20 Nov 2018

Bagi Pengusaha, Membeli Mobil Tunai Itu Hal yang Merugikan




Seperti tajuk yang saya pilih, teman saya yang pengusaha kelapa sawit di Sampit, Kalimantan pernah bilang kepada saya, kalau membeli mobil secara tunai dan full payment itu perbuatan yang merugikan. Dia pun menjelaskan panjang lebar kepada saya mengenai hal tersebut, bercerita mengenai pengalaman dia sebagai usaha.

                Dia si pengusaha, hutang menumpuk, hidup banyak duit. Lho?

                Beberapa bulan lalu, saya kedatangan tamu dari Kalimantan, ya teman saya ini. Dia mengajak saya menginap di salah satu Homestay di Surabaya, lebih lengkapnya di Kertajaya Homestay yang harga sewanya sudah seharga hotel. 


                Dia berencana di Surabaya selama sebulan dan saya diminta untuk menemani dia selama di Surabaya. Ketika masa-masa menemani dia itu, dia bercerita mengenai pengalamannya terjun ke dunia bisnis atau dunia pengusaha. 

                “Orang lihat sih, kayaknya aku ini banyak duit. Nggak tahu saja, setiap bulan muter otak gimana nyicil hutang.”

                Dia bercerita sembari makan makanan yang kami pesan dari go food. Sesekali, saya sering mendapati dia “gupuh” mengangkat telepon, karena jelas itu mengenai bisnisnya yang ia tinggal. Yah, gimana lagi, dia yang pegang duit dan urus duit?

                Temanku kembali bercerita, bagaimana ia bisa mendapatkan pinjaman dari bank. Saya sendiri, sampai tidak paham bagaimana mekanismenya, sampai ia mendapatkan pinjaman. Jangan dikira sekadar 20-30 juta pinjamnya, melainkan 200-300 juta. Di lain hari, dia juga bercerita sampai kena pajak 50juta. 

                Hem. Saya duit tiga juta saja kadang ada, kadang tidak.

                Dia mengungkapkan, kebanyakan pengusaha tidak suka membeli mobil secara tunai atau fullpayment, alasannya uang untuk membeli mobil itu bisa digunakan untuk mengembangkan usaha dan laba dari usaha tersebut, bisa digunakan untuk mencicil mobil.

                Kalau kita mah, nyicil motor karena nggak ada duit banyak dan nggak bisa bayar penuh secara langsung. Dia malah yang duitnya turah-turah, juga memilih membeli mobil dengan mencicil. 

                Saya pernah bercerita seseorang, mengenai teman saya ini. Buat dia, tidak masuk akal, memiliki banyak duit, tetapi banyak hutang juga. Kalau dipikir-pikir secara logika memang demikian sih. Teman saya ini untuk membeli apa pun tidak pakai mikir. Pergi ke Gramedia, tahu-tahu borong buku habis 500ribu. Belum lagi, beliin jam tangan untuk adik temennya seharga smartphone baru. Atau belanja di Eiger habis sejuta. 

                Begitulah.

                Saya melihatnya, enak sekali hidup semacam itu. Seakan apa yang diinginkan bakalan ada terus. Tapi, ingat kembali kata-katanya, ada saatnya dia kebingungan untuk mengatur usahanya. Apalagi, usaha pasti ada saingannya, dia harus berani mengajukan pinjaman ke bank, demi usahanya tetap jalan, kalau tidak, usahanya mandek dan selesai sudah.

                Jadi, ada saatnya memang kita harus melakukan hal demikian lah ya (pinjaman). Jangan bilang mending enak hidup pas-pasan ya, karena kita sama-sama tahu, nggak selalu enak. Haha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^