Sep 2, 2019

Bukan Review Film Bumi Manusia - Catatan Film Bumi Manusia


Film Bumi Manusia sedang hangat diperbincangkan. Bahkan, sebelum film ini resmi diputar di layar lebar. Ketika pemilihan aktor dan aktris pemeran dalam novel Bumi Manusia; Minke, Annelies dan Nyai Ontosoroh, banyak warganet yang merasa Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, tidak sesuai. Banyak yang setuju, banyak pula yang yang tidak setuju. Saya pribadi, waktu itu tidak dapat menilai, apakah Iqbaal pantas atau tidak. Alasannya sederhana, saya belum pernah membaca novel Bumi Manusia.

Dan, pada bulan Juli kemarin saya menamatkan novel Bumi Manusia dan kemarin, saya menonton film Bumi Manusia di bioskop.

Sebelum melanjutkan membaca postingan ini, saya peringatkan, akan banyak spoiler yang akan saya tuliskan. Bagi kamu yang belum membaca dan menonton Bumi Manusia, lebih baik melipir dulu ya. Karena membaca dan menonton sebuah cerita tidaklah enak, apabila kita sudah tahu jalan cerita tersebut. Untuk sebagian orang sih, tidak ada masalah. 


Untuk Kali Pertama, Nonton Film Diminta Bernyanyi Lagu Indonesia Raya


Pada tanggal 15 Agustus 2019, film Bumi Manusia resmi beredar di bioskop. Teman saya, membuat sebuah status di WhatsApp Story, dia mengatakan, “Untuk kali pertama nonton film diminta nyanyi lagu Indonesia Raya. MasyaAllah.” Ketika dia membuat status tersebut, bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus. Saya pikir, bernyanyi Indonesia Raya hanya pada hari itu saja, nyatanya tidak.

Sebelum film diputar, pada layar bioskop bertuliskan agar kami berdiri dan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dan, penonton dalam bioskop pun serentak berdiri dan bernyanyi lagu Indonesia Raya. Setelah itu, baru film Bumi Manusia dimulai.

Penggambaran Situasi di Zaman Penjajahan Belanda


Dalam ingatan saya – kalau saya tidak salah mengingat – Minke bercerita dia dan sahabatnya – Robert Suurof – naik bendi menuju Wonokromo. Dalam perjalanan tersebut, mereka membicarakan Sri Ratu, yang dikagumi oleh Minke akan kecantikannya. Dalam film kurang lebih diceritakan hal serupa, hanya saja dibuka dengan penggambaran situasi tempat tinggal Minke dan tetangga-tetangganya. Barulah, Robert mengajak Minke naik bendi.

Dalam perjalanan ke Wonokromo tersebut, Minke mendapati seorang pribumi perempuan yang menjadi Nyai seorang Belanda. Nyai tersebut diperlakukan buruk, dalam kasta paling rendah. Begitulah yang digambarkan keadaan dalam zaman penjajahan Belanda. 

Yang saya soroti dari setting film ini adalah cat-cat yang cerah – amat cerah – pada bangunan, rumah-rumah; tempat tinggal Minke maupun Nyai Ontosoroh. Seakan-akan, rumah-rumah tersebut baru dibangun, tidak ada cacat seperti cat memudar atau terkelupas. Masa iya, semua tempat memiliki aroma cat baru? Tidak mungkin mereka memiliki tempat tinggal serupa. Akhirnya, sentuhan zaman dahulu memiliki cacat.

Entah memang ketika zaman penjajahan  bangunan-bangunan di Indonesia secerah itu atau tidak, mengingat pada zaman sekarang pun, bangunan-bangunan yang saya temui tidak ada yang sempurna. Tidak ada cat yang begitu cerah dan baru, terlebih lagi untuk orang-orang yang memiliki ekonomi di bawah rata-rata. Atau jangan-jangan, imajinasi saya yang kurang menangkap apa yang diceritakan oleh Kakek Pram melalui Minke?

