28 Okt 2018

8 Kali Bisnis Online Shop, Mulai Stok Barang sampai Menjadi Reseller Dropship

 

8 Kali Bisnis Online Shop, Mulai Stok Barang sampai Menjadi Reseller Dropship. Dan Semua Gagal - Menjalani usaha online shop memang banyak menyenangkannya dan banyak-banyak pula sengsaranya, seperti halnya berjualan di toko. Tak jauh berbeda, bedanya hanya pada menghadapi customer via online dan offline saja. Saya sering menuliskan, kalau saya merupakan pelaku penjual dan pembeli online shop di blog ini. Kamu penasaran nggak sih, saya berjualan apa ketika menjadi penjual online shop? Nggak ya? Hem. Saya akan tetap menceritakannya, di postingan ini. Hehe.

Buat informasi awal saja, bahwa saya sudah mulai mengenal dan menjalani berjualan online sejak masa-masa kuliah. Sejak sebelum, online shop menjamur seperti saat ini. Tokopedia, Bukalapak, Lazada, dll, tak seterkenal sekarang. :)


Ah iya, 8 dari 9 usaha berjualan online saya gagal. Terus, yang satunya sukses? Hem, belum tahu, Sis. :)


Masih mau baca? Hayuk!


Berjualan Kain Flanel


Saya pernah menuliskan mengenai kerajinan flanel ini di blog, kamu bisa membacanya di pada link tautan di bawah ini ya. Yah, maafkan apabila tulisannya tidak jelas arahnya ke mana dan lebih receh dari tulisan saya saat ini. Atau yang lebih parah, tulisannya terlalu banyak typo. Sungguh, maafkan.
Oke, kembali ke bisnis online shop ya.

Jadi, waktu itu saya lagi suka-sukanya belajar membuat kerajinan dari kain flanel, saya belajar dari internet. Saya lupa dari mana saya kenal kain flanel, sungguh sudah lupa. Terlalu usang memang cerita ini, hehe. 

Saya mencari kain flanel ke tukang jahit dekat rumah, tidak nemu. Saya pun ke pasar, ke toko-toko kain, juga tidak nemu. Sampai akhirnya, saya menemukan di salah satu toko yang menjual beberapa peralatan kerajinan. Tentunya, saya senang sekali! Siang malam saya belajar membuat kerajinan, seperti gantungan kunci cake, bros, dll. Sampai akhirnya, saya menjual hasil karya saya yang sama sekali tidak layak jual, tetapi laku. Haha.

Bagaimana perasaan saya ketika gantungan kunci saya laku? Tentu saja, saya sangat bahagia! Penghasilan dari jualan membuat uang saku saya bertambah, duit jajan saya bertambah. 

Sampai akhirnya, saya mempengaruhi teman-teman kuliah saya untuk berjualan kerajinan kain flanel juga. Kami menamakan toko kami, D’Bfrend Shop.

baca juga Kreasi Flanel

Berjualan Kerajinan Kain Flanel Bersama Teman Kampus


D’Bfrend Shop saya kelolah bersama teman-teman satu kelas di kampus. Tidak semua, hanya beberapa teman perempuan saja. Sekitar ada 9 orang waktu itu, hehe. Kami patungan 20ribu, untuk membeli perlengkapan membuat kerajinan flanel. Saya dan beberapa teman berbelanja ke salah satu pasar grosir di Surabaya. 

Setiap hari tertentu, pada saat mata kuliah hanya satu atau dua, sorenya kami berkumpul di kosan saya, membuat kerajinan tangan tersebut. Kami menjualnya secara online. Sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama, karena banyak teman kami yang tidak konsisten atau sekadarnya saja ketika bekerja. 

Berjualan kerajinan kain flanel, membuat kami punya pengalaman berjualan di TP pagi lho. Tahu TP pagi? Itu loh, Tugu Pahlawan pada hari Minggu pagi, hehe. 

Pagi-pagi sekali kami ke sana, membawa tikar kecil, dengan membawa barang-barang jualan kami. Tentu saja, kami berniat berjualan di sana. Bahkan, kami sudah menyiapkan selebaran yang kami print di kertas HVS, hehe. Kami berputar beberapa kali, tiap kali kami hendak menepati tempat, selalu ada yang punya. Sampai akhirnya, kami mendapatkan sedikit lahan untuk menggelar jualan kami, kebetulan yang punya tidak jualan hari itu.

Kami pun berjualan kreasi kain flanel kami. :D


Seingat saya, ada 5 orang yang ikut berjualan di TP pagi, saya dan Dina (salah satu teman saya) bagian berkeliling Tugu Pahlawan, menyebarkan selebaran dari kain HVS. Ada beberapa yang membuangnya, ada yang memakainya untuk tutup kepala.  Sakit tahu lihat kayak gitu.
 
