Memasukki Dunia yang Tak Kenal Kata Puas

by - 16.27




“Saya sedang pada fase memasukki dunia tanpa pernah puas, Kak. Rasanya sudah mau masuk ke jurang.” 

Begitu kata salah satu kenalan saya di instagram. Dia merasa berada di dunia yang tak akan pernah puas. Mau lebih, lebih dan lebih. Namun, bukankah dunia memang tempatnya hal-hal yang tak akan bisa memuaskan kita?

Kenalan saya tersebut memiliki online shop yang menjual berbagai kebutuhan muslimah; gamis dan kerudung. Dia berkata, dunia fesyen tidak ada habisnya, akan membuat orang terus menerus berganti gaya dan mengeluarkan dana untuk hal yang sebenarnya bisa disederhanakan. 

Terus terang, pernyataan dia tersebut membuat saya tertampar. Beberapa waktu lalu, saya juga merasakan hal serupa. Saya merasa dalam lingkaran setan, yang ingin terus membeli produk-produk fesyen dan tak bisa saya hentikan. Selalu ada saja hal yang ingin saya beli, dengan alasan sepele; bagus kali ya, kalau saya pakai?


Sudah Hampir Dua Tahun Mengenakan Jilbab


Sudah hampir dua tahun saya mengenakan hijab dan saya terkejut, ternyata kerudung saya benar-benar menumpuk. Dan, tidak jauh berbeda dengan gamis serta rok. MasyaAllah, banyak sekali. Saya pun tak memakai semua itu, hanya beberapa gamis dan kerudung saja yang saya pakai. Saya pun mulai resah dengan hisab yang akan saya tanggung nantinya. 

Saya berpikir, kalau belum dua tahun saja koleksi fesyen saya sebanyak ini, bagaimana kalau saya sudah menjalani bertahun-tahun mengenakan hijab? 

Saya sadar, fesyen saya menumpuk karena hati saya belum mantap pada satu gaya. Setiap hari ada saja model gamis baru, yang membuat saya ingin memilikinya. Atau model hijab. Dulu, pertama kali berhijab saya suka memakai kerudung model pasmina. Saya membeli pasmina melulu sampai menumpuk. Dan sekarang, saya lebih suka model segiempat. Akhirnya, kerudung model pasmina saya bagi-bagikan. 

Lalu, sampai kapan saya akan berubah-ubah seperti itu?

Kita Adalah Orang-Orang yang Serakah


Mungkin, jika Allah tak menghadirkan rasa kenyang, mulut ini akan terus menerus mengunyah dan menelan. Saya mengingat pada buku Hunger Games, orang-orang Capitol suka berfoya-foya, berpesta pora dan meminum cairan yang bisa memuntahkan makanan yang sudah mereka makan, hanya agar bisa makan di pesta sepuasnya. Mungkin, apabila di dunia nyata ada demikian, kita akan melakukan hal serupa.

Tak pernah ada rasa kenyang. Tak akan pernah puas.

Pencapaian-pencapaian yang kita kejar di dunia ini, tak akan pernah membuat kita puas. Kita akan terus menerus menginginkan hal lebih. Awalnya, kita bisa menerima penghasilan satu juta setiap bulannya. Lalu, kita menginginkan lebih dan lebih. Akhirnya, gaya hidup kita akan terus menerus menginginkan lebih juga.

Banyak Bersyukur Sebagai “Rem”


Salah satu alasan Allah meminta kita untuk sering-sering bersyukur ya untuk ini, karena kita manusia-manusia serakah yang tak akan pernah puas akan sesuatu. Untuk itu, banyak-banyak merasa cukup dan bersyukur agar tidak tergoda dengan hal-hal di luar sana, yang bisa jadi bisa menjerumuskan kita ke jurang kesengsaraan. 

Meskipun saya menuliskan hal ini panjang lebar, bukan berarti saya bisa berhenti dari jerat setan ini. Saya masih berusaha untuk berhenti, meskipun terkadang lost control juga. Belajar untuk menyederhanakan diri, dengan bersyukur apa yang sudah saya miliki. Tidak tergiur dengan gamis-gamis keceable yang sebenarnya kece karena modelnya selebgram-selebgram cantik, tinggi, putih mulus. Huft.

Kalau ditanya, kerja freelance selama ini, kok duitnya nggak kekumpul ke mana saja? Larinya ke fesyen, Kak!

Hem.

You May Also Like

1 comment so far

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^