Kelas Pra-Nikah (1) : Manajemen EKonomi Keluarga

by - 15.13





Sekolah Pra-Nikah, kalau mendengar beberapa penggalan kata tersebut apa yang ada dalam pikiran kamu? Tidak usah dijawab dalam kolom komentar, cukup dibatin saja. Sejujurnya, saya juga tidak tahu ada sekolah semacam ini. Saya tidak pernah tahu, bahwa untuk menikah atau pernikahan itu ada sekolahnya. Nikah, ya, nikah saja.

Ustaz yang mengisi sekolah pra-nikah kemarin bertanya, “Ketika sekolah dapat pelajaran hak dan kewajiban suami-istri, tidak?”kami serentak menjawab tidak. “Nggak dapat, kok, berani-beraninya menikah!”sontak, kamipun tertawa. 

Allah telah mengatur segalanya dalam Al-Qur’an, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, mulai dari ujung kuku sampai ujung rambut, mulai dari kita lahir sampai kita meninggal nantinya, dan Allah juga mengatur mengenai pernikahan dalam Al-Qur’an. 


Sekolah pra-nikah di sini adalah mengenal, mengetahui, dan mempelajari bagaimana kehidupan setelah pernikahan dan bagaimana menghadapi berbagai macam “badai” yang akan terjadi dalam pernikahan kelak. Tak hanya setelah pernikahan saja, pun bagaimana kita memilih calon pasangan dan sebagainya dalam Islam. 

Mengikuti sekolah pra-nikah ini akan ada 5 kali pertemuan setiap minggunya dan setiap kali pertemuan akan ada dua sesi. Nah, kemarin adalah pertemuan pertama. 

Pada pertemuan pertama ini, membahas mengenai Manajemen Ekonomi Keluarga dan Memulai Keluarga Baru Islami. Pada artikel ini, saya akan membahas tema pertama yaitu;


Manajemen Ekonomi Keluarga – Ust. Misbahul Huda


Saya akan menuliskan dari apa yang saya dapatkan dan saya catat, jadi mohon maaf apabila ada informasi yang kurang lengkap ya. 

Menurut Ust. Misbahul Huda, manajemen keuangan keluarga yang baik adalah dengan menjadi keluarga sederhana. Sebenarnya, ini juga sudah ada dalam Agama Islam, bahwa kita harus hidup sederhana tanpa adanya kesombongan yang justru menjadi malapetaka buat diri sendiri. 
Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Mahamengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Mahamelihat.[asy-Syûra/42:27].

Untuk membangun keluarga sederhana, tidak sesederhana kelihatan dan kedengarannya. Sudah jadi barang lampau ya, kalau menciptakan hal sederhana terkadang justru paling sulit dilakukan. Begitu pula dengan membangun keluarga sederhana, di era yang semakin berkembang seperti ini. Godaannya semakin besar pula. 

Seperti saya, yang belum bisa menyederhanakan diri. *kaleum*

Dengan memiliki keluarga sederhana, otomatis keuangan keluarga pun bisa teratasi. Bukan begitu?

1# Keluarga yang Baik dalam Kepemimpinan dan Sesuai Al-Qur’an


Ust. Misbahul Huda mengatakan bahwa keluarga yang baik itu, yang dalam kemimpinan dan sesuai dengan Al-Qur’an. Kepemimpinan di sini disebutkan sebuah kemandirian. Sejak kecil, anak harus dibiasakan untuk mandiri, sehingga terciptalah seorang anak yang bisa percaya diri dalam memimpin.
Untuk membentuk anak dalam kepemimpianan harus ada kerja sama antara peran ayah dan ibu. Ayah harus bisa membimbing ibu dan ibu harus bisa membimbing anak-anaknya. 

2# Tantangan Kehidupan Lebih Besar Daripada Kemampuan Beradaptasi

Kalau pepatah mengatakan “Besar pasak daripada tiang”, kira-kira seperti itulah yang dimaksud Ust. Misbahul Huda. Akan ada keinginan-keinginan yang sebenarnya tidak perlu. Nah, untuk menghadapi hal tersebut ialah dengan mempelajari spiritual atau lebih dikenal dengan beragama. 

Kuat secara fisik, cerdas secara-intelektual saja tidak cukup untuk menghadapi krisis kehidupan. Untuk itu, diperlukan kukuh dalam spiritual.

3# Memahami Akil Balig

Zaman sekarang balig-nya maju dan akilnya mundur. Hal ini terjadi karena banyaknya informasi yang masuk atau mudahnya kita mengakses banyak informasi, menonton yang seharusnya belum boleh ditonton. 

Ust. Misbahul Huda bercerita beberapa waktu lalu ada kasus pemerkosaan yang dilakukan secara bersama-sama dan salah satu pelakunya merupakan bocah kelas 3 SD. Saat ditanya Bu Risma – Walikota Surabaya – mengerti hal demikian dari mana, sang bocah berkata dari warnet. 

Sungguh, kehidupan itu banyak sekali lika likunya, kita sebagai orang tua harus lebih bisa menyaring informasi dan bagaimana menuntun anak-anak dengan baik.

Keluarga Sukses Versi Nabi; Mandiri di Usia Dini

Keluarga sukses versi nabi ialah yang sudah mandiri sejak dini. Nabi Muhammad SAW sejak usia 5 tahun sudah menjadi penggembala kambing. Itulah bentuk kemandirian sejak dini. Anak diberikan tanggung jawab dan kepercayaan, sehingga sampai usianya matang nantinya ia bisa diberi tanggung jawab dan dapat dipercaya. 