Saya dan Dina berkeliling beberapa kali, tetapi tetap belum ada yang membeli dagangan kami. Beberapa hanya berhenti, bertanya, kemudian pergi. Sampai akhirnya, ada seseorang yang datang membeli produk kami. Dia membeli beberapa produk, kemudian hal lucu terjadi. 


“Nggak ada kantong plastik?”

Ah, iya! Kami tidak menyiapkan kantong plastik. Haha. 

Meskipun begitu, bapak itu tetap membeli produk kami dan tersenyum. Terima kasih ya, Pak!




Dan kami pun lelah, memilih merapikan kembali barang jualan kami dan menggulung tikar. Kami berbaur bersama orang-orang di Tugu Pahlawan. Kami
membeli nasi pecel, jajan, dan berfoto. Yeah!
Lalu bagaimana nasib D’Bfrend Shop? Tokonya tutup, persahabatan kami tetap utuh.


Peringatan! Postingan ini masih panjang. Sediakan camilan dan secangkir teh manis.


Berjualan Tas OPI


Gagal dalam berjualan kerajinan flanel, saya pun berusaha mencari usaha lain. Bermodal uang beberapa ratus ribu, saya mencoba untuk stok barang berupa tas. Saya menemukannya di internet, tentu saja. Namanya tas OPI Bandung. Desainnya lucu-lucu dan saya yakin banyak yang akan menyukainya.

Sebenarnya sih, sebenarnya nih, saya melihat salah satu online shop yang berjualan tas bahu (bahasa kerennya tote bag) dari kain yang laris banget. Sekali upload di facebook, komentar berjibun. Makanya, saya mencari informasi mengenai tas bahu juga, tentunya dengan desain yang lebih unik dan bagus, dan saya menemukan tas OPI Bandung :)

Kalau tidak salah ingat, saya membeli satu lusin waktu itu, tentunya dengan berbagai macam model yang unyu serta kekinian (saat itu). Dan memang, ketika tas OPI Bandung saya datang, tasnya cakep-cakep, rasanya ingin saya kekepin sendiri deh. 

Tentunya, desain yang unik-unik, paling unyu dan paling bagus laku terlebih dahulu. Saya menjualnya di beberapa teman kampus, teman SMP, dan di facebook. Sayangnya, tidak semua tas yang saya beli terjual. Akhirnya, saya berhenti tidak membeli lagi tas OPI Bandung. 

Saya berhenti berjualan? Tidaklah. Kan saya sudah sebutkan di atas, 8 dari 9 usaha online shop saya gagal. Ini baru yang ke-3. Sudah saya bilang, masih panjang. Hehe. 

Berjualan Dompet Tanggulangin


Di Sidoarjo ada pusat penjualan tas dan dompet, namanya pasar Tanggulangin. Nah, setelah nggak restock tas OPI Bandung, saya dan teman saya membeli dompet di Tanggulangin. Waktu itu sedang booming dompe HPO. Kami pun naik motor ke Sidoarjo, tepatnya ke Tanggulangin untuk membeli dompet. Tentu saja, untuk dijual kembali.

Kebanyakan dompet yang kami beli adalah dompet wanita, yah, karena memang sasaran pasar kami perempuan. Kami menjualnya via facebook,seperti sebelum-sebelumnya. Beberapa ada yang laku dan ada beberapa yang tidak terjual, sampai akhirnya kami pakai sendiri. Sama halnya seperti tas OPI Bandung, usaha kami mandek. :D

Berjualan Kerudung


Setelah berjualan kerajinan flanel, berjualan tas, saya masih belum kapok untuk mencoba peruntungan dari bisnis online shop ini. Saya pun mulai mencoba berjuala kerudung paris bersama teman SMA saya. Kebetulan, dia juga berkuliah di kampus yang sama dengan saya, hanya berbeda jurusan saja. Kami belanja kerudung paris di Darmo Trade Center atau biasa disebut dengan DTC. Kami membeli satu lusin, dengan warna berbeda-beda.

Kerudung tersebut tidak kami jual polosan, melainkan kami hias dengan manik-manik, sehingga harganya jauh lebih mahal daripada harga beli. Sayangnya, ternyata tak banyak orang yang suka kerudung dengan manik-manik, karena terkesan “ndeso”. Saya dan teman saya pun tidak melanjutkan usaha ini.

Reseller Kaos Couple


Sebelum-sebelumnya, saya menjual barang-barang yang saya stok sendiri dan menjual bersama teman. Kali ini, saya sudah menemukan hal yang sebelumnya tidak saya ketahui, bahwa saya bisa berjualan meskipun tak memiliki stok barang sendiri. Istilahnya, menjadi reseller

Apa itu reseller? Saya sudah pernah menjelaskannya di blog ini juga, mengenai apa itu reseller dan dropship. Baiklah, buat kamu yang belum paham apa itu reseller dan dropship silakan baca-baca artikel saya dahulu.

Sedikit gambaran, reseller merupakan penjual yang menjual bukan dari produknya sendiri dan dropshipper penjual tidak perlu packing atau mengirimkan barang. Sehingga, apa yang saya lakukan hanyalah mempromosikan kaos couple dari salah satu pemasok, di media sosial, dengan harga yang sudah saya naikkan. Nah, nantinya pemasok akan mengirim kaus couple tersebut atas nama toko online saya.  Ada gambaran?


Saya menjual kaus couple di facebook dengan terus menerus update stok yang sebenarnya barangnya pun saya tidak tahu seperti apa. Waktu itu, cukup lumayan peminat dari kaus couple yang saya jual, meskipun kebanyakan juga hanya tanya-tanya saja, tanpa membeli. 

Saya akhirnya menyerah juga dengan usaha jualan online kaus couple ini. Banyak alasan yang mendasarinya, yaitu ketersediaan stok pada pusat yang terkadang ada, kadang tidak. Saya harus cek berkali-kali untuk hal ini. Saya pun pernah mendapatkan kejadian buruk ketika berjualan kaus couple ini, karena kesalahpahaman saya sampai dikatain anjing oleh salah satu customer. Hoho.

baca juga Saya Pernah Dikatain Anjing!

Pada sela-sela berjualan kaus couple, saya juga mencari informasi lain mengenai reseller. Masih berkutat pada sekitar kaus, saya mencoba menjadi reseller kaus ngampus. Saya pun bertanya kepada salah satu seller kaus ngampus mengenai reseller ini. Sayangnya, saat itu Kaus Ngampus hanya menerima reseller setiap kampus hanya satu reseller. Okelah, saya pun mencari seller lain. Eh, saya diterima. Lalu, saya mulai berjualan di facebook. Apa yang terjadi? Seller pertama yang menolak saya, menuduh saya mengambil foto-foto dia, padahal tidak. Ramailah di facebook, hehe.

Owner Cywol Store :)


Usai berhenti berjualan kaus couple saya mencari informasi lain lagi. Yah, tentu saja saya masih mencari produk yang bisa menerima reseller dan dropship. Dan yang jelas, saya juga mencari yang bisa menerima reseller tanpa modal.

Dari kebiasaan saya membeli produk secara online, saya mengenal Mbak Intan, kalau kalian searching Intan Nurimani sekarang seorang pembisnis Moment. Namun, ketika itu, beliau belum bergabung dengan Moment, sehingga bisnis yang saya geluti juga bukan MLM. Hehe.

Mbak Intan menjual lulur putih tradisional, pemutih wajah ADC, masker bengkoang, dll. Nah, saya menjual produk-produk tersebut. Bermodalkan BBM, akun media sosial dan testimoni dari pelanggan Mbak Intan, saya pun mulai berjualan. Memang awal-awalnya sulit, namun lama kelamaan saya terbiasa dan mulai mendapatkan pelanggan. Bahkan, hampir setiap hari ada saja orderan yang masuk. Alhamdulillah.

Saya pun mulai memasang iklan di fanpage seseorang, dengan mengeluarkan uang limabelas ribu sekali posting. Namun, dampaknya sungguh luar biasa, karena setelah iklan saya muncul banyak sekali pin BBM yang minta dikonfirmasi, hehe. Jualan saya pun semakin lancar dan laris.

Apakah bertahan lama? Hem, saat itu sudah akhir masa kuliah, saya disibukkan dengan skripsi dan hal-hal kuliah lainnya. Sampai akhirnya, toko online saya tidak terurus. Dan, saya pun berhenti total tidak berjualan lagi sampai lulus kuliah.

Menjual Jam Tangan


Setelah tidak berjualan cukup lama, masa-masa mencari kerja yang tak kunjung diterima. Saya pun mencoba peruntungan kembali di masa pengangguran tersebut. Mahasiswa sudah bukan, pekerja apalagi. Saya pun berjualan jam tangan vintage, namun tidak bertahan lama karena ya, tidak sesuai juga. Akhirnya, bisnis ini juga berakhir.

Menjual Properti Foto


Sibuk dengan dunia blogger dan menjadi pekerja lepas, saya tidak pernah kepikiran untuk berjualan kembali. Namun, setelah melihat saya suka sekali membeli properti foto untuk kegiatan memotret saya, akhirnya saya meluangkan sedikit gaji dari nulis untuk berbelanja properti foto. Ya, saya berjualan properti foto yang saya beri nama di IG @kreasietro.Toko online saya saat ini baru berjalan satu bulan dan Alhamdulillah, lumayan lancar.

Yah, saya tidak berharap banyak dari berjualan properti foto ini, namun saya senang karena sesuai dengan hobi saya memotret still life photography.


1 komentar:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^