Oct 16, 2023

Saya Baru Merasa Benar-Benar Hidup di Usia 30+


Saya menyadari bahwa hidup saya dimulai di usia 30 tahun. Mungkin alasannya karena di usia 30 tahun, novel saya baru diterima oleh penerbit atau mungkin karena saya bisa melakukan apa yang saya sukai di usia ini.

Sebagai catatan, saya bercerita di sini bukan untuk membuat orang tua saya terlihat buruk. Tapi, saya bercerita apa adanya. Orang tua saya, terutama bapak merupakan orang tua seperti umumnya. Beliau ingin anaknya baik-baik saja dan selalu dijalan yang benar. Namun, apa yang dilakukan oleh bapak justru mengekang saya dan membatasi setiap langkah saya.

Bapak orang yang mendukung saya, sekaligus orang yang mengikat saya erat-erat.

Merasa Berbeda dari Orang Lain


Saya sama sekali tidak menyadari bahwa peran orang tua, sangat penting bagi perkembangan seorang anak. Ketika lulus kuliah, saya mulai melamar kerja ke sana kemari. Setiap berangkat untuk wawancara dada saya berdetak cepat, keringat dingin, dan mual. Dalam perjalanan, saya selalu menyangkal bahwa saya orang yang penakut. Saya selalu bertanya-tanya, kenapa saya berbeda dengan teman lainnya? Kenapa teman-teman saya penuh percaya diri dan berani berhadapan dengan orang? Padahal, kami sama-sama kuliah di tempat yang sama, memiliki kehidupan perkuliahan yang hampir sama.

Namun, kenapa saya berbeda?

Lalu, saya membaca sebuah status dari seorang teman bahwa dulu dia juga dikekang oleh orang tuanya. Dia menjabarkan apa yang dirasakannya dan saya merasa hal itu juga terjadi pada saya.

Maka, saya paham, apa alasannya.

Di usia saya yang 26 tahun, bapak mulai bersabar dan ikhlas dengan keputusan saya. Beliau pun mengizinkan saya untuk ke Jogja atau ke tempat lain tanpa melarang seperti dulu. Apakah usia itu, kehidupan saya lebih baik? Tidak.

Di usia 26 tahun itu, saya dekat dengan seseorang. Dia pun tidak jauh berbeda dengan bapak. Saya dikendalikan dan banyak tuntutan. Maka, saya tidak bisa benar-benar bebas. Kemudian, kami berpisah di saat usia saya 28 tahun. Selama dua tahun lebih, saya mencari jati diri saya, bertanya-tanya apa saya tidak berharga sampai diperlakukan seperti itu?

Maka, setelah hal-hal itu, saya baru merasakan kehidupan di usia 30+.

Meskipun begitu, hal itu tidak mudah bagi saya.

Dipenuhi Penolakan; Penolakan Cinta, Pekerjaan, dan Naskah


Hal yang saya sesali di usia 20+ adalah mengenai pertanyaan, “Kapan saya punya pacar?” di masa-masa itu, teman-teman sebaya menikmati masa mudanya dengan berpacaran. Entah dengan teman sekampus ataupun di luar kampus. Mereka ke mana-mana berdua, diantar, ada teman chat dan sebagainya. Sedangkan saya, tidak memiliki siapa pun.

Memang, waktu itu saya memiliki teman dekat, tetapi berujung kena PHP :) 

Di usia itu, saya merasa tidak menarik. Apalagi, laki-laki yang saya sukai, selalu menyukai teman saya sendiri. Menyakitkan.

Selain itu, ketika lulus kuliah, saya mendapatkan penolakan di mana-mana. Tidak ada yang mau menerima saya sebagai pegawai mereka. Akhirnya, saya memilih untuk menulis dan menekuni pekerjaan yang bisa saya lakukan. Hal yang sama terjadi mengenai naskah novel saya yang saya kirim ke penerbit. Tak satupun mendapatkan kabar baik.

Maka, ketika novel saya Madeira diterima, lalu dalam waktu tiga bulan terbit, serta banyak yang memuji membuat saya cemas, alih-alih bahagia. Saya merasa apakah ini benar-benar terjadi dalam hidup saya?

Saya sudah terbiasa dengan penolakan, maka ketika mendapatkan penerimaan, ada perasaan cemas tanpa alasan yang jelas.

Di usia 30+ ini pun saya mulai bersemangat untuk belajar banyak hal, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, mempelajari ilmu baru, bersemangat mencari penghasilan dan lebih fokus pada diri sendiri.

Di luar sana, teman-teman saya sibuk dengan anak mereka. Mengantar sekolah, mengajari perkalian, dan sebagainya. Di sisi lain, saya baru menemukan kehidupan yang saya inginkan.

Saya jalan-jalan, menulis, belajar hal baru, menemukan teman sefrekuensi, dan bertemu orang-orang baru. Saya merasa hidup, memiliki penghasilan, teman yang support, dan memiliki pasangan yang baik.

Saya pun memberanikan diri untuk mengambil kesempatan berbicara di depan umum meskipun saya tetap deg-degan dan sering salah bicara. Tapi, saya sudah mengambil langkah jauh lebih baik.

Namun, sudah pasti, kehidupan saya masih berlanjut. Saya masih merasa cemas dan ketakutan, tapi itu sudah jauh berkurang. Saya lebih percaya diri dan lebih berani untuk bertemu orang lain.

Tiga tahun terakhir merupakan masa-masa emas dalam kehidupan saya. Saya bisa membeli gadget yang cukup mahal, nongkrong bersama teman tanpa ada larangan, dan mencintai penuh kehidupan saya miliki. 

Memang, saya tidak tahu kedepan saya seperti apa. Tapi, inshaAllah saya akan baik-baik saja. InshaAllah. Aamiin.

Semoga, kamu juga menemukan kehidupan terbaikmu, ya!

7 Comments:

  1. Memang benar nih, Kak semua sudah ada jalan dan juga wakunya sendiri-sendiri. Tetap semangat

    ReplyDelete
  2. Pokoknya yang terpenting adalah kita sudah berusaha dan juga berdoa. Sisanya pasrahkan sama yang di atas hehe

    ReplyDelete
  3. Tidak apa-apa, Kak meskipun umur 30 tahun baru bisa mencapai impian. Tetap semangat

    ReplyDelete
  4. Wah keren sekali nih, Kak sudah bisa menerbitkan sebuah buku. Kalau boleh tahu buku apa nih hihi

    ReplyDelete
  5. Jangan pernah putus asa, Kak untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Yakin pasti ada jalannya

    ReplyDelete
  6. Semoga kehidupan menjadi lebih baik ke depannya

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^