24 Nov 2018

Agar Tidak Ada Lagi Ikan Paus Mati Karena Sampah Plastik di Wakatobi, Kita Bisa Melakukan Beberapa Hal Ini





Agar Tidak Ada Lagi Ikan Paus Mati Karena Sampah Plastik di Wakatobi, Kita Bisa Melakukan Beberapa Hal Ini - Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita mengenai ikan paus yang terdampar di perairan Wakatobi. Tubuh hewan laut tersebut membusuk dan ditemukan banyak sekali sampah plastik dalam perutnya. 

          Pada musim penghujan ini, pastinya nanti akan ada berita sungai meluap, banjir, dsb. Tentunya, hal tersebut juga dipengaruhi oleh ulah tangan kita sendiri, yang membuang sampah ke sungai – dan entah kenapa orang suka sekali melakukan hal ini. Padahal, kita tahu sampah-sampah plastik itu akan berakhir di laut dan sebelum itu, ia akan menghambat aliran sungai.

           Anehnya, ketika sudah banjir, sungai meluap, kita  menyalahkan kinerja pemerintah. Bertanya, “Pemerintah kerjaannya ngapain aja, sih?”sedangkan, bukan pemerintah yang membuang sampah di sungai. Tapi, kita.

           Tak usah berkata, “Orang lain juga sama, kok. Membuang sampah-sampah ke sungai.”Kalau pemikirannya terus menerus begitu, kita tidak akan pernah bisa mengubah apa pun. Sama halnya seperti mendukung gerakan buang sampah di sungai. Harusnya, ketika sungai meluap, banjir dan polusi di laut sehingga membuat ikan-ikan mati, kita malu dan takut. Karena kita ini penyebabnya. 


          Saya pernah menyinggung soal sampah plastik dari air gelas mineral pada artikel ini. Mengenai bagaimana mensiasati pengurangan gelas plastik, agar tidak menambah sampah. Bu Risma sendiri, membuat bus sampah yang bertujuan untuk mengurangi sampah botol air mineral. Sayangnya, saya sendiri pun belum benar-benar bisa terlepas dari hal ini, itulah kenapa sejak tadi saya berkata “kita” bukan kamu. 

       Teman saya, Dwi, sebagai admin salah satu akun kuliner di Mojokerto, sudah mulai membiasakan diri hidup tanpa plastik. Bahkan dia juga mulai mengajak vendor-vendor yang dikenalnya untuk tidak menggunakan plastik untuk pembungkus makanan mereka. 

        Membaca berita mengenai ikan paus yang terdampar di pantai beberapa hari lalu dan ditemukannya banyak sampah plastik dalam perutnya, membuat hati ini teriris-iris. Saya kah salah satu pelakunya? Hal ini, membuat saya ingin menerapkan aturan pada diri sendiri untuk tidak menggunakan banyak bahan plastik. 

           Kemudian, saya teringat, saya suka kirim-kirim barang pakai kemasan plastik *hiks. Dan kebutuhan akan plastik lain yang sangat urgent bagi perempuan adalah pembalut. 

            Memang, kantong plastik, pembungkus, kita butuh. Karena dengan berbahan plastik, lebih aman dari air dan lebih kuat. Kalaupun kita tak bisa menghindari hal satu ini, atau belum menemukan solusi yang tepat, kita bisa melakukan hal-hal sederhana di bawah ini untuk mengurangi penggunaan plastik.

Cara Sederhana Untuk Mengurangi Penggunaan Plastik


1 | Membawa Botol Minuman Sendiri

            Pada beberapa kesempatan, saya membawa botol air minum sendiri. Selain untuk menghemat air minum, pun saya bisa berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik. Sayangnya, saya sering lupa menerapkan hal ini ketika mendatangi event. Sayangnya lagi, tidak semua orang mau melakukan hal ini, demi nama sebuah kepraktisan. Tahu sendiri, bahwa di mana-mana sebuah event akan menyediakan air minum dan seringnya berupa botol plastik atau gelas plastik.

          Selain membawa botol minuman sendiri, ketika membeli makanan lebih baik dimakan di tempat atau membawa kotak bekal sendiri. Kecuali, ibu pemilik warung menggunakan daun untuk membungkusnya, hehe.

2 | Ketika Berbelanja Membawa Kantong Belanja Sendiri

              Ketika ke mini market atau belanja ke pasar, usahakan membawa kantong belanjaan sendiri. Mintalah pada penjual sayur di pasar untuk tidak memakai banyak plastik dan masukkan ke kantong belanjaan sendiri. Kalau beli ikan bagaimana? Bawa kotak makanan sendiri. Masukkan ke dalam situ, lebih praktis juga. 

3 | Tidak Menggunakan Sedotan dan Sendok Plastik

            Teman saya, Dwi, ketika membeli minuman tidak meminta sedotan. Dalam kasus ini, dia masih bisa menerapkan pada warung-warung. Karena dia sendiri belum mempunyai sedotan stainless steel, untuk menggantikan sedotan yang ada. Tapi, kita bisa menerapkan hal serupa pada keseharian, lebih mudah lagi kalau membawa botol minuman sendiri atau membawa alat makan sendiri. Tidak berat kok. 

4 | Kurangi Menggunakan Bahan Plastik Untuk Perayaan

            Memakai balon, huruf-huruf dari plastik, memang membuat sebuah perayaan meriah. Seperti perayaan ulang tahun atau pada event-event tertentu. Padahal, selain menjadi sampah, balon-balon yang diterbangkan itu akan berakhir di laut. Ada berita yang memilukan dari akibat menerbangkan banyak balon.

            Sayangnya, kita tak sepenuhnya menyadari hal ini. Pada kesempatan kemarin, saya ingin menjadi relawan fotografer lagi, kemudian saya mengundurkan diri. Saya tidak sesuai dengan panitia yang mengadakan acara ini. Mereka tidak merundingkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan ini, tahu-tahu kita diminta iuran sekian. Ditambah lagi, banyak balon yang digunakan untuk anak-anak.

           Sedih rasanya, ingin memberikan contoh, kita sendiri memberikan contoh yang buruk. Memang seru, bermain dengan balon, tetapi pada akhirnya balon-balon tersebut menjadi sampah yang sulit terurai. 

              Lalu, kenapa saya tidak protes saja? Saya males berdebat, haha. Masalah iuran yang tiba-tiba ditagih saja, mereka sudah teramat kesal dengan saya, apalagi soal balon-balon sudah kebeli juga. Haha.

5 | Buang Sampah Pada Tempatnya ~ begitu pula dengan mantan #eh
             
               Seperti yang saya ungkapkan tadi, sampah-sampah yang tidak terbuang dengan baik, dan kita buang di sungai akan berakhir di laut. Selain akan memberikan dampak buruk pada lingkungan, banjir pun akan memberikan dampak buruk pada hewan-hewan di laut. Contohnya, ya paus yang terdampar di Wakatobi tadi. Dan seperti foto-foto di bawah ini;





 

            Memang, tidak sepenuhnya kita bisa meninggalkan benda-benda yang terbuat dari plastik. Tapi, kalau kita bisa menerapkan dari hal-hal kecil, tentunya nanti akan memberikan dampak yang cukup besar. Seperti membuang sampah pada tempatnya, membereskan makanan sendiri ketika makan di luar, dan tidak mencintai laki-laki yang sudah beristri ~ eh. 

               Intinya, dari kesadaran diri sendiri. Demi anak-anak kelak yang bisa menikmati bumi tanpa banjir dan tanpa drama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^