Karakter Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh


Tentu yang diperdebatkan dalam pemilihan aktor dan aktris untuk ketiga karakter utama dalam film Manusia. Siapakah yang layak menjadi Minke? Apakah Iqbaal benar-benar sesuai dengan karakter Minke yang kritis dengan pemikirannya yang tajam itu? 

Selama saya membaca novel Bumi Manusia, yang saya bayangkan adalah wajah Iqbaal. Bukan berarti saya setuju Iqbaal memerankan Minke dalam film Bumi Manusia. Hanya saja, kesalahan saya membaca novel Bumi Manusia, setelah diputuskan Iqbaal sebagai Minke. Selama membaca novel tersebut, saya berpikir dan, “Oh, inilah kenapa Iqbaal dipilih.” Dalam setiap adegan Minke dan Annelies, Minke mirip sekali dengan Dilan; perayu. 

Mengenai Nyai Ontosoroh, saya rasa tidak ada komentar yang lebih pas selain, Ine Febriyanti adalah Sanikem atau si Nyai Ontosoroh itu sendiri. 

Annelies dalam novelnya digambarkan begitu lemah, layu dan tidak percaya diri. Dalam filmnya pun, Annelies digambarkan serupa, namun saya melihat ekspresi kekanakan dalam peran yang dilakukan oleh Mawar Eva. Dan yah, Mawar Eva begitu cantik. 

Ada lagi, beberapa tokoh yang tidak sesuai dengan imajinasi saya, seperti Panji Darman yang dalam otak saya adalah orang yang “pribumi banget” dan tidak tampan, justru dalam filmnya dia begitu tampan – bahkan menurut saya lebih tampan dari Minke sendiri, haha. Atau lagi-lagi, saya yang tak bisa menangkap pesan Kakek Pram lewat Minke?
Panji Darman lebih kiyut, kan? haha

Ada karakter lain, yang pada buku keduanya ditunjukkan sisi baiknya, yaitu Si Gendut. Pada buku pertamanya, Bumi Manusia Si Gendut merupakan musuh Minke. Memang, disebut Si Gendut karena berbadan gendut. Akan tetapi, saya tidak setuju dengan tokoh dalam filmnya, kenapa Si Gendut begitu gendut sekali? Sedangkan, pada buku keduanya Si Gendut ini merupakan salah seorang.... ah, sudahlah. 

Ada Fakta yang Tidak Seharusnya Muncul, Muncul


Pada novel Bumi Manusia, ada fakta yang baru diungkap pada buku kedua. Sedangkan, dalam film Bumi Manusia, fakta tersebut sudah dimunculkan. Secara logika, memang lebih masuk akal cerita versi film. Karena ya, kalau dalam satu film ada fakta yang belum terungkap, rasanya aneh apalagi fakta tersebut baru muncul di film kedua (itupun kalau ada), padahal pada film pertama ada permasalahan yang lain. Semacam biar nggak tumpuk-tumpuk. 

Itu saja beberapa catatan saya mengenai film Bumi Manusia, mengenai setting dan karakternya. Isi cerita dalam novel dan filmnya. Keduanya hampir sama, bahkan saya semacam mengulang novel Bumi Manusia. Hanya saja, ada beberapa adegan yang janggal, seperti ketika Minke dan Darsam melihat Si Gendut di luar gerbang. Padahal Minke dan Darsam di depan rumah Nyai Ontosoroh, sedangkan jarak rumah dan gerbang itu begitu jauh sekali dan dihalangi oleh hutan-hutan. Saya sangsi mereka bisa melihat Si Gendut, hehe.

Baik, semoga film kedua nanti – semoga ada – akan lebih baik. Dan, buat kamu yang hanya menonton filmnya saja, jangan terlalu berharap dengan kisah Minke dan Annelies ya, jangan deh.

1 Comments:

  1. Iqbaal ini kedepannya paling akan menjadi aktor yg memerankan karakter penting di banyak film. Btw, melihat banyaknya khalayak yg sudah mengkritisi sebelum filmnya dibuat, rilisnya film ini bisa menjadi pembuktian yah.

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^