Feb 17, 2020

Bagaimana Saya Menghadapi Titik Terendah Hidup





Awalnya, saya ingin memberi judul artikel ini “bagaimana saya menghadapi depresi”, lalu saya urungkan. Alasannya sederhana, saya tidak tahu apakah saya depresi atau tidak. Meskipun, apa yang saya rasakan kemarin-kemarin itu sesuai dengan arti kata depresi di KBBI, hehe. Di sini, saya ingin berbagi bagaimana saya menghadapi titik terendah dalam hidup, yang baru bisa saya lepaskan secara perlahan awal tahun ini. Sebelumnya, saya benar-benar tidak tahu harus ke mana, harus bagaimana dan harus seperti apa. 

Namun, bukan berarti saat ini saya sudah baik-baik saja, hanya saja saya sudah merasa baik-baik saja dan perlahan menerima tanpa melawan, menyembuhkan tanpa “tapi”. Cara setiap orang menghadapi titik terendah dalam hidup berbeda-beda. Ada yang melemah beberapa waktu, kemudian tegar. Ada yang butuh banyak sekali waktu untuk mengembalikan kesehatan mentalnya yang awut-awutan. 

Orang berkata “ikhlas dan sabar” karena memang itu jalan satu-satunya, tetapi saya tahu itu berat dan seperti tidak mungkin bisa dilakukan. Tapi, rasa ikhlas dan sabar itu butuh waktu, semua butuh waktu. 

Di bawah ini merupakan hal yang saya lakukan ketika menghadapi titik terendah dalam hidup, ketika saya ingin menghilang saja, ketika perasaan setiap bangun tidur saya merasa tidak berguna, ketika saya tidak baik-baik saja, ketika saya harus tidur dengan bantuan antimo ~

Menyibukkan Diri

Awalnya, saya tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan, bekerja pun sangat-sangat tidak bergairah. Kalau tidak mengingat saya perlu untuk makan dan membayar indekos, mungkin saya tidak akan bekerja. Saya benar-benar lelah, bahkan hubungan saya dengan Tuhan ikut memburuk. Saya tidak pernah lagi berlama-lama dengan-Nya, sehingga saya hanya salat lalu selesai. Tidak ada doa. Tidak ada pengharapan-harapan apa-apa lagi. Saya takut berharap, bahkan kepada-Nya saya tidak berani berharap apa-apa.

Jadi, ketika pada titik terendah, saya menyibukkan diri. Apa pun itu. Kalau saya mengisinya dengan banyak menulis artikel maupun fiksi, lalu saya mulai membuat video mengenai kehidupan saya sehari-hari. Dalam video tersebut, saya ungkapkan apa yang saya rasakan saat itu dan satu hal lagi. Dalam video saya mendokan mereka untuk bahagia. Saya berharap, dengan begitu saya ikut bahagia.

Menulis Jurnal

Saya sudah membagikan bagaimana saya mengisi jurnal. Di sana jelas tidak ada tulisan curhat atau mengenai kegundahan saya. Saya memakai jurnal tersebut untuk menulis pekerjaan-pekerjaan saya. Memberikan saya banyak pekerjaan, meskipun tidak ada uang di dalamnya. Menulis jurnal ini, bertujuan agar saya tetap di jalan yang tepat. Agar saya tetap fokus dengan tujuan hidup saya, sebelum saya di titik terlemah.

Bertemu Teman

Sudah saya katakan di awal, ada kalanya saya tidak baik-baik saja, meskipun sekarang saya merasa baik-baik saja. Saya sempat bermimpi mengenai seseorang yang menyakiti saya, dalam mimpi tersebut saya dimaki-maki, saya dimarahi habis-habisan dan saya tidak berbuat apa-apa. Bangun tidur, dada saya kembali sesak. Saya sedih dan membuat mood saya kembali berantakan. Untuk itu, saya langsung ingin bertemu seseorang. 

Saya bertemu seorang teman, mengajak dia jalan-jalan ke mal, kemudian pulang. Dan yah, sebelumnya saya ke  psikolog, untuk mengetahui apakah saya baik-baik saja atau memang saya depresi. 

Bermonolog 

Saya melakukan monolog. Saya mengambil kursi, kemudian duduk di depan cermin. Saya menanyakan pada diri sendiri, “Wulan apa kabar?” saya bercerita kepada diri sendiri, memberikan semangat untuk diri sendiri. Terkadang, saya melakukan itu sambil menangis. Tidak lama, hanya beberapa menit saya saya bermonolog. Sejujurnya, saya tidak tahu apakah hal itu bermanfaat untuk saya, meskipun setelah saya melakukan hal itu dada saya sesak. Tapi, mungkin saja semangat yang saya lakukan untuk diri sendiri, akan memberikan saya hati yang kuat. 

Siapa tahu, kan?

Ruqyah Mandiri

Saya tidak bisa tidur. Terkadang sampai subuh. Teman saya menyarankan untuk membaca trikul dan ayat kursi, lalu ditiupkan ke air putih dan diminum. Saya melakukan tersebut sebelum tidur. Memang, cara tersebut tidak selalu berhasil dan membuat saya tidur lebih awal. Tapi, hati saya tenang. Saya tidak cemas dan saya tidur dengan tenang.

Hal lain yang saya lakukan adalah berhenti mengingat perkataan buruk orang lain kepada kita. Tidak seratus persen bisa saya lakukan, tetapi ini harus dilakukan. Orang lain bisa sangat tidak peduli kepada kita, meskipun kita begitu peduli dan sayang. Untuk itu, kita harus juga bisa masa bodoh dengan orang lain.

Saya katakan, untuk saat ini saya baik-baik saja. Saya bahagia.

2 Comments:

  1. Mbak Wulan, terima kasih ya udah berbagi. Sebelumnya mau kasih peluk dulu. :){}

    Menjelang akhir tahun kemarin juga merupakan masa-masa menyakitkan dalam hidupku. Ada rentetan momen yang membuatku kehilangan arah dan merasa tidak berguna. Tiap malam aku tidur diselimuti rasa cemas. Seringnya sih jadi susah tidur dan suka tiba-tiba nangis saat beraktivitas. Rasanya sesak dan seperti punya lubang menganga yang tak terlihat. Tapi alhamdulillah aku bisa melaluinya, walau aku nggak tau apakah diriku sudah baik. Yang aku tau aku sudah lebih baik dari kemarin.

    Terus bertahan ya Mbak, insyaAllah akan selalu ada pelangi sehabis badai. :'

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^