Jan 11, 2020

Pengalaman Pertama Hidup Tanpa Nasi



Sebuah awal yang tak mudah memang, memutuskan untuk meninggalkan nasi dalam kehidupan sehari-hari. Niat awal saya untuk meninggalkan nasi, tentunya untuk diet. Saya lupa sejak tahun berapa,tetapi itu sudah sangat lama sekali. Mungkin, sejak awal tahun 2014 atau 2015. Kamu pasti juga tahu, bahwa kebanyakan diet pasti diharuskan tanpa nasi. Nah, waktu itu saya mencoba diet mayo dan sudah pernah saya tuliskan dalam blog ini. 

Bagaimana rasanya ketika memutuskan untuk meninggalkan nasi atau dengan kata lain, makan tanpa nasi. Padahal ya, aroma nasi baru matang itu nikmat sekali. Dimakan dengan tempe goreng hangat saja sudah sangat nikmat. Hem. Berat sekali. Sungguh. 

Buat kamu, yang memutuskan untuk meninggalkan nasi, yang semangat ya. Saya akan menceritakan mengenai pengalaman saya, bagaimana awalnya bisa meninggalkan nasi untuk konsumsi sehari-hari sampai total tidak makan nasi. Tapi, kalau rindu saya juga makan nasi, kok.


Saya masih ingat betul, bagaimana rasanya badan saya hari pertama hidup tanpa nasi. Jadi, diet mayo itu diet tanpa nasi, gula, garam, penyedap rasa, gorengan,dll. Untuk karbohidrat digantikan dengan kentang, ubi, atau apa pun yang mengandung karbohidrat yang sehat. Hari itu badan saya sangat lemas, meskipun sudah mengganti karbohidrat. Syukurlah, saya tidak sampai pingsan, hanya kepala sangat pusing, hehe.

Ketika merasakan kepala pusing, saya cepat-cepat membuat teh hangat dengan sedikit gula, agar saya tidak jatuh sakit. Tentunya, keluarga saya menentang keputusan saya tersebut, tetapi bagaimana lagi kalau ingin mengecilkan tubuh harus konsisten bukan? Yah, karena saat itu berat badan saya sudah mencapai 60kg. MashaAllah, itu adalah berat badan terberat selama hidup saya.

Sejujurnya, diet mayo yang saya lakukan gagal. Karena sungguh tidak enak makan makanan tanpa ada rasa alias hambar. Tapi, berat badan saya berhasil turun 7kg dalam satu tahun. Jadi, selama satu tahun itu saya tidak makan nasi, menggantikan nasi dengan kentang, roti gandum, dll. Untuk lauknya, saya tetap makan seperti biasa.

Pada kenyataannya, hidup tanpa nasi memberikan banyak manfaat untuk saya. Tentunya, selain berat badan turun, pun karena sakit mag saya hampir tidak pernah kambuh bahkan ketika saya minum kopi. Lucu, kan? Lebih lucu lagi, ketika bepergian pakai mobil atau kendaraan umum saya tidak mabuk, dengan catatan saya tidak makan nasi.

Pernah saya ke Semarang, selama dua hari di sana aman-aman saja ketika naik Trans Semarang. Tapi, pada hari ketiga saya mencoba sarapan nasi. Perjalanan dengan Trans Semarang belum ada sepuluh menit, saya sudah mabuk. Sejak itu, saya paham bahwa saya tidak tahan dengan nasi, atau lambung saya tidak bisa cepat mencerna nasi. 

Untuk kamu yang benar-benar tak bisa meninggalkan nasi, mulailah dengan menggantinya dengan karbohidrat lain; kentang, ubi, nasi merah, roti gandum, oatmeal, dll. Lakukan secara perlahan dan konsisten, apabila tubuhmu sudah menyesuaikan dengan kebiasaan baru, semua akan baik-baik saja. Sehingga, ketika kamu hendak diet lagi di kemudian hari, tak akan ada drama tubuh lemas dan kepala pusing.

Semangat ya!

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^