

....hatinya.

Yah bagaimana yah, banyak orang tua yang terlalu fokus untuk menjaga anak perempuannya dari tangan-tangan jahil para lelaki, menjunjung tinggi nilai keperawanan, sehingga tidak dibekali dengan menguatkan hati dari lelaki buaya.

Seharusnya, bapak belajar dari Ari Lasso bahwa ada satu bagian dari perempuan yang amat peka apabila disentuh oleh laki-laki.

Sentuhlah dia tepat di hatinya
Dia 'kan jadi milikmu selamanya
Sentuh dengan setulus cinta
Buat hatinya terbang melayang

Dari Ari Lasso untuk bapak-bapak Indonesia

Yah, seharusnya, saya tidak hanya belajar beladiri, pun belahati ~

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^