Dec 10, 2019

Pekerja Konten: Pengalaman Menjadi Food Photographer





Pengalaman Menjadi Food Photographer  - Malam ini, hujan turun cukup deras usai magrib. Saya masih tiduran di atas kasur, merasakan tempias air di tangan dari jendela kamar. Saya berencana akan membuat kopi ketika hujan, tetapi saat itu kepala saya teramat pusing, sehingga saya baru melangkahkan kaki ke dapur dan menyeduh kopi pukul delapan malam.

Saya berencana menulis artikel malam ini, tetapi selama satu jam lebih saya hanya melamun di depan laptop. Saya sudah mencari ide menulis di Pinterest, hasilnya nihil. Lagu pun berputar di YouTube, tetapi ide tak kunjung datang. Instagram Story pun sudah berjibun dengan ocehan saya, lalu saya membahas mengenai pekerjaan saya dua tahun lalu, yakni food photographer

Ingatan saya pun kembali ke masa-masa saya berkeliling Surabaya membawa Etro dengan motor. Mau hujan ataupun tidak, saya harus berangkat. Paling sulit sih, memang ketika musim hujan. Rasanya campur aduk. Awalnya, saya bekerja sebagai pekerja fotografer lepas, kemudian saya diangkat jadi pekerja tetap. Tentunya, pekerjaan yang saya ambil secara lepas dan tetap berbeda jauh. Tak hanya mengenai gaji yang saya dapatkan, pun mengenai jam kerjanya.


Kalian mau membaca ocehan saya mengenai hal ini, tidak? Kalau tidak, langsung tutup layar saja, hehe.

Sebenarnya, saya sudah pernah menuliskan mengenai pekerjaan ini, tetapi sepertinya belum cukup banyak yang saya ceritakan, jadi semoga artikel ini bisa menghibur. 

Kali pertama berangkat untuk kuliner, saya mendatangi sebuah warung pecel di daerah Gayungsari. Saya memesan nasi pecel beserta minum, sesuai dengan budget yang sudah dialokasikan untuk setiap menu makanan yang akan saya potret. Ah iya, jadi pekerjaan saya itu seperti ini; datang ke warung/cafe/restoran, memesan makanan sesuai data, memotret, kemudian memakannya. 

Terdengar sangat menyenangkan dan mengenyangkan, bukan? Iya, memang begitu. 

Terdengar sangat menyenangkan, akan tetapi setiap pekerjaan pasti ada hal yang tidak menyenangkan. 

Ketika masih pekerja lepas, saya mendapatkan data makanan yang harus saya foto. Ada dua puluh makanan dan harus selesai selama dua minggu. Untuk bayarannya, saya tidak mendapatkan bayaran dan hanya dibayar dari makanan yang saya foto. Kok mau? Yah, namanya juga saya ingin belajar dan mendapatkan pengalaman baru, hehe. 

Atau, saya bodoh, ya? Haha.

Setelah menjadi pekerja tetap – setelah tiga bulan pekerja lepas -, saya mendapatkan data menu yang harus saya foto yakni minimal sehari 4 sampai 5 foto. Bayangkan saja, biasanya 20 foto dalam dua minggu, ketika pekerja tetap harus dua puluh foto lebih selama seminggu. Ketika lokasi makanan satu lokasi, lebih enteng karena bisa menghemat waktu. Seperti ketika dalam satu mal. Tapi, ketika lokasinya cukup berjauhan, cukup membuat saya kesusahan dan kelelahan. 

Selain memotret makanan, ketika menjadi pekerja lepas saya juga harus menulis artikel di situs tempat saya bekerja. Tentunya, artikel tersebut mengenai kuliner.

Kali pertama saya memotret Pecel Nikmat, saya malu. Celingak-celinguk melihat ke sana kemari, padahal tidak ada yang memperhatikan saya. Mereka semua sibuk makan dan mengobrol dan saya sendiri bersama Etro, mencari sudut pandang yang menurut saya bagus. Akhirnya, tantangan pertama selesai dan tidak buruk. 

