Oct 11, 2019

Begini Rasanya jadi Minoritas


Sejak kecil, saya muslim. Meskipun, saya bukan muslimah yang taat ataupun muslimah yang baik. Yang pasti, saya muslim. Entah dari mana. Mungkin, dari setiap sore saya dicariin ibuk buat disuruh berangkat ngaji atau kalau setiap tahun saya ikut puasa dan minta dibelikan baju baru ketika lebaran. Intinya, saya ini muslimah yang dilahirkan dari bapak dan ibuk yang beragama Islam pula.

Sejak 2 tahun lalu, saya belajar mengaji. Bukan kajian rohani atau ilmu pengetahuan mengenai Agama Islam, melainkan membaca Al-Qur’an mulai dari nol. Bukannya, sejak kecil sudah belajar ngaji? Iya, tetapi tidak bertahan lama. Hasilnya, saya belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. 

Setiap hari Selasa pagi, saya mengaji bersama ibu-ibu kompleks daerah kos – kisah saya ini, InsyaAllah akan saya cerita suatu hari nanti. Dua minggu lalu, ketika kami s
udah selesai membaca satu per satu, tiba-tiba salah satu ibu-ibu membicarakan pemimpin negara kami; Pak Presiden Joko Widodo alias panggilan akrabnya Jokowi.

Sudah sejak tahun 2014 Bapak Jokowi memimpin negeri ini, sudah banyak sekali hal yang terjadi. Banyak sekali fitnah dan cacian yang diarahkan ke beliau. Saya pribadi, tidak tahu hal tersebut benar atau tidak dan juga tidak berusaha mencari tahu. Kebetulan, dua minggu lalu sedang ramai mengenai RUU KPK dan berita di Wamena, Papua. 


Begini Rasanya jadi Minoritas


Pada pemilu 2019 lalu, saya memilih Pak Jokowi, begitu pula dengan pemilu sebelumnya. Sedangkan, ibu-ibu teman saya mengaji – yang saat itu ada 5 orang termasuk ustazah, memilih Pak Prabowo.

Saya pribadi, tidak membenci Pak Prabowo, sehingga saya memilih Pak Jokowi. Melainkan, saya memang menyukai Pak Jokowi ketimbang Pak Prabowo. Jadi, saya memilih Pak Jokowi, murni karena Pak Jokowi, bukan karena membenci Pak Prabowo. Di sini, paham?

“Saya kalau lihat orangnya di TV. Hem. Gemes, ingin tak kruwek,”ujar salah satu ibu-ibu.

“Iya-iya,”sahut yang lainnya. 

Saya sendiri hanya senyum-senyum mendengar mereka berbicara, menimpali satu sama lain. Mengucapkan kekesalan, kenapa tidak segera menangani kerusuhan Wamena dan mengenai RUU KPK. 

Memang, Pak Jokowi sedang tidak sejalan dengan rakyatnya. Tapi, Sayang, beliau tidak sendirian. Meskipun, dia orang nomor satu di negeri tercinta. Di belakangnya, ada orang-orang yang perlu didengarkan oleh presiden kita. Ada masukkan ini dan itu, pendapat-pendapat yang tidak boleh diabaikan begitu saja. 

Pak Jokowi ini memimpin negara, bukan sedang memimpin keluarga. Yang mana, apabila istrinya tidak menurut dan ngeyelan bisa diceraikan dan menikah lagi. Tidak semudah itu, Ferguso!

Sebagai rakyat, sangat wajar apabila kita mengungkapkan pendapat, menuntut keadilan, sebagai pengingat pemimpin kita. Namun, apabila terlalu membenci pun tidak bagus. Apalagi, sampai benar-benar membenci. 

Bukankah kita punya Allah, yang mampu memberikan pertolongan?

Saya bersyukur, meskipun berbeda pendapat dalam memilih pemimpin, grup WhatsApp ngaji saya tidak berisi caci maki, atau ibu-ibu membagikan berita yang menimbulkan pertikaian apalagi hoaks.
Mereka ibu-ibu baik, yang mengungkapkan kekesalannya dengan “gemas” dan santun, bukan dengan cara anarkis maupun menghasut.

Berbeda apabila saya mengikuti kajian umum, terkadang pembicaranya sedikit keluar jalur. Namun, kita punya “saringan” untuk menyaring hal-hal yang pantas ataupun tidak. 

Padahal, saya datang ke majelis ilmu meninggalkan semua yang saya miliki di rumah; pendidikan, status sosial, pengetahuan, dll. Saya datang dengan membawa gelas kosong, sebagai hamba yang haus akan ilmu. Dan berharap, saya mendapatkan banyak kebaikan penuh dengan cinta.

Sayangnya, tak semua orang bisa memberikannya.

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^