Etro Kembali Berulah; Layar LCD Fujifilm XA-2 Blank

by - 10.15


Layar LCD blank yang dialami Fujifilm Xa-2 nampaknya tak hanya terjadi dengan Etro saja. Pun beberapa kamera Fujifilm seri-x yang memakai LCD flip alias layar yang bisa diputar untuk selfie. Tak hanya Etro, teman saya yang mempunyai kamera Fujifilm XA-3 pun mengalami hal serupa; layar LCD blank.

Pertama kali Etro mengalami kerusakan pada LCD-nya, ketika saya menggunakannya untuk selfie. Saya menariknya ke atas, seperti sebelum-sebelumnya. Waktu itu, ketika saya sedang kondangan bersama teman-teman. Ketika layar saya tarik ke atas, layarnya gelap, sedangkan ketika dalam keadaan normal layar bisa digunakan seperti biasa. 

Waktu itu, belum ada satu tahun Etro bersama saya. Saya benar-benar kebingungan, sampai akhirnya saya kirim Etro kembali ke toko saya membelinya di Jakarta. Beruntung, masih dalam masa garansi, sehingga saya tidak mengeluarkan uang untuk biaya service. Tapi, saya harus menunggu sebulan lamanya untuk bisa menyentuh Etro kembali. 

Kenapa butuh waktu sebulan lamanya? Ternyata pihak toko harus membeli spare part di luar negeri, lebih tepatnya di Singapura. Jadi, masalah pada kamera saya ada pada kabel fleksibelnya. Sehingga, kabel tersebut harus diganti dengan yang baru. 


Kejadian serupa saya alami kembali, untuk kedua kalinya. Kali ini, saya tidak bisa mengklaim garansi karena memang sudah habis. Jadi, saya kelimpungan mencari solusi, terlebih lagi Etro tidak memiliki garansi resmi dari Fujifilm. Saya search sana sini untuk mencari service kamera Fujifilm XA-2. Saya tidak ingin mengirim Etro kembali ke toko di mana saya beli, karena waktunya terlalu lama.

Alhamdulillah, ada jalan. Saya menemukan tempat service kamera yang dekat dengan kos saya. Akhirnya, saya membawa Etro ke sana. Seperti yang sudah-sudah, Etro kembali bermasalah dengan kabel fleksibelnya. Dan, saya harus mengeluarkan uang sebesar 500ribu untuk mengganti kabel fleksibel ini. 

Etro Kembali Berulah, Sehari Sebelum ke Bandung


Beberapa hari lalu, saya pergi ke Bandung untuk menghadiri event blogger. Malam sebelum keberangkatan, saya mengecek kondisi Etro. Betapa terkejutnya saya, ketika layar Etro tetap gelap, meskipun saya sudah mengisi daya baterainya. 

Saya pun tak ingin percaya bahwa Etro berulah lagi, sehingga saya mencoba memotret. Ternyata bisa dan layar tetap gelap. Hati saya sesak luar biasa, padahal saya ingin membawa Etro jalan-jalan setelah setahun lebih belum pernah ke mana-mana.

Untuk dibawa ke service pun, pasti butuh waktu lama sampai Etro selesai dibetulkan. Sungguh, saya sedih dengan keadaan ini. Saya menangis, lalu saya menyeka air mata. Saya harus bisa menerima kenyataan. 

Akhirnya, saya mencoba belajar memotret dengan kamera ponsel. Mau tak mau, hanya smartphone  yang bisa saya andalkan. 

Esoknya, saya membawa Etro ke service, seperti yang sudah-sudah penyakitnya sama. Saya berbicara dengan mbak-mbak di service kamera, bahwa saya ingin membawa Etro ke Bandung sore nanti. Bisa nggak, kalau servicenya selesai beberapa jam saja? 

Awalnya, mbak tersebut bilang tidak sanggup. Namun, akhirnya dia bilang bisa, tetapi antara jam 2 siang. Saat itu pukul setengah 11 dan kereta saya berangkat setengah lima sore. Saya pun berkata, pada mbak tersebut untuk segera menghubungi saya kalau Etro selesai diservice. 

Antara berharap dan pasrah untuk membawa Etro ke Bandung, namun saya tetap mengusahakannya. 

Waktu, Tenaga dan Uang

Saya menunggu mbak-mbak service menghubungi saya, mengatakan kalau Etro sudah bisa diambil. Saya mengecek di website tempat service tersebut, untuk update kamera saya. Pukul satu siang masih dalam antrean. Tak lama kemudian, update bahwa sudah selesai. Tapi, mbak-mbak tadi belum juga mengirim pesan. 

Akhirnya, saya mengirim pesan terlebih dahulu menanyakan kelanjutan Etro. Alhamdulillah, sudah selesai dan bisa diambil. Tanpa pikir panjang, saya memesan Go-jek dan menuju Deltasari, Sidoarjo untuk mengambil Etro. 

Saat itu saya menunggu di Ketintang, belum berangkat ke stasiun. 

Jadi, karena saya merasa tidak akan bisa membawa Etro ke Bandung, saya meninggalkan cas kamera di kosan. Habis mengambil Etro di Deltasari, saya lanjut ke kosan dahulu yang ada di Griyo Mapan Sentosa, lalu saya kembali ke Ketintang.

MasyaAllah, kepala saya pusing teramat. Cuaca Surabaya yang panas kala itu benar-benar membuat kepala saya pusing. Saya dikejar waktu dan saya berharap bisa membawa Etro ke Bandung. Sesampainya di Ketintang saya dan kawan saya langsung berangkat ke stasiun Pasar Turi, Surabaya.
Alhamdulillah, saya bisa membawa Etro ke Bandung. 

Saya membawanya dengan perasaan haru dan sayang. Dilema begitu dalam, akankah benda yang menemani saya bertahun-tahun ini harus saya lepaskan.

Kenapa harus dilepaskan? Karena dia terlalu sering menyakiti. Berulang-ulang. Saya khawatir, ia akan melakukan hal serupa kalau saya tetap mempertahankannya.

Sampai detik ini, saya belum tahu harus melepaskannya atau tidak. Kalau saya melepaskannya, maka tidak akan ada Etro lagi. Nama kamera yang sering saya sebut-sebut di setiap kiriman blog maupaun di media sosial. 

Sungguh, perpisahan bukanlah pilihan yang ingin saya ambil.

You May Also Like

0 comment so far

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^