Feb 12, 2020

Aturan Tak Tertulis Mengirim Pesan Kerja Sama




Bekerja sebagai pekerja lepas selama kurang lebih lima tahun, membuat saya mengerti beberapa karakter orang dari cara mereka menyapa lewat pesan pribadi. Selain berhubungan dengan calon klien lewat surel, saya juga berhubungan dengan calon klien di pesan pribadi. Tentu, banyak hal manis nan menyenangkan berhubungan dengan klien, apalagi kalau sudah deal, pekerjaan lancar, lalu dana mengalir deras. Tapi, ada juga hal yang menganggu sampai-sampai saya harus turun tangan untuk melancarkan komunikasi.

Hal ini tak hanya saya alami, pun dialami oleh para pekerja lainnya yang berhubungan langsung dengan klien. Seperti kawan saya yang menjadi admin akun kuliner, dia juga sering mengalami hal serupa, sampai membuat dia kesal. Tapi, karena keseringan mendapatkan perlakuan semacam itu, dia maklum. Untuk itu, saya menuliskan artikel ini, aturan tak tertulis cara berkirim pesan kepada klien atau mengajak kerja sama.

1 | Perhatikan Waktu Mengirim Pesan


Saya belajar mengenai ini sewaktu kuliah. Ketika hendak bertanya kepada dosen melalui SMS – waktu itu belum banyak yang menggunakan aplikasi chatting -, saya belajar bagaimana menghubungi dosen dengan baik. Salah satunya adalah dengan memperhatikan waktu mengirim pesan. Tidak semua dosen mematikan ponselnya ketika malam hari atau menyetelnya menjadi mode diam. Untuk itu, saya harus memperhatikan waktu untuk berkirim pesan. Jangan sampai tengah malam kita mengirim pesan dan berpikir, “Nggak apa-apa dibalas besok.” Ya, belum tentu juga. Siapa tahu, beliau terganggu dengan pesan yang kita kirim tengah malam itu.

Sama halnya dengan berkirim pesan untuk kerja sama. Tak banyak orang bekerja sampai malam. Karena tidak semua orang pekerja lepas dan malam hari adalah waktunya orang normal untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Jadi, sebaiknya kamu mengirim pesan ketika jam kerja saja ya.

2 | Memberi Salam


Hal penting lainnya yang harus diperhatikan yakni, memberikan salam. Layaknya bertamu ke rumah seseorang, kita mengucapkan salam dengan lantang. Tidak langsung masuk ke dalam rumah, apalagi langsung duduk. Nah, begitulah adab yang baik ketika mengirim pesan. Mengucapkan salam, “Assalamualaikum”, “Selamat pagi”, dll. Jangan salah runut ya, bukan tiba-tiba bertanya, “Bisa kerja sama ini nggak?” atau langsung bertanya. Apalagi, mengirimkan pesan “P” sebagai pembuka. Sangat tidak sopan, ya.

3 | Perkenalan


Nah ini, poin yang sangat sering saya alami yakni tidak ada perkenalan diri. Bayangkan saja, kamu kedatangan tamu, kemudian langsung bertanya, “Mbak bisa foto produk?”, “Mbak bisa kerja sama?” apa kamu tidak bingung? Sama halnya ketika saya mengirim pesan kepada dosen ketika kuliah, yakni dengan menyebutkan nama, prodi, dan angkatan. Begitu pula dengan kerja sama. Kita harus menyebutkan nama diri kita dan dari mana. Dengan begitu, lawan bicara akan lebih enak mengajak bicara, apalagi ini lewat pesan pribadi yang ketika mengobrol tidak tahu jenis laki-laki atau perempuan. Hal yang paling netral yakni memanggil dengan “kak”. Karena panggilan “kakak” tidak menunjukkan gender.

Jadi, setelah memberikan salam, perkenalan diri ya. Agar lawan bicara lebih luwes dalam berkirim pesan, tidak kebingungan. Jangan sampai, kita yang mengirim pesan, mereka bertanya terlebih dahulu, “Elo siapa?” huehehe ~ Apalagi, kalau kamu berkirim pesan kepada lawan jenis dengan bertujuan untuk mendekati, lalu kamu bertanya, “Ini siapa?” helow, yang berkirim pesan pertama kali siapa?

4 | Memberitahu Tujuan atau Maksud Mengirim Pesan


Tentunya, kamu mengirim pesan kepada seseorang memiliki maksud atau tujuan tertentu. Oleh karena itu, setelah memperkenalkan diri utarakan maksud dari tujuan kamu mengirim pesan kepada orang tersebut dengan jelas. Tidak perlu menunggu sampai pesan dibalas terlebih dahulu, kamu bisa mengirim pesan langsung keseluruhan dalam satu badan surel atau pesan pribadi. Dengan demikian, lawan bicaramu akan bisa langsung menjawab tanpa basa basi bertanya terlebih dahulu.

5 | Mengucapkan Terima Kasih atau Salam Penutup


Setelah poin satu sampai empat, tentu jangan lupa mengucapkan terima kasih atau salam penutup. Meskipun kamu berkomunikasi lewat surel atau pesan pribadi, tetap saja lawan bicaramu itu manusia dan bukan robot. Sungguh menyenangkan bukan, memulai dan mengakhiri sesuatu dengan salam? Nabi Muhammad SAW saja, mengajarkan kita untuk mengucapkan salam, meskipun itu salam perpisahan. 

Pada kenyataannya, dalam praktik di lapangan banyak orang yang langsung lompat ke poin empat. Terkadang, ada yang pakai salam pembuka, terkadang tidak. Yah, mungkin mereka belum tahu atau terbiasa melakukan hal itu. Saya pun, dulu ketika melamar pekerjaan pakai surel, saya membiarkan badan surel kosong tanpa apa pun. Ternyata itu salah sekali. 

Baik, semoga bermanfaat.

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^