Keluarga yang sukses juga berarti keluarga yang mampu menghadapi masalah-masalah kehidupan, baik ketika di puncak maupun ketika pada dasar kegagalan. Itu berarti, keluarga sukses yang mampu melahirkan generasi yang mandiri secara finansial maupun sosial, sekaligus mampu menghadapi masalah-masalah pada zamannya.

Contohnya pada zaman saat ini adalah masalah mengenai pergaulan di media sosial dan bagaimana menyikapi berita-berita yang ada. Karena, begitu mudahnya kita mengakses informasi yang ada.

Re-Posisi;

Dalam Al-Qur’an ada 17 kali dialog orang tua dan anak. Dialog dengan ayah sebanyak 14 kali dan dengan ibu 2 kali. Memang, madrasah pertama seorang anak terletak pada ibunya, karena seorang ibu lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak. Namun tetap saja, pertanggung jawaban tetap pada seorang ayah.

Boleh saja, ibu, nenek, pembantu atau siapaun yang mengasuh anak. Tetap saja, pertanggung jawaban ada pada ayah. 

Mengapa kehadiran ayah sangat penting?


Fenomena Ayah Bisu

Pembagian tugas berubah menjadi kurang baik, saat ayah memilih “bisu” dengan apa yang terjadi dengan anaknya. Tugas seorang ayah bukan sekadar mencari nafkah untuk keluarganya, pun ia harus ikut andil dalam mendidik anaknya. 

Mendidik anak bukan dengan cara diam saja melihat anak tidak melakuan kewajiban, kemudian marah-marah tanpa mengingatkan. Dalam keluarga, seorang ayah pun harus punya sisi lembut. Komunikasi yang baik dengan anak. Pelukan dan diskusi juga perlu terjalin di antara keduanya. 

Bagaimana seorang anak tahu apa kemauan kita, tanpa kita mengatakannya? Jangankan anak-anak, orang yang sudah sama-sama dewasa pun akan sulit mengerti, kalau tidak dikatakan. 

Ust. Misbahul Huda mengatakan, dalam keluarganya, ia selalu menerapkan tiga kata ajaib,”Tolong, terima kasih dan maaf.” 

Meskipun kita sebagai orang tua memiliki kedudukan lebih tinggi, tetap saja kita harus menghargai mereka. Salah satu caranya ya, dengan adanya tiga kata sakti di atas.

Bekal Anak Sukses


Anak sukses tidak selalu lahir dalam keluarga mapan. Bahkan kebanyakan anak sukses lahir dari keluarga yang sederhana. Tahu bagaimana hidup mulai dari bawah, tahu bagaimana dibebani sesuatu.
Hidup ini sederhana, yang ruwet itu ada dalam pikiran kita. Iya apa, tidak? Terkadang, kita berpikir terlalu jauh, sehingga sulit menyederhanakan yang ada di depan kita. Katakanlah, saya sebagai blogger yang harus menghadiri sebuah event. Dalam event harus memakai tema pakaian tertentu. Demi sebuah penampilan, saya mengeluarkan dana untuk membeli baju. Padahal, memakai baju yang sudah ada, juga sama saja. 

Hidup sederhana itu sebuah prinsip kehidupan. Harus diterapkan betul-betul, agar bisa mengontrol diri dengan hal-hal yang tak perlu. Hal ini harus ditanamkan sejak dini, agar ketika dewasa anak lebih mudah untuk menjalaninya. 

Dengan adanya manajemen keluarga sederhana, sama saja dengan mengajarkan diri untuk bersyukur. Rezeki yang didapatkan pastikan mencukupi kebutuhan, bukan keinginan. 

Itu dia pembahasan mengenai Manajemen Ekonomi Keluarga yang disampaikan oleh Ust. Misbahul Huda. Untuk sesi tanya jawab, saya mencatat dua hal penting mengenai pembahasan ini.

1# Kalau seorang ibu memiliki ide untuk anak, sampaikan dahulu kepada ayah dan ayah yang akan menyampaikan kepada anak. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan dan kedudukan seorang ayah. Dengan demikian, di mata anak ayah hebat, meskipun ide tersebut dari ibu.

2# Kekuatan seorang perempuan terletak pada hatinya, pada kesabaran dan diamnya. 

Baik. Itulah pembahasan pada Sekolah Pra-Nikah yang saya ikuti di Masjid Al-Falah, Surabaya. Ini merupakan pembahasan pertama pada hari Minggu, 31 Maret 2019. Masih ada pembahasan kedua, yang InsyaAllah akan tayang minggu ini juga. Ditunggu ya.




You May Also Like

5 comment so far

  1. Alhamdulillah ikut menambah ilmu. Semangat terus belajarnya ya Ukhti

    BalasHapus
  2. dulu sebelum nikah juga aku seneng datang ke kajian2 pra nikah mbak. Dan beneran bisa jadi bekal banget pas udah nikah. Jadi udah punya bekal ilmu, gak blank.

    BalasHapus
  3. Kelas kaya begini memang penting, Ning. Biar nggak kaget ketika menikah. Banyak teman yang curhat, begitu menikah kaget soal banyak hal. Terutama masalah pengelolaan keuangan.

    BalasHapus
  4. Wah menarik banget, mbak. Aku dulu juga agak "kagol" karena setelah nikah ternyata nggak sesederhana yg kubayangkan. Ada banyak banget penyesuaian yg harus dipelajari & dilakukan di dalam rumah tangga


    Oiya, cara ikutnya Kelas Pra-Nikah gimana ya mbak?
    Yg sudah menikah boleh ikut mendengarkan sesinya nggak ya?

    Aku pingin menimba ilmu membina rumah tangga lebih lanjut lagi soalnya hehe

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^