Cerita Arang: Mengadopsi Arang

 

Sekitar dua tiga tahun lalu, saya pernah berkata pada seseorang,” Aku ingin mengadopsi kucing. Berwarna hitam pekat.” Kala itu, saya masih indekos. Dengan kata lain, belum bisa mewujudkan untuk memelihara kucing. Tentu, sebab ibu kos tidak akan mengizinkan. Orang yang saya ceritakan mengenai keinginan tersebut berkata, “ Kasih nama black.” Saya membalas, “Aku kasih nama Arang.” Dia membalas, “Ah iya, kamu suka Bahasa Indonesia.”

 

Sebenarnya, bukan satu dua tahun lalu saya berkeinginan memiliki kucing berwarna hitam. Sebelumnya, saya sudah sering mengagumi kucing berwarna hitam, sebab saya menyukai warna hitam. Pada tahun 2020 ini, ketika Covid-19 melanda Indonesia, saya memutuskan untuk pulang. Pada bulan Agustus ini, saya memutuskan untuk mengadopsi Arang; kucing berwarna hitam pekat.

 

Arang saya adopsi tanggal 20 Agustus 2020, dia berusia tiga bulan. Kata pemilik sebelumnya, Arang peranakan anggora dan kucing kampung atau lokal. Arang memiliki corak putih pada perutnya, keseluruhan warnanya hitam. Pada sisi matanya ada bulu yang tumbuh tidak sempurna, sehingga memperlihatkan kulit Arang. Sekarang, saya ketahui bahwa kebanyakan kucing berwarna hitam memang seperti itu.

 

Dia sangat aktif.

 

Tidak Sesuai dengan Ekspektasi

 

Awalnya, saya membayangkan akan memiliki kucing penurut. Sehingga, saya bisa menggendongnya dengan leluasa, terutama saya bisa merekamnya. Pada kenyataannya, pertama kali Arang saya bawa ke rumah dia sangat aktif.

 

Sebab dia belum terbiasa di rumah saya, Arang saya lepad di dalam kamar. Adik saya sangat excited dengan kehadiran Arang. Lalu, ketika Arang kami lepas dan dia berlarian ke sana kemari dan cenderung menggigit dan mencakar, adik saya ketakutan. Bahkan, saya sendiri pun demikian. Haha.

 

Setelah Arang datang ke rumah kami, maka keseharian saya seperti ini. Usai subuh, Arang akan mengeong minta keluar. Saya membuka kandangnya, mengeluarkan box pasir dan membuang pup-nya. Lalu, saya mengajaknya bermain. Dia melompat ke sana kemari. Kata teman saya, energinya harus disalurkan agar dia bisa tenang. Lalu, setelah lelah bermain saya masukkan kembali ke kandang. Sore hari, saya melakukan hal serupa. Lucunya, saya sering naik ke atas kursi ketika melepas Arang di dalam kamar, sebab dia akan mencakar dan menggigit kaki saya. Haha. 

 

Saya lakukan hal tersebut selama beberapa hari. Sebab Arang aktif sekali, saya sempat berpikir untuk lepas adopsi, mencari kucing lain yang lebih tenang. Untungnya, saya bertahan dan terus melakukan pendekatan dengan Arang. Saya sering elus-elus dia, lama kelamaan dia sedikit tenang dan tidak asal mencakar.

 

Lalu, apakah dia benar-benar menjadi lebih tenang? Oh, tentu tidak. Dia tetap aktif, tetapi kadangkala dia juga tenang. Sifat mencakar dan menggigitnya, masih ada. Tapi sudah sangat jarang. Arang juga sudah mulai dekat dengan saya, terlalu dekat malahan. 

 

Masalah-Masalah Arang

 


Memutuskan mengadopsi Arang cukup lama saya pikirkan. Bukan sekadar mengenai biaya yang akan saya keluarkan, tetapi mengenai kesiapan hati apabila Arang pergi. Tentu, saya tak ingin hal itu terjadi, apalagi kami sudah dekat. Saya tak tahu apa saya bisa menamai kucing lain dengan nama Arang, apabila dia bukan Arang. Tentu tidak bisa. Saya menyukai nama Arang, maka Arang akan tetap menjadi Arang. Kalau nanti dia pergi dan saya memiliki kucing baru, tentu namanya bukan Arang.

 

Beberapa hari Arang bersama saya, dia muntah. Saat itu hari Jumat pagi, Arang saya mandikan pakai air hangat. Lalu, saya jemur di bawah sinar matahari. Sorenya, dia muntah dua kali. Badannya lemas. Tidak aktif seperti biasanya. Terus terang, saya kepikiran. Saya bertanya kepada teman-teman yang sudah memiliki kucing mengenai hal ini. Saya ketakutan, kalau-kalau Arang mati. Tentu saja, saya akan merasa bersalah sekali. 

 

Saya memberinya minyak kayu putih pada perut, memberinya oralit, tetapi tak ada perubahan. Kata salah satu teman saya, biarkan Arang beristirahat saja. Maka, saya biarkan Arang di dalam kandanganya, beristirahat. Tentu, setiap jam saya menengok Arang, mengecek keadaan dia. Alhamdulillah, malam hari dia mulai normal. Dia kembali aktif, meskipun belum pulih benar. Paling tidak, dia sudah mau makan dan minum. Esoknya, Arang kembali sehat.

 

Kebiasaan-Kebiasaan Arang

 


Saya kira kebiasaan-kebiasaan kucing pada umumnya sama. Seperti cara mereka tidur, cara mereka meminta makanan, dll. Arang pun memiliki kebiasaan yang terkadang membuat saya gemas. Arang suka sekali bersembunyi, kemudian muncul dan menyentuh kaki saya. Terkadang, sentuhannya berupa gigitan dan cakaran, terkadang menyentuh biasa saja. Arang suka sekali dengan batu hias tanaman. Ketika saya mengetukkannya di lantai beberapa kali, dia mengatur dirinya dalam posisi mengintai dengan pantat bergerak-gerak. Lalu, ketika batu saya lempar, Arang akan mengejarnya. Jadi, ketika saya tidak melihat Arang, saya akan mengetukkan batu ke lantai. Ketika dia mendengarnya, Arang akan datang.

 

Tidak seperti yang saya kira, Arang sangat menyukai brokoli rebus, kuning telur matang dan mentah. Arang cenderung bergulung-gulung di pasir ketika dia keluar. Saya pikir, kebiasaan tersebut memang ada pada setiap kucing, ya.



 

Oke, untuk kali ini, cerita Arang akan saya akhiri sampai di sini. Sampai jumpa pada cerita Arang selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^

Diberdayakan oleh Blogger.