Kehutanan Menyumbang Emisi Terbesar di Indonesia



Dalam dua tahun terakhir, perubahan iklim saya rasakan. Nyatanya perubahan iklim tersebut membuat perasaan berubah-ubah, begitu juga dengan yang saya alami. Saya sering merasakan cemas berlebihan, takut, pikiran negatif. Terutama ketika hujan lebat disertai angin. Namun, perasaan takut dan cemas itu bukan hanya saya saja yang mengalaminya, pun sebagian besar orang di muka bumi ini. Apalagi, dibarengi dengan adanya pandemi.

Pada gathering yang saya ikuti, membahas mengenai perubahan iklim yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan, perubahan tersebut pun disebabkan oleh kita sendiri - manusia dengan keegoisannya. Untuk itu, sebagai manusia yang masih membutuhkan bumi dan alam yang indah ini, kita harus peduli dengan kesehatan bumi.

Perubahan Iklim Menyebabkan Kecemasan


Faktanya, tidak hanya saya yang mengalami kecemasan ketika iklim berubah. Saya masih ingat, tahun lalu ketika cuaca terasa panas dan angin dingin, satu keluarga sakit. Hal ini membuat saya cemas dan ketakutan, terutama di dusun sebelah banyak orang meninggal dikarenakan Covid-19.

Hal yang membuat cemas lainnya adanya emisi terhadap bumi ini. Tentu saja, penyebabnya adalah manusia itu sendiri. Kita - manusia - menyumbang banyak emisi untuk bumi dan menyebabkan perubahan iklim yang cukup ekstrim.

Terjadi banyak bencana alam; tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, dan lainnya. Membaca hal ini, pikiran saya langsung mengarah pada hutan. Hutan merupakan suatu kesatuan pepohonan yang membantu bumi dari berbagai sektor.

Sektor Kehutanan Menyumbang Emisi Terbesar di Indonesia


Banyaknya deforestasi membuat timbulnya emisi di Indonesia. Tentunya, bukan hanya hutan saja yang menyumbang emisi di Indonesia, pun produksi yang dikeluarkan oleh mesin dan bahkan manusia sendiri. Namun, hutan menyumbang emisi terbesar. Untuk itu, kita harus mulai peduli untuk melindungi hutan dan mulai melakukan sesuatu dari hal yang paling kecil.

Pemerintah menyusun beberapa skenario atau opsi pencegahan deforestasi terencana. Seluruh wilayah berhutan di wilayah yang telah dibebani izin/alokasi pemanfaatan disarankan untuk dikonservasi (sekitar 5,8 juta hektar) sementara untuk hutan alam yang berada di luar arahan lindung disusun beberapa opsi yang dapat dilihat di dalam tabel berikut. Namun, langkah-langkah atau opsi ini membutuhkan persetujuan dari pemilik izin dan pihak otoritas yang memberikan izin. (sumber: https://komitmeniklim.id/aksi-mitigasi-sektor-kehutanan/)

Hutan Bukan Sekadar Perkumpulan Pohon, Melainkan Sumber Kehidupan


Penebangan hutan besar-besaran merugikan banyak pihak, terutama orang-orang yang menggantungkan hidup di hutan. Bagi sebagian orang, hutan adalah mal atau tempat mereka mencari makanan untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, di hutan tentunya banyak habitat yang perlu dilindungi keberadaannya, agar tidak menggoyahkan rantai pangan yang ada.

Tak hanya itu, hutan juga terdiri dari tumbuhan langka yang harus dilindungi, agar kelak anak cucu kita tidak hanya mengenal tumbuhan tersebut dalam buku pelajaran saja. Budaya pun tak bisa lepas dari hutan yang juga dihuni oleh suku-suku tertentu.

Orang-orang yang sudah lama tinggal di hutan dan sekitarnya, memaknai hutan sebagai identitas diri, bukan sekadar tempat mencari keuntungan. Saya sempat menonton drama Korea Jirisan dan dari sana mengerti serta paham bagaimana pentingnya hutan bagi kita- manusia. Selain ada budaya yang harus dijaga, pun hutan dijadikan tempat wisata tanpa harus merusaknya.

Mengkonsumsi Hasil Hutan



Memakai hasil hutan bukan sekadar memakai kayu-kayunya, ya, tetapi lebih ke produksi hutan itu sendiri. Seperti madu, buah-buahan, karet, dan produk hutan lainnya.

Berteman dengan alam hal yang harus dimulai dari kita sendiri. Tentunya, kita bisa memulainya dengan hal-hal kecil. Seperti memberitakan hal-hal mengenai pentinganya menjaga lingkungan bersama #EcobloggerSquad
 
 

Posting Komentar

0 Komentar