Jul 24, 2018

Hari Anak Nasional : Menyuarakan Aspirasi Pusparagam Anak Indonesia lewat Temu Anak Peduli



Menyuarakan Aspirasi Pusparagam Anak Indonesia lewat Temu Anak Peduli - Salah satu hal yang menyenangkan adalah bisa bertemu dengan anak-anak, melihat keceriaan dan kepolosan mereka. Begitu memikat, begitu menarik perhatian dan membuat saya ingin kembali ke masa kanak-kanak. Melihat keceriaan mereka, mengingatkan masa kecil saya, yang begitu polos dan yang ada dalam pikiran adalah mengenai cita-cita.

Pada tanggal 22 Juli 2018 kemarin, saya berkesempatan secara langsung menghadiri acara Temu Anak Peduli “Pusparagam Anak Indonesia” di Surabaya. Sejumlah 165 anak berusia 9 hingga 18 tahun dari 31 kabupaten/kota perwakilan komunitas yang terpinggirkan mengikuti dan berkumpul bersama mulai dari tanggal 20-22 Juli 2018. Pada kegiatan kali ini, mereka menampilkan berbagai macam karya mereka, hasil dari kegiatan dua hari sebelumnya yaitu pada tanggal 20-21 Juli di Surabaya. Mereka dengan berani dan percaya diri memamerkan karya dan hasil belajar mereka di atas panggung dan di depan seluruh anak-anak serta tamu undangan.


Acara dimulai dengan pembukaan dan dipandu oleh dua anak lelaki dan perempuan sebagai pembawa acara. Sebelum anak-anak Pusparagam Anak Indonesia menampilkan karya mereka ke atas panggung, kami disuguhkan penampilan menarik dari Dwi Arina Pamungkas berupa pertunjukan Tari Angguk khas Kulonprogo.

Anak-anak Pusparagam Anak Indonesia dibagi dalam beberapa kelas, yaitu Kelas Literasi, Kelas Kewirausahaan, Kelas Gotong Royong, Kelas Kekerasan dan Perundungan, Kelas Toleransi dan Kelas Kemimpinan. Tentunya, saya pribadi sangat senang dapat melihat keceriaan mereka, celoteh mereka di atas panggung menyampaikan cita-cita mereka dan bagaimana harapan mereka di masa depan untuk membuat Indonesia lebih baik.

Dimulai dari kelas literasi yang menceritakan mengenai cita-cita mereka di masa depan. Disusul dengan kelas kewirausahaan yang menceritakan mengenai gambar yang mereka gambar masing-masing. Dan ada pula yang menampilkan karya mereka berupa drama oleh kelas kekerasan dan perunungan, mengenai anak-anak yang kena bully di sekolah. Tentunya, penampilan mereka memberikan hiburan bagi kami dan tawa pun tak henti-hentinya berderai beserta tepuk tangan.

Bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN) kemarin Peserta “Pusparagam Anak Indonesia” juga akan berpartisipasi pada puncak perayaan Hari Anak Nasional  di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Masa anak-anak merupakan salah satu hal yang menentukan masa depan negara kita ini, Indonesia. Bagaimana mereka dididik menjadi menjadi orang yang baik, jujur, dan berpendidikan. Bagaimana kita memberikan contoh yang baik untuk mereka, yang nantinya akan memberikan dampak positif bagi mereka dan tidak menutup kemungkinan akan memberikan inspirasi untuk mereka kelak. Masa depan sebuah negara tercermin dari kondisi anak-anak sehingga mereka perlu dijaga, dibina, dan ditingkatkan kualitas hidupnya agar dapat bertumbuh kembang dengan optimal.

Sayangnya, tak semua anak di Indonesia mendapatkan pendidikan dan perhatian yang memadai, yang sesuai kebutuhan mereka. Pengasuhan yang tidak memadai, kondisi miskin dan terpencil menjadi salah satu alasan. Mereka jauh mendapatkan layanan dasar, terutama dalam pendidikan dan kesehatan. Kondisi ekonomi yang jauh dari kata layak, membuat mereka merasa terpinggirkan dan krisis percaya diri. Di beberapa tempat di Indonesia, tidak bisa dipungkiri pernikahan usia anak masih dianggap sebagai jalan pintas bagi keluarga untuk mengurangi beban ekonomi. Padahal, pernikahan bukanlah jalan keluar dalam mengatasi krisis ekonomi dan kehidupan lebih baik.

Erna Irnawati, Program Officer Program Peduli untuk Pilar Remaja dan Anak-anak Rentan mengatakan, “Program Peduli fokus bekerja untuk anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial, anak-anak yang berhadapan dengan hukum, dan anak-anak pekerja migran. Kami melihat di tengah keterbatasan dan kondisinya, anak-anak ini juga mampu bangkit dan menggapai mimpinya ketika mendapatkan akses, dukungan yang tepat, serta tercipta ruang aman bagi mereka. Mereka juga memiliki mimpi dan dapat mewujudkan cita-citanya serta berkontribusi untuk pembangunan Indonesia.”

Odi Shalahuddin, Direktur Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) mengatakan, “Temu Anak ini menarik karena mempertemukan anak-anak marginal yang selama ini terabaikan dan mereka membicarakan kebangsaan. Suara sebagai aspirasi mereka patut diperhatikan dan didengar oleh berbagai pihak.”

Pada akhir acara, anak-anak diajak bernyanyi dan berdansa diiringi jingle Hari Anak Nasional yang berjudul Raihlah Mimpi. Ditengah-tengah keriuhan mereka bernyanyi dan berdansa bersama, saya merasakan semangat dan optimisme dari mereka. Bahkan, saya sendiri pun ingin mengikuti gerakan mereka yang energik.




0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^