Banyak hal yang saya dapatkan dari pekerjaan ini, dimulai dari saya akhirnya sering bertemu dengan orang. Saya berkomunikasi dengan orang-orang asing. Terutama, saya bisa mengetahui sudut terbaik dari food photography

Hal yang saya keluhkan dari pekerjaan ini yakni saya harus memotret sebaik mungkin,bagaimana sampai orang yang melihat foto tersebut, ngiler. Itulah hal yang selalu ditanamkan dalam diri saya. Ketika memotret, posisikan diri kamu menjadi pengikut. Apakah kamu bakalan ngiler dan ingin memakan makanan yang ada dalam foto tersebut? Tentunya, hal ini sulit. Makanya, saya sering kena caci maki ketika usai kuliner dan setor foto. Hehe.

Hal lain yang saya rasakan yakni, kecanggungan ketika di tempat yang begitu ramai dan kamu harus memegang kamera memotret makanan sampai makanan itu dingin. Dan saya harus makan makanan tersebut, meskipun di tengah-tengah warung yang sangat ramai. Hal ini, saya alami ketika memotret Mi Pangsit Rizky yang berada di pujasera pada Taman Bibit. Ditambah lagi, waktu itu hujan sedang turun dan waktunya orang-orang pulang kerja. Sudah bisa membayangkan betapa ramainya tempat itu?

Saya harus mencari foto makanan untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Itu berarti, saya bekerja tak mengenal waktu. Ketika makanan yang saya incar adalah makanan untuk sarapan, itu artinya saya harus berangkat pagi. Kalau untuk makan siang sih, tidak ada masalah bagi saya. Yang menjadi masalah adalah ketika untuk makan malam. Saya harus tetap berangkat memotret malam hari. 

Dengan bekerja sebagai fotografer makanan, saya menjadi tahu, bahwa kuliner di Surabaya ini banyak sekali. Tutup satu, muncul yang lainnya. Begitu terus. Dan, kuliner malam hari di Surabaya juga tak kalah banyaknya. Ketika saya mendapatkan tugas lapangan malam hari, saya selalu mencari teman untuk mengunjungi tempat tersebut. Yah, untuk perempuan keluar malam hari cukup mengkhawatirkan.

Saya pernah mendatangi kuliner yang buka sekitar pukul sebelas malam. Yakni kuliner ceker ayam dengan kuah dan telur puyuh. Apesnya, saya sudah bela-belain memotret, atasan saya tidak suka dengan foto saya. Untungnya, saya tidak diminta kembali memotret, hehe.

Hal lain yang tidak mengenakkan yakni, saya harus mendatangi event kuliner yang ada di Surabaya. Nah, event kuliner selalu ada di hari Sabtu maupun Minggu. Dengan kata lain, apabila ada event kuliner saya harus tetap bekerja. 

Tak hanya mengenai event kuliner saja, pun ketika ada warung atau cafe baru yang buka di Surabaya. Saya harus datang untuk mencicipi makanan mereka; memotret, menuliskannya di situs. Tanpa terkecuali.

Hal yang paling membuat saya meragu adalah ketika datang ke cafe yang memiliki menu babi atau minuman keras. Terus terang, saya sedikit terganggu ketika harus datang ke cafe yang seharusnya tidak saya datangi, hehe.

Akhirnya, setelah satu bulan menjadi pekerja tetap, saya memutuskan untuk resign

Haha.

Iya, saya menyerah. Terlebih lagi, ketika itu saya mendapatkan pekerjaan tambahan yakni memotret menu makanan. Itu artinya, saya harus berkeliling Surabaya lebih lama, lebih melelahkan. 

Tapi, malam ini saya merindukan kegiatan tersebut. Meskipun, tempat saya bekerja tersebut sudah memutuskan untuk berhenti. Sayang sekali.

2 Comments:

  1. susah susah gampang fotomakanan tu ya mbak

    ReplyDelete
  2. Wah, aku nggak nyangka ternyata mbak wulan ini banyak sekali pengalamannya di berbagai bidang. I adore you sist ��

    www.nadiahasyir.com